Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
Terusir


__ADS_3

Sore hari identik dengan pemandangan senja yang indah dan rasa tenang di suasana petang. Akan tetapi pada sore ini ketenangan itu benar-benar tak terasa barang sejenak di hati Nara.


Pikirannya kalut, hatinya gelisah serta perasaan takut seakan menghambur menjadi satu. Menyerang dirinya dalam waktu yang bersamaan sekaligus.


Tak ada yang bisa Nara lakukan kecuali menunggu waktu dalam satu kali dua puluh empat jam. Karena saat ini, Amara sedang berada dalam masa kritis. Jika dalam waktu tersebut Amara tak kunjung membuka mata, itu artinya kondisinya kian lemah, dan mungkin bisa di bilang koma.


Dengan di temani pak Ramdan, Nara menunggu di luar ruangan ICU. Sebab untuk beberapa jam ke depan, mereka hanya boleh melihatnya dari balik kaca.


Sementara Rania sudah tahu perihal Amara yang saat ini tengah kritis dan berada di ruang ICU.


Alih-alih prihatin, Rania justru merencanakan pengusiran pada Amara dari rumah sakit yang di kepalai oleh dirinya, sebab dia merasa terancam jika Tama sampai tahu tentang jati diri Amara. Apalagi ketika dia teringat ancaman Nara yang akan mengirim hasil DNA pada sang putra.


Rania yang sudah melakukan tes DNA setelah pertemuan pertamanya, dan telah menerima hasil bahwa Amara adalah cucunya, dia langsung memerintahkan pada semua pihak rumah sakit di area kotanya untuk memalsukan hasil DNA jika Nara melakukannya.


Namun, bagi Nara tak terbersit sampai kesana, ia justru meminta Tama untuk mengeceknya sendiri.


Selain Tama yang kini sedang menunggu hasil DNA, ada seseorang yang juga sudah mengeceknya lebih dulu dan sudah beberapa hari ini, seseorang itu sedang harap-harap cemas dengan hasilnya.


Tepat pukul sembilan malam, salah satu suster mengatakan jika Nara sudah boleh menemui Amara. Dengan syarat, tidak boleh berbicara keras ataupun mengganggu pasien beristirahat selama di dalam ruangan, dan juga hanya satu orang saja yang di perbolehkan memasuki ruang menegangkan itu


Mendengar syarat dari sang suster, dengan terpaksa pak Ramdan harus menahan rasa rindu terhadap sang cucu, pria penyabar itu memberikan kesempatan pada putrinya untuk menemui cucunya.


"Ara" Bisik Nara tepat di telinga Kirinya. Wanita itu berdiri dengan membungkukkan badan dan mendekatkan wajahnya ke wajah Amara. "Ini mommy nak"


"Ara bangun yuk, Ara udah bobo dari jam sebelas siang loh, Ara udah lewatin jam makan siang, makan malam pun sudah lewat dua jam yang lalu" Lirih sangat lirih hingga nyaris tak terdengar oleh telinganya sendiri.


"Ara mau ketemu daddy kan? besok mommy janji akan bawa daddy jenguk Ara. Sekarang bangun dulu yuk, mommy yakin Ara pasti haus kan? minum dulu yuk"


Tangan Nara tak henti-hentinya mengusap lembut kepala Amara. Matanya kian menghangat menahan genangan air yang tertahan.


"Ara sayang sama mommy kan? Ara anak pintar dan penurut kan? mommy suruh Ara bangun, jadi Ara harus bangun, anak pintar selalu nurut sama mommynya"


"Masih ada banyak hal yang belum Ara dan mommy lakukan, bangunlah nak, mari kita lakukan apapun yang membuat kita bahagia, bersama daddy, bersama kakek, dan sama teman-teman Ara"


Setetes embun dari pelupuk matanya tak bisa lagi ia pertahankan, dengan deras titik bening itu kian berjatuhan mengenai pipi Amara.


"Ara juga pengin tiup lilin bareng daddy kan, jadi ayo bangun, jangan sampai melewatkan hari bahagia Amara"


"Mommy mohon nak, buka mata Ara, mommy kangen Ara banyak-banyak, mommy ingin dengar suara Ara, mommy pengin bobo sama Ara"


Naraya terus bermonolog, sembari menahan rasa nyeri yang semakin menyesakkan dadanya.


Hingga lewat berjam-jam, dan waktu sudah menunjuk di angka satu dini hari, Nara masih belum bisa memejamkan matanya. Ia terjaga sambil terus menatap wajah pucat putrinya.


Sampai ketika ia menyadari ada pergerakan kecil dari jari Amara, yang salah satunya di jepit sebuah pulse oximeter membuat Nara terkesiap lalu mengerjap.


"Ara anak pintar, Ara pasti mau bangun kan, ayo nak bangun dan buka mata Ara!"

__ADS_1


Gerakan itu semakin besar, Nara segera menghampiri suster ketika mendapati sepasang mata Amara perlahan terbuka.


"Suster" bisiknya sedikit keras seraya menyentuh pundak suster jaga yang kini sedang terlelap.


"I-iya bu"


Bersamaan dengan respon sang suster, ada suara Amara memanggil Nara dengan suara lirih hingga saking lirihnya, suara itu seperti gumaman.


"Omoni"


Nara dan suster Oki langsung menoleh ke arah pembaringan. Dengan cepat mereka berjalan beberapa langkah menuju ranjangnya. Kemudian si suster memeriksa kondisi Amara dengan memegang denyut jantung pada pergelangan tangan gadis malang itu, sementara pandangan suster Oki fokus menatap jam yang melingkar di tangan kanannya sambil terus menyesuaikan detak jantung Amara.


