Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
88


__ADS_3

Pulang dari rumah sakit Tama membelokkan mobilnya ke supermarket. Ia sengaja mampir untuk membeli susu hamil.


Nara mengernyit begitu Tama mematikan mesin mobilnya.


"Mas mau beli sesuatu?" Nara menoleh ke samping kanan dimana Tama tengah melepaskan seatbelt.


"Mau beli susu hamil sayang"


"Susu hamil?"


"Hmm, kamu pengin makan apa? nanti mas beli sekalian"


"Aku nggak pengin apa-apa, aku mau cepat-cepat sampai rumah terus di pijat-pijat sama mas, di manjain juga"


"Ok, mas cuma sebentar setelah itu kita cepat-cepat pulang"


Nara mengangguk lengkap dengan bibir terulas senyum.


"Kamu tunggu di sini"


"Iya hati-hati"


"Hmm" Tama membuka pintu mobil, lalu segera keluar dan melangkah memasuki area supermarket.


Pria itu tengah bingung memilah-milah merk susu paling terbaik untuk sang istri.


"Mas mas" Tama memanggil salah satu karyawan minimarket.


"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Susu hamil yang paling bagus yang mana ya?"


"Wah maaf pak, saya kurang tahu. Saya belum punya istri soalnya"


"Kalau gitu, di antara susu ini, mana yang paling laku?"


"Setahu saya si yang paling laku yang ini pak"


Merasa kurang puas dengan jawaban karyawan minimarket, Tama menelfon Aksa untuk menanyakan susu yang paling bagus untuk ibu hamil.


"Iya Tam, ada apa?"


"Aksa, susu hamil yang bagus menurutmu merk apa?"


"Kamu mau beli susu hamil? apa Nara sedang hamil?"


"Iya Sa"


"Wah selamat ya Tama, senang dengarnya"


"Terimakasih, tapi cepat beritahu susu paling bagus yang mana?"


"Semua bagus, tapi aku kasih rekomendasi susu terbaik menurutku"


"Iya ayo cepat"


"Firstlove mom, susu itu menurutku bagus, Anita, Sasa, dan Nara juga minum itu saat hamil dulu"


"Oh ya, kamu tahu kalau Nara juga minum susu itu?"


"Ya karena dulu Nara tanya-tanya ke Sasa dan memang recomended sekali"


"Ok, makasih Sa, aku tutup dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Hampir setengah jam Nara menunggu Tama di dalam mobil. Pria itu cukup memakan banyak waktu cuma untuk membeli satu kotak susu.


Merasa bosan, Nara berkali-kali melirik ke arah supermarket. Namun sang suami tak kunjung muncul keluar dari dalam sana.


"Mas Tama ngapain si, cuma ambil satu kotak susu saja hampir setengah jam" Nara melirik ke arah kasir yang tampak dari luar.


"Kasirnya juga nggak antri, tapi kenapa lama-lama?" gerutunya sedikit menahan kesal.


Mendengkus pelan, wanita itu mendaratkan siku di bagian pintu sementara tangannya menopang kepalanya.


Selang tiga menit, Tama keluar dengan membawa satu kantong besar susu hamil dengan berbagai varian rasa.


"Mas beli sebanyak ini?" tanya Nara saat dia sudah kembali duduk di kursi kemudi.


"Kenapa? mas beli banyak rasa buat kamu"

__ADS_1


"Ini berlebihan mas"


"Nggak ada yang berlebihan for my lovely wife"


Nara menggelengkan kepala.


"Sudah jangan banyak protes, kamu hanya perlu menghabiskannya saja. Nanti mas yang akan menyeduhnya setiap pagi dan malam sebelum tidur.


"Ya udah ayo pulang cepetan"


"Iya sayang" sahut Tama sambil menyalakan mesin mobil.


****


"Mommy" Amara memanggil sang mommy yang melintasi ruang tamu menuju ke ruang makan. Mereka sudah tiba di rumah setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan.


"Mommy Amui kangen mommy" serunya lagi ketika mereka sudah saling berpelukan.


"Mommy juga kangen sama Amui" Nara mengecupi pipi Amara setelah Amara mencium punggung tangannya.


"Oma opa kemana?"


"Opa lagi bantu oma mandi, Amui di bantu mbak Neneng makan buah"


Nara tak memperhatikan sekitar, ia sibuk mengecupi pipi Amara dengan gemas.


"Nggak kangen sama daddy?" Tanya Tama sambil meletakan barang belanjaan ke atas meja makan.


"Daddy bawa apa?"


"Daddy bawa susu buat mommy"


"Mommy minum susu juga?"


"Iya sayang, biar mommy sehat dan kuat"


"Daddy sama mommy ganti baju sekarang" perintah Amara yang membuat Nara dan Tama mengerutkan dahi.


"Kenapa sayang?" Tama tampak mengamati wajah Amara.


"Amui mau cepat-cepat main sama daddy sama mommy?"


"Oke deh, daddy sama mommy sekalian mandi ya"


Usai Tama membersihkan diri, giliran Nara memasuki kamar mandi.


Selagi Nara mandi, Tama berniat turun dan membawa Amara ke kamar, dia akan memberitahukan tentang kehamilan sang istri pada putrinya.


Saat Nara selesai membersihkan diri, dia mendapati Tama yang sedang bercengkrama di atas ranjang bersama Amara.


"Mommy sini aja" ucap Amara begitu melihat Nara hendak keluar dari dalam kamar. "Kata daddy mommy nggak usah bantu bik Jum dan mbak Neneng masak"


Nara mengerutkan kening lalu mengalihkan pandangan ke arah pria yang duduk bersandar pada headboard sambil memainkan ponselnya.


