Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
86


__ADS_3

Pagi ini Nara terlihat begitu fresh setelah semalaman membuat Tama terjaga hingga pukul dua dini hari. Padahal pada siang harinya, Tama sudah memijatnya begitu lama.


Tapi Wanita itu kembali meminta sang suami untuk memijatnya di malam menjelang tidur. Bahkan ketika Nara terlelap dan Tama berhenti memijat, Nara langsung bangun lalu meminta Tama untuk memijatnya lagi. Hal itu berulang sampai beberapa kali.


Entah apa yang membuatnya seperti itu, yang jelas Tama merasa kalau sudah dua hari ini tingkah Nara terkesan lucu dan kekanak-kanakan. Wanita yang selalu bersikap dewasa, tiba-tiba saja bertingkah layaknya anak kecil bahkan melebihi tingkah Amara.


Bibirnya sempat tersungging ketika menatap wajah Nara yang terlelap begitu damai.


"Selamat pagi sayang" kata Nara yang langsung duduk di kursi makan.


Sudah ada Idris, Rania, Tama dan Amara duduk di tempatnya masing-masing.


"Mommy kok siang-siang bangunnya?"


"Maaf sayang, semalam mommy nggak bisa bobo"


"Kenapa?" Tanya Amara ingin tahu.


"Mommy kecapean sayang"


"Kamu mending nggak usah kerja Na" kata Rania ikut nimbrung. Nara langsung menoleh ke arah Rania. "Lagian usaha Tama kan sudah mulai jalan, jadi nanti kamu bisa fokus promil anak ke dua"


"Aku sudah biasa kerja bun, jadi susah kalau harus berhenti"


"Tapi kan kamu jadi capek banyak-banyak"


"Nggak apa-apa bund, aku senang bekerja. Lagi pula bekerja itu hobiku"


"Nara itu ibarat Kartini masa kini bun, susah kalau harus diam di rumah" Kata Tama dengan tatapan terus tertuju ke piring Amara.


Nara melirik Tama yang tengah begitu telaten membantu sang putri membuang duri pada ikan.


Tiba-tiba ada rasa cemburu di hati Nara melihat Tama memanjakan Amara.


"Mui, Amui kan udah besar-besar, latihan makan sendiri ya sayang"


Ucapan Nara, membuat seisi meja makan memindai dirinya. Mereka seolah tak percaya dengan apa yang baru saja Nara katakan.


"Dia juga makan sendiri kok Na" kata Tama. "Mas kan cuma bantuin Amui makan ikan supaya durinya nggak ikut kemakan.


"Kalau gitu Amui duduk sebelah oma ya, biar oma yang bantu lepasin duri-duri ikannya"


Nara yang tadi duduk bersebelahan dengan Rania, kini sudah berdiri dan hendak bertukar tempat duduk dengan Amara.


"Duduknya kita tukeran ya sayang"


Kesekian kalinya Idris, Rania serta Tama terkejut.


Aneh, begitulah menurut mereka. Tama pun menyadari jika sikap sang istri benar-benar di luar Nalar. Biasanya dia yang sangat protektif terhadap putri semata wayangnya, tapi sekarang sikapnya justru terkesan egois.


"Na, kamu serius?" tanya Tama dengan dahi berkerut.


Sementara Amara mengerjap dengan raut polosnya.


"Serius dong" sahut Nara santai. "Amui duduk di sebelah oma ya, biar mommy duduk di situ" Nara menunjuk tempat yang di duduki Amara.


Dengan berat, Amarapun bangkit dan beralih tempat duduk.


"Nggak apa-apa ya duduknya dekat oma" Hibur Rania. "Nanti oma layanin seperti tuan putri"


Anak itu mengangguk merespon ucapan Rania sebelum kemudian melirik sang mommy yang sudah duduk di kursi bekasnya duduk.


"Mas aku mau ini dong" Nara menunjuk tumis taoge campur slice sapi "Ambilin yah"


Dengan di penuhi banyak tanda tanya, Tama menyendokkan sayur taoge ke piring Nara. Rania dan Idris menatapnya penuh heran.