Detik berikutnya, dia menekan tombol intercom untuk menghubungi dokter piket malam ini. Tidak menunggu lama, dokter Silvi datang dengan alat yang menggantung di lehernya.


"Alhamdulillah bu Nara, Amara berhasil melewati masa kritis" katanya setelah memeriksa Amara dengan stethoscope dan penlight miliknya. Bibirnya menyunggingkan senyum saat mengatakan itu, serta merta gurat kelegaan yang nampak di raut wajahnya.


"Alhamdulillah yaa Allah" sahut Nara lalu mengusap wajahnya.


"Tapi tolong, jangan biarkan Amara terlalu banyak bicara, dia harus istirahat" imbuh dokter mengingatkan.


"Baik dok"


Nara yang berdiri bersebarangan dengan dokter Silvi dan hanya di batasi oleh sebuah ranjang, langsung mengecup kening Amara. Kecupan sarat akan kasih sayang yang melimpah untuk sang putri.


"Omoni!"


"Pusing"


"Kalau Ara pusing, di bawa merem ya sayang" Omoni di sini temani Ara"


"Perut Ara juga mual mom"


Bukannya merespon ucapan Amara, Nara justru melempar pandangan pada dokter Silvi seolah meminta penjelasan.


Mengerti dengan maksud Nara, Silvi langsung mengatakan sesuatu.


"Tidak apa-apa bu, Amara baru saja sadar, pasti sedikit pusing dan mual, itu akan di alami oleh pasien seperti Amara" jelasnya lalu mengalihkan pandangan ke wajah Amara yang terbaring lemah. "Tidak apa-apa Ara, tapi bu dokter minta, Ara jangan bicara banyak-banyak dulu ya! ini masih gelap, akan lebih baik jika Amara bobo sampai besok pagi, supaya pas bangun Ara punya banyak tenaga dan bisa main-main lagi sama mommy"


"Ara baru saja bangun, kenapa di suruh bobo lagi, Ara nggak ngantuk bu dokter"


"Oke, kalau Ara nggak ngantuk, Ara merem-merem aja"


"Nurut kata dokter ya nak" Sambung Nara pelan. "Besok mommy bawa daddy kesini, tapi Ara harus bobo dulu"


"Serius besok daddy datang"


Nara mengangguk meski ada keraguan dalam hatinya lalu kembali bersuara. "Kalau tidak, besok lusa deh daddy ke sini"

__ADS_1


"Ya udah Ara mau merem, biar pas ketemu daddy Ara nggak ada ngantuk banyak-banyak, jadinya bisa main banyak-banyak sama daddy" Suaranya parau dan terdengar sangat lemah.


"Ok anak pintar" Nara mengecup pucuk kepala Amara, selang dua detik dokter Silvi pamit keluar.


"Kalau ada apa-apa, segera hubungi kami bu Nara" perintahnya sebelum melangkah pergi.


"Baik dok, terimakasih"


*****


Keesokan harinya, Amara sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Ada hati yang resah campur gelisah ketika seorang wanita paruh baya mendengar kondisi Amara. Wanita itu segera menyusun rencana agar Amara tak bisa di selamatkan.


Tidak masalah aku kehilangan satu cucu, karena dengan begitu, tidak ada alasan untuk Nara kembali pada Tama, begitu juga sebaliknya, mereka pasti akan hidup masing-masing tanpa bayangan Amara, alasan yang kemungkinan bisa memperkuat ikatan pernikahannya.


Setelah Tama dan Shella menikah, aku bisa mendapatkan cucu dari mereka, bahkan lebih dari satu.


Satu detik, dua detik,,,


Naraya, ku pikir hidupku akan tenang setelah kepergianmu, tetapi tidak. Karena dirimu, aku jadi merasa jauh dengan putraku, aku kehilangan kasih sayang dan perhatian dari seorang anak. Gara-gara dirimu, putraku selalu menentangku dan bersikap dingin pada bundanya sendiri.


Lalu di saat putraku sudah mulai menerima kehadiran Shella dan bersedia menikahinya, kamu malah datang dan kembali mengusik ketenanganku. Jadi bukan salahku jika aku melakukan semua itu padamu. Sinis dan sadis, begitulah gambaran dari wajah Rania.


Dua jam setelah menyuapi Amara dengan bubur, tiba-tiba datang dua orang suster meminta Amara untuk segera chek out dari rumah sakit.


"Apa maksudnya sus?" Nara membawa dua suster itu menjauh dari Amara.


"Maaf bu, kami hanya menjalankan perintah"


"Perintah dari siapa?" pekik Nara dengan suara tertahan, matanya lebar menahan gejolak amarah yang tiba-tiba singgah "Suster tahu kan, kalau anak saya baru saja siuman dan perlu mendapatkan perawatan intensive?"


"Maaf bu, ini perintah dari kepala rumah sakit agar memindahkan Amara ke rumah sakit lain"


"Apa?" Amarah itu kian memuncak ketika mendengar kalimat salah satu suster. "Rania!" lirihnya, ia menyorot tak percaya jika Raniapun tega melakukan hal itu pada cucunya sendiri.


Rania memang tidak ingin Amara mendapat perawatan terbaik. Di rumah sakit inilah segala perlengkapan medis sangat memadai, serta tenaga kesehatan yang ahli di bidang masing-masing. Para dokter bersertifikat seperti dr Aksa, dr Emir, dan dr Jimmi mendapat julukan dokter terbaik di Jakarta. Hampir semua dokter hebat berada di lingkaran rumah sakit Pelita IMC, rumah sakit milik keluarga Shella.


Bersambung


Next....???


Puasa otaknya rada lemot, tapi sayang waktunya kalau nggak di pake buat nerusin naskah.


Semangat puasa Hari ke dua...


Doa hari ke dua puasa


__ADS_1


__ADS_2