Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
75


__ADS_3

Dengan langkah penuh emosi, darah yang mendidih, serta jantung yang berdegup sangat kencang, Tama berusaha mengendalikan diri agar bisa mengumpulkan kesabaran sebanyak-banyaknya.


Amarah yang sudah berada di level tertinggi, benar-benar ingin sekali ia luapkan kepada ayah bundanya. Orang yang sudah memisahkannya dengan anak dan istrinya, ternyata adalah orang tuanya sendiri.


Saking emosinya, dia bahkan melupakan Nara yang kemungkinan pesawatnya akan mendarat sebentar lagi.


"Daddy!"


Panggilan Amara, membuat Tama menghentikan langkahnya sekaligus mampu mengurangi gelegak emosi yang tengah menguasai dirinya. Pria dengan tubuh proporsional itu menoleh ke arah tangga dimana Amara sedang menuruni anak tangga satu persatu.


"Ara" Lirihnya tanpa mengerjap.


"Ara mau susu" Katanya dengan suara parau.


"Minta tolong bik Jum ya nak"


"Mau daddy yang buatkan"


Mau tidak mau, Tamapun mengurungkan niat pergi ke kamar orang tuanya. Ia kembali ke dapur sambil menggandeng tangan sang putri.


Saat tengah mengaduk susu, terdengar suara Idris menyapa Amara.


"Eh, cucu kakek sudah bangun"


Manik hitam Tama bergerak memindai wajah Idris.


"Dari matanya, sepertinya amui masih ngantuk-ngantuk, tapi kenapa bangun?"


"Ara mau susu opa?"


"Oh, mau susu"


"Bik Jum, tolong bawa Ara ke atas ya" pinta Tama seraya menyodorkan gelas berisi susu ke tangan ARTnya.


"Baik pak"


"Ara naik ke atas, daddy mau bicara sama opa?" kata Tama dingin.


"Orang dewasa kalau bicara suka lama-lama ya dad?"


"Iya sayang, anak kecil nggak boleh ikut mendengarkan pembicaraan orang dewasa"


Amara menurut patuh, ia menerima genggaman tangan bik Jum lalu berjalan menuju kamar.


Tama dan Idris menatap kepergian Amara dan bik Jum.


"Yah, aku mau bicara" kata Tama tanpa ekspresi. "Dengan bunda juga" lanjutnya datar.


"Bicara apa Tam?"


"Kita bicara di kamar ayah saja" Tanpa menunggu persetujuan Idris, Tama langsung melangkahkan kaki meninggalkan Idris yang tampak menyorot bingung.


Dengan cepat Idris mengekor di belakang Tama. Di tengah-tengah langkahnya menuju kamar, tiba-tiba Idris merasakan kecemasan di luar batas. Perasaan yang sangat tidak nyaman mendadak singgah dalam hatinya. Apalagi jika teringat bahwa dirinya sedang kehilangan benda yang menyimpan rahasia istrinya.


Tama duduk di sofa, Idris duduk di kursi rias yang ia geser menghadap Tama, sementara Rania duduk di kursi roda dengan perasaan was-was.


"Ada apa nak?" tanya Rania dengan hati berdebar.


Alih-alih menjawab, Tama malah mengeluarkan benda kecil dari dalam saku celana.


"Apa ini milik bunda?" Tama meletakan flashdisk itu di atas meja. "Aku menemukannya di sini, di kamar ayah dan bunda"


Persekian detik Idris serta Rania kompak mengalihkan netranya ke arah flasdish. Reflek keduanya menelan ludah dengan setengah mati.


"T-Tama, ayah bisa jelaskan"


"Apa yang akan kalian jelaskan?" pekik Tama dengan suara lantang. "Kejahatan apa yang Nara lakukan pada ayah dan bunda sampai kalian memfitnah Nara?" wajahnya kian memanas menahan detak jantung yang seakan terus menggila.


"Tenang dulu nak, ayah akan jelaskan?"


"Menjelaskan tentang perbuatan kalian yang sudah terlampau kejam?" Tama tak bisa lagi menahan air mata yang menggenang. Namun sebisa mungkin ia tahan agar bulir itu tak kian berjatuhan.


"Ayah" Pandangan Tama menatap dalam bola mata Idris. "Bagaimana bisa ayah menjadi sekejam ini?, apa kesalahan istriku padamu yah?"


"Ayah minta maaf nak"


"Semudah itu minta maaf? sebelum melakukan hal kotor itu, apa ayah memikirkan dampaknya?" bentak Tama dengan intonasi tinggi.

__ADS_1


"Bukan ayah yang melakukan itu nak, bunda yang sudah melakukannya?"