"Kalau mommy nggak bantu, kasihan nanti bik Jum sama mbak Neneng kewalahan, dan selesainya pasti akan lebih lama. Kan omanya harus minum obat tepat waktu" pungkas Nara.


"Daddy sudah pesan makannan, iya kan dad?"


Amara menatap Tama yang menganggukkan kepala tanpa mengangkat pandangannya dari layar ponsel.


Henin, mereka sama-sama tidak bersuara. Beberapa menit kemudian, Amara kembali berkata.


"Mommy, bu Esti tadi ngajar di kelas Amui" ucapan Amara membuat Nara langsung menghentikan gerakannya melipat selimut lalu melirik sang putri yang tengah asik menyusun puzzle.


"Bu Esti ngajar di sekolah Amui?" tanya Nara heran. "Sejak kapan?"


"Sudah dua kali kamis mom?"


Nara terdiam menatap Tama yang tampak acuh dan santai. Seakan tak terganggu dengan topik pembicaraan mengenai bu Esti, mantan guru privat Amara.


"Mas tahu bu Esti ngajar di sekolah Amui?"


Pria itu mengangguk dengan pandangan masih fokus ke layar ponsel.


"Kenapa mom?" Amara menatap Nara penuh selidik.


Mendengar pertanyaan Amara, reflek Nara menoleh ke arah Amara yang tengah menatapnya dengan raut serius.


"Nggak kenapa-kenapa sayang"


"Memangnya kenapa kalau Esti ngajar di sekolah Amara" Tanya Tama.

__ADS_1


Otomatis Nara kembali mencari netra suaminya.


"Mas, ini bu guru yang suka lirik-lirik mas loh. Mas nggak khawatir?"


"Khawatir kenapa?" tanya Tama santai.


Nara membuang napas panjang. "Mulai besok, aku yang antar Amui sampai ke gerbang sekolah"


Mendengar ucapan Nara, Tama baru mengarahkan perhatian pada istrinya.


"Sudah ku bilang kan, jangan merasa insecure. Lebih baik sekarang kamu fokus sama kehamilanmu" katanya sembari meletakkan ponsel ke atas nakas. "Jangan berfikir yang tidak-tidak apalagi cemburu sama bu gurunya Amara, dia sama sekali bukan tipe mas, mas sama sekali tidak tertarik padanya. Lagi pula mas tidak pernah ingin mengkhianati kamu" lanjut Tama tanpa jeda.


"Daddy lagi marah-marah ke mommy ya?" sela Amara tiba-tiba. Tangan mungilnya tahu-tahu melingkar di pinggang Nara sementara Tama mengangkat satu alisnya.


"Amui nggak suka daddy marahin mommy"


"Daddy nggak marahin mommy Ra" Nara mengusap lembut puncak kepala Amara. "Kenapa Amui bilang daddy marahin mommy?"


"Daddynya ngomongnya panjang-panjang, mukanya juga galak"


"Daddy nggak marahin mommy kok, daddy cuma ngasih tahu mommy supaya jangan takut" sergah Tama cepat.


"Memangnya mommy takut kenapa?"


"Bukan apa-apa sayang" Nara mengelak.


Hening, Tatapan Amara begitu mengintimidasi.


"Mom"


"Iya sayang?"


"Leher mommy kenapa merah-merah?"


Pertanyaan Amara, membuat Nara reflek menelan salivanya. Dia melihat ke arah sang suami yang kembali mengangkat satu alisnya.


"Amui, daddy sama mommy mau ngomong sama Amui" ucap Tama berusaha keluar dari topik tentang leher sang istri yang mendapat sesapan maut darinya saat menuntaskan dahaga.


"Mau ngomong apa?" tanya Amara polos.


"Daddy sama mommy mau punya bayi kembar"


Spontan Nara mendelik ke arah Tama. Bagi Nara pria itu begitu frontal saat mengatakan itu.


"Amui mau punya adek bayi, dan adek bayinya langsung dua sayang"


"Dedek bayinya dua?"


"Iya nak, kembar"


"Beneran mom?" Tatapan Amara lekat menatap Nara.


Ragu-ragu Nara mengangguk, takut jika Amara belum bisa menerima kehamilannya.


Detik berganti detik, hingga beberapa detik, Amara bersorak.


"Yeaaayyy!!! Amui mau punya adek kembar" Seru Amara kegirangan. "Sebentar lagi Amui ada teman main"


Nara menghela napas lega seraya menatap Tama dengan sorot tak percaya. Tak percaya jika reaksi Amara akan segirang dan sebahagia ini. Hingga kemudian percakapan mereka di interupsi oleh suara ketukan pintu.


"Masuk" kata Tama sedikit keras.


"Pak, pesanan sudah datang dan total semuanya tiga ratus tujuh puluh ribu" ucap Neneng ketika pintu sudah terbuka.


Tama mengangguk. "Ara, tolong ambilkan dompet daddy di atas meja sana" Tama menunjuk meja kerjanya yang tidak jauh dari tempat tidur.


"Iya daddy"


Selang delapan detik, Amara kembali dengan dompet yang ia bawa di tangan kirinya.


"Ini dad"


"Makasih nak"


"Sama-sama daddy"


"Tolong berikan ke mereka ya Neng" kata Tama lalu menyerahkan empat lembar uang seratus ribuan.


"Baik pak"____


"Pesanan kita sudah datang, ayo turun" Mereka bertiga lalu keluar kamar. Tama menggendong tubuh Amara di balik punggungnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2