***


Aktifitas sarapan yang di lengkapi sedikit drama pun selesai.


"Kami berangkat ya bun"


"Kalian hati-hati di jalan"


Tama serta Nara yang hendak pergi ke kantor, saling bergantian mengecup punggung tangan Rania dan Idris. Amara yang akan di antar sekalian oleh Tamapun mengikuti hal yang sama.


"Belajar yang baik ya cucu oma" Ucap Rania ketika Amara mencium punggung tangannya dan di balas kecupan di dahi Amara. "Jangan ngebut bawa mobilnya Tama"


"Iya bun"


"Dada oma, dada opa"

__ADS_1


"Dada sayang"


Mereka berbalik lalu melangkah menuju mobil.


"Amui duduknya di belakang ya" ucap Nara saat sudah di samping mobil.


"Nggak mau, Amui mau di depan sebelah daddy kayak biasanya"


'Gantian dong sayang, mommy juga pengin duduknya sebelahan sama daddy"


"Ya tapi kan biasanya mommy duduk di belakang, Amui yang di depan"


"Ya gantian dong sayang, Amui kan udah sering duduknya di depan, sekarang gantian mommy"


Tama hanya diam menyimak perdebatan anak dan istrinya.


"Nggak mau Amui maunya depan sebelahan sama daddy" Amara hendak membuka pintu mobil bagian depan, namun Nara buru-buru mencegahnya.


"Ayo dong Amui, katanya pengin punya dedek bayi, jadi sebagai kakak harus ngalah sama dedeknya"


"Na, kamu tumben banget berebut tempat duduk dengan anak sendiri" kata Tama memotong percakapan mereka. "Biasanya kan memang kamu yang meminta Amara duduk sebelahan dengan daddynya"


"Iya, tapi kali ini aku pengin duduknya di depan"


Dari jauh Idris dan Rania saling pandang.


"Apa ayah juga merasa apa yang bunda rasa yah?"


"Ayah merasa bun"


"Aneh kan?" kata Rania sambil mendongak.


"Aneh banget bun"


"Iya yah, sebenarnya ada apa dengan Nara yah?"


"Entahlah bun" _____


"Ayo dong mas, bujuk Muimui supaya mau gantian"


Menghela napas, Tama berlutut di depan Amara.


"Sayang, Amui duduk di belakang dulu ya, nanti pulang sekolah gantian Amui di depan"


"Amui kan udah sering duduk di depan, kasihan mommy pengin duduk di sebelah daddy"


"Ya udah, tapi daddy nggak boleh pegang-pegang mommy, mommy juga jangan pegang-pegang daddyku"


"Tapi kenapa?" sambar Nara cepat.


"Pokoknya nggak boleh. Lirik-lirik daddy juga nggak boleh"


"Ok deh sayang" sahut Nara.


Tama membuka pintu mobil untuk Amara. Detik berikutnya untuk Naraya. Wanita itu tersenyum puas karena keinginannya untuk duduk di depan terpenuhi.


Di dalam mobil, mata Amara melirik penuh selidik. Tatapan itu terarah untuk sang mommy yang terus tersenyum dan sesekali menoleh ke arah Tama. Ketika Nara akan menyentuh lengan Tama, dengan cepat Amara melarangnya. Sampai tahu-tahu mobil sudah di depan pintu gerbang sekolah dasar berkelas internasional, Tama langsung turun dan membukakan pintu mobil untuk Amara.


"Hati-hati ya sayang, belajar yang pintar" pesan Nara untuk putrinya.


"Iya mom" Anak itu mengecup punggung tangan mommynya sebelum kemudian turun dari mobil.


"Ayo sayang"


Amara menerima uluran tangan Tama.


"Dada sayang"


"Dada mommy" balas Amara lalu mengerucutkan bibirnya.


Sedangkan Nara, menatap gemas sang putri.


Selang lima menit, Tama sudah kembali dan masuk ke dalam mobil.


"Ada apa denganmu Na?" tanya Tama seraya memasang seatbelt.