Sepasang mata Tama yang tadinya menatap Idris, kini beralih ke Rania yang tengah menunduk sambil meremat jemarinya yang saling bertaut.


Tersenyum miring, Tama sama sekali tak terkejut dengan ucapan bundanya. Ia sudah menduga jika Ranialah yang sudah memfitnah Nara.


"Jadi ayah menutupi kebusukan bunda?" tanya Tama lirih.


"Maaf nak, ayah hanya ingin melindungi bunda"


"Tapi sikap ayah membuatku berdosa pada istriku yah" potong Tama cepat. "Asal ayah tahu, semenjak menikah ulang kemarin, aku bahkan belum menyentuh Nara karena teringat video itu yah"


Rania mendongak begitu mendengar ucapan Tama.


"Aku tidak bisa tinggal di sini yah, bun. Aku tidak akan pernah memberikan bunda kesempatan untuk menyakiti Nara lagi"


Tama berdiri lalu bergegas keluar. Ia berlari menaiki tangga menuju kamarnya.


"Tam, jangan seperti ini nak, ayah minta maaf atas nama bunda" Idris yang berlari menyusul Tama, berusaha mencegah Tama yang tengah mengemasi baju-bajunya beserta baju Nara dan Amara ke dalam koper.


"Maaf yah, stok sabarku sudah habis"


"Bunda sudah berubah Tama, dia menjadi lebih baik sekarang"


"Lebih baik apanya yah?, jelas-jelas bunda masih belum menyukai istriku, dia juga selalu memandangnya sinis"


"Ayah bisa jamin kalau bunda benar-benar sudah berubah Tama"


"Tapi maaf, aku sudah tidak bisa mempercayai bunda, Sudah cukup bunda membuat hidupku, hidup Nara dan Amara menderita"


Selasai mengemasi pakaiannya, Tama kembali turun dengan membawa satu koper besar. Satu persatu ia akan menurunkan kopernya yang berjumlah tiga buah. Setelahnya, dia akan membawa Amara untuk tinggal di rumah Ramdan sementara waktu.


"Tama, dengarkan ayah nak?" Idris mengekor di belakang Tama menuruni anak tangga, dan kembali ikut naik.


Bik Jum yang menyaksikannya tampak heran sekaligus bingung.


Tepat ketika menurunkan koper ke dua, Nara tiba-tiba muncul dari arah pintu utama. Ia mendapati sang suami yang tengah membawa koper di anak tangga terakhir.


"Mas" Ucap Nara bingung. Namun Tama tak mengindahi panggilannya.


"Ini ada apa yah?"


Karena terlalu lama menunggu di bandara, Nara pun memutuskan untuk pulang menaiki taxi. Ia berfikir jika Tama terlambat bangun sebab harus menemani Amara yang tidur sangat larut. Perasaan senang karena sang mommy akan kembali keesokan harinya, gadis kecil itu merasa kesulitan memejamkan mata. Ia seperti tidak sabar menanti kepulangan mommynya.


"Ayah akan jelaskan, tapi tolong tenangkan dulu suamimu"


Nara langsung menyusul Tama ke kamar.


Mereka berpapasan di ambang pintu.


"Mas ada apa? kenapa ingin pergi dari rumah?" Tangan Nara melingkar di lengan Tama.


"Nanti akan mas jelaskan kalau sudah di rumah papa, untuk sementara kita akan tinggal di sana"


"Kenapa harus di rumah papa mas menjelaskan, kenapa nggak sekarang saja?"


"Bunda yang sudah membuat video syur itu Na" kata Tama akhirnya.


Nara sempat terpaku beberapa detik "Bunda?"


Tama mengangguk. "Bawa koper ini ke bawah, mas akan gendong Amara"


"Apa dia masih tidur?" kata Nara berusaha tenang.


"Dia sudah bangun, tapi sepertinya tidur lagi"


Nara bergeming sambil menatap Tama yang melangkah ke arah pintu kamar Amara.


Selang hampir satu menit, Tama kembali dengan Amara yang berada di dalam gendongan.


"Ayo Na"


"Mas, bisa kita bicarakan baik-baik dengan ayah dan bunda? kita dengarkan penjelasan mereka"


"Tidak Na, sudah cukup mereka menyakiti kita"


"Menyakiti yang bagaimana lagi mas?"

__ADS_1


"Kamu pikir mas nggak sakit hati melihat sikap bunda yang masih dingin padamu sampai detik ini? kamu pikir mas tidak memikirkan tatapan bunda yang masih menyorot benci padamu?"


"Pasti bunda punya alasan mas"


"Sakit hatiku sudah tidak bisa di tawar lagi Na, dan lebih baik kamu menurut sama suamimu.


"Mas tahu, kalau sabar itu ada dua macam?"


Dahi Tama berkerut. "Apa maksudmu?"


"Sabar untuk sesuatu yang sangat kita inginkan, dan sabar untuk sesuatu yang tidak kita inginkan" Jelas Nara pelan dan lembut.


"Sudahlah Na, keputusan mas mutlak, tidak bisa di ganggu gugat. Kita pergi saja dari sini. Kamu dan Amara harus bahagia"


"Tapi mas_"


Tama tak memperdulikan ucapan Nara, ia berjalan hendak turun ke lantai bawah.


Untuk saat ini, Nara memilih menuruti permintaan suaminya. Ia akan menunggu sampai Tama tenang, kemudian akan kembali membujuknya.


Setibanya di lantai bawah, Idris menatap putra, menantu dan cucunya dengan sendu. Tatapannya yang kelam sekelam malam, membuat hati Nara teriris. Nara sangat tahu jika Idris adalah lelaki yang baik, tidak seharusnya ia menderita dan ikut menerima akibat dari perbuatan sang istri.


"Mas, kita dengarkan ayah dulu ya" bujuk Nara dengan suara pelan.


"Tidak bisa Na, dia sudah dengan kejinya menyimpan bangkai di ru_"


"Mas" potong Nara meninggi. "Dia itu ayahmu"


"Seorang ayah yang kejam" Sahutnya santai.


"Tama tolong jangan pergi nak, jangan tinggalkan bunda" tiba-tiba suara Rania mendengung di telinganya. Tama dan Nara nyaris kompak mencari keberadaan Rania.


"Bunda minta maaf, bunda menyesal"


Tama mengabaikannya, sementara Nara Menyorot nanar.


"Bunda akan lakukan apapun yang kamu minta, asal jangan pergi dari sini?"


Rania menjeda kalimatnya untuk menyalurkan oksigen ke dalam paru-paru.


"Nara, bunda minta maaf atas semua kesalhan bunda padamu, tolong maafkan bunda dan bujuk anak bunda untuk tetap disini. Tolong Nak, dia hanya akan menuruti ucapanmu"


Tanpa sadar, bulir bening sudah meluncur bebas di pipi Nara. Pun dengan Rania yang sudah tersedu sejak pembicaraan saat di kamar.


"Bunda akan berhutang banyak padamu, dan bunda janji akan mengabdikan diri bunda seumur hidup bunda, untuk membayarnya"


"Mas, tolonglah beri bunda kesempatan, beliau wanita yang melahirkan mas, melahirkan pria yang sangat aku cintai. Tanpa bunda, kita tidak akan pernah bertemu"


"Tapi dia sudah membuat kita menderita Na, Tujuh tahun dia membuat kita memendam rindu. Dia sudah memfitnahmu, berniat membunuh anak kita saat masih dalam kandunganmu, dia juga sudah mengusir Amara dari rumah sakit"


Nara memanggil bik Jum untuk mengambil alih Amara dari gendongan Tama. Dengan cepat bik Jum pun melakukan apa yang Nara perintahkan lalu membawa Amara ke kamar Tamu.


"Tama, bunda sudah kehilangan semuanya, bunda tidak mau kehilangan putra bunda satu-satunya. Bunda sangat tahu semua ini adalah buah dari perbuatan bunda, bunda minta maaf yang sebesar-besarnya nak"


Tak hanya Rania, Nara dan Tama, Idrispun tampak menyeka air matanya.


"Beri bunda kesempatan dan menunjukkan padamu bahwa bunda menyesal, bunda berjanji tidak akan mengulang kesalahan bunda Tama"


Mendengar rentetan kalimat Rania, Nara semakin tak tega.


"Mas, please jangan seperti ini pada orang tua mas"


"Bilang ke bunda, mas tunggu di ruang tengah" Kata Tama yang langsung melangkah.


Nara tersenyum lega, kemudian menghampiri Rania. Tanpa mengatakan apapun, dia mendorong kursi roda menghampiri Idris.


"Kita ke ruang tengah yah" kata Nara ketika sudah di hadapan Idris. "Kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin"


"Makasih Na, ayah hutang banyak padamu"


"Seorang ayah tidak pernah berhutang pada anaknya yah, jangan lagi bilang seperti itu"


Tiba-tiba, salah satu tangan Rania melingkupi tangan Nara yang mendarat di stang kursi roda.


"Makasih Nara, kamu benar-benar menjadi cahaya di rumah bunda"


.....

__ADS_1


__ADS_2