"Ada apa denganku?" Nara mengernyit. "Aku nggak kenapa-kenapa kok mas"


"Tapi sikapmu aneh"


"Aku nggak tahu mas, aku merasa cemburu aja lihat mas manjain Amara"

__ADS_1


"Apa?" Tama terkejut mendengar kalimat Nara. "Kemarin kamu cemburu dengan guru lesnya, dan aku maklum. Tapi sekarang, kamu cemburu sama anakmu sendiri? Kamu keterlaluan tahu nggak"


"Aku juga nggak tahu mas, itu teflek aja. Dan mas, kalau mau manjain Amui jangan pas lagi di depanku ya"


"Kenapa? dia putriku, wajar dong kalau daddynya memanjakannya"


"Iya, tapi pas jangan di hadapanku"


"Why Nara"


"Aku nggak suka"


"Kamu tuh aneh Na?"


"Sudahlah mas kita berangkat. Udah telat ini"


Mendengkus pelan, perlahan Tama melepaskan rem tangan lalu menginjak pedal gas. Ia melajukan mobilnya ke restauran dekat Angkasa group sesuai permintaan Nara.


Ini pertama kalinya Tama mengantar istrinya bekerja. Sebelumnya Nara selalu menaiki taxi menuju kantor. Dia selalu menolak jika Tama menawarkan diri untuk mengantarnya.


"Di sini saja mas, aku ada pertemuan dengan klien"


"Nanti ke Dandelion naik apa"


"Kan ada Khansa, nebeng ke dia nanti"


"Ya sudah, hati-hati"


"Ok, Assalamualaikum"


Sebelum turun, Nara mengecup punggung tangan Tama, kemudian Tama membalas dengan mengecup keningnya.


"Waalaikumsalam"


"Mas hati-hati"


"Hmm"


***


Aktivitas kantor tampak begitu sibuk hari ini.


Setiap akhir bulan, para karyawan di tuntut melakukan rekapitulasi berbagai macam jurnal untuk memudahkan dalam penghitungan laba rugi. Dari laporan keuangan dan aktivitas perusahaan selama sebulan, bisa di ketahui berapa omset yang di dapat. Dan bulan ini, omset naik hingga lima belas persen.


Sebuah kemajuan yang luar biasa untuk perusahaan yang nyaris bangkrut.


"Makasih ya mas, sudah bantu di Angkasa. Aku nggak tahu kalau tidak ada mas Aldi"


"Itu yang aku inginkan Na. Angkasa akan kembali ke tangan om Idris, so kamu tidak perlu berterimakasih"


"Haruslah mas, jasa mas Aldi sudah sangat besar di sini"


"Aku senang bisa membantumu"


"Sekali lagi terimakasih mas"


"Sama-sama Na"


Mereka saling melempar senyum.


"Oh ya Na, ini bulan ke tiga kita membayar cicilan ke Khansa sama Anita" kata Aldi. "Bilang ke mereka kita sudah transfer cicilannya"


"Iya mas nanti aku telfon mereka"


"Kalau gitu aku permisi Na, masih harus ngurus gaji para karyawan"


Nara mengangguk meresponnya.


Setelah kepergian Aldika dari ruangannya, Nara bangkit hendak keluar menuju ruang General manager.


"Astaga, kepalaku" Desisnya sambil berpegangan pada sisi meja. Ia mengerjap beberapa kali sembari menggelengkan kepala.


Sakit kepala yang sejak tadi menyerangnya, benar-benar sudah mengganggu aktifitasnya.


Hampir satu menit Nara berdiri di posisi yang sama, kunang-kunang itu perlahan menghilang.


Menarik napas dalam, sebelum kemudian kembali melangkahkan kaki.


Langkah demi langkah telah di lalui. Saat langkahnya hampir sampai di ruangan GM, tiba-tiba saja pandangan Nara mengabur, suasana sekitar mendadak begitu terang menyilaukan, lalu sepersekian detik tampak begitu gelap.


Rasa pusing dan kunang-kunang, sudah tidak bisa lagi ia tahan. Wanita itu limbung kemudian tersungkur ke lantai karena kehilangan kesadaran.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2