Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
90


__ADS_3

Setelah mendapat informasi yang sangat mencengangkan, Tama langsung beranjak pergi dari kantor Khansa. Ia akan menuju ke Angkasa untuk meminta penjelasan pada Aldika. Tama yakin jika Aldika ikut terlibat dan tahu tentang rahasia ketiga wanita itu.


Pantas saja Aksa menjuluki tiga wanita itu dengan sebutan wanita licik. Mereka benar-benar cerdik, pintar mengecoh dan juga pandai mengancam.


Bukan tanpa Alasan Aksa menjuluki mereka wanita licik. Itu karena ketiga wanita itu berhasil menipu Rendi saat mengatasi perusahaannya dulu. Dengan segala rayuan maut dan ancaman Anita untuk para karyawan Dandelion agar mau berpihak pada Aksa dan Setya, serta tipuan Nara ketika mengecoh Rendi agar mendapat tanda tangannya, dan Khansa sendiri yang begitu cerdik melakukan manipulasi dengan berkolaborasi bersama dua sahabatnya, akhirnya bisa menguak tentang kematian orang tua Aksa dan Setya.


Tama menggelengkan kepala seakan tak percaya bahwa tiga wanita licik itu salah satunya adalah istrinya sendiri.


Jangan coba-coba melawan mereka, mereka sangat kompak dengan segala kelicikan dan daya tariknya. Kamu akan tahu seperti apa istri kita ketika berada di lingkaran perusahaan. Mereka bahkan bisa menjebloskan penjahat yang sudah menyimpan kejahatannya hingga bertahun-tahun lamanya.


Kalimat demi kalimat yang pernah Aksa katakan, tiba-tiba berputar-putar di kepalanya. Dulu, Tama sama sekali tidak percaya dengan ucapan Aksa. Tapi kali ini, dia tidak bisa mengelaknya. Semua yang dikatakan Aksa sangatlah benar.


Di tengah-tengah perjalanan, Tama telah menghubungi Daffa dan memberitahukan bahwa dia akan terlambat datang ke kantor. Dia juga meminta Daffa untuk menghandle semua aktivitas di dalam plaza.


Setibanya di Angkasa, mata Tama memanas sebab persekian detik ia teringat dengan dirinya yang pernah menjadi pemimpin di perusahaan ini. Perusahaan yang didirikan oleh orang tuanya, akan tetapi saat ini semua itu hanya tinggal kenangan.


Tak ingin larut dengan masa lalu, Tama bergegas turun kemudian memasuki Angkasa yang sudah sangat lama dirinya tidak menginjakkan kaki disini.


"Bisa saya bertemu dengan Aldika?" tanya Tama pada petugas resepsionis.


"P-pak Tama?"


Sebagian karyawan disini adalah karyawan lama yang di pekerjakan oleh Idris, itu sebabnya mereka sangat mengenal Tama yang tak lain adalah mantan bosnya dulu.


"Sambungkan ke dia kalau saya ingin bertemu dengannya"


"T-tapi pak"


"Kalau kamu tidak mau menghubungi Aldika, aku yang akan ke ruangannya saat ini juga"


"B-baik pak, akan s-segera saya sambungkan" sahutnya takut-takut.


Benar-benar kedatangan Tama tak terduga.


"Pak, pak Aldika akan turun dan menemui bapak. Bapak bisa tunggu di lobi"


Tanpa merespon ucapan sang resepsionis, Tama langsung melangkahkan kaki menuju sofa di lobi.


Tak kurang dari lima menit, Aldika turun dan langsung menemui Tama.


"T-tama?"


Tatapan Tama menajam penuh intimidasi. Aldika yang mendapat tatapan itu langsung mengalihkan pandangan, lalu mendudukkan dirinya di depan Tama.


"Apa kamu bersekongkol dengan tiga wanita licik itu?" tanya Tama menyelidik.


"A-apa maksudmu Tam? wanita licik mana?"


"Kamu bekerja sama dengan Nara, Khansa serta Anita dalam menyembunyikan semua ini?"


"A-aku,_"


"Jelaskan sekarang juga atau hubunganku dengan Nara akan memburuk?"


"Dia sedang hamil, jangan marah padanya" Sahut Aldika sekenanya.

__ADS_1


"Kalau begitu sekarang jelaskan!"


"Aku hanya mendapat perintah dari Nara, Tama"


"Perintah untuk menyembunyikan bahwa Angkasa group telah menjadi milik tiga wanita licik itu?"


"Wanita licik mana yang kamu bicarakan?" tanya Aldika tak mengerti.


"Siapa lagi kalau bukan Nara, Khansa dan juga Anita?"


Mata Aldika membulat begitu mendengar Tama mengatakan itu.


"Kamu menyebut istrimu sendiri dengan wanita licik"


"Memang itu julukan yang pantas untuk mereka, Aksa saja menyebut Khansa wanita licik"


Aldika tergelak.


"Jelaskan kenapa ayah tidak tahu jika mereka bertiga yang sudah membeli Angkasa?"


"Mereka menyuruh Meira melakukan transaksi jual beli saat itu" kata Aldika mulai menjelaskan. "Dan saat ini, Angkasa telah resmi menjadi milik Nara, tapi Nara harus mencicil saham yang dia beli dari Khansa dan Anita"


Kening Tama mengerut tajam.


"Maksudnya?" tanya Tama.


"Tadinya saham Angkasa group adalah milik tiga wanita licik yang kamu maksud itu, tapi karena Khansa sangat sibuk di Dandelion, sementara Anita juga sibuk di perusahaan papanya, jadi dua wanita licik itu menjual sahamnya pada wanita licik lainnya, yaitu istrimu. Tapi berhubung Nara tidak punya uang sebanyak itu, Nara membayarnya dengan cara mencicil setiap bulan"


"Jadi Nara pemilik sepenuhnya?"


Alis Tama menukik tajam.


"Nara ingin menyerahkan kembali Angkasa group ke ayah, tapi nunggu waktu yang tepat buat ngomong ke kalian" lanjut Aldika menjelaskan.


Sesuatu di luar pemikiran Tama. Ternyata Nara sehebat itu, tentu saja dengan bantuan Khansa dan Anita.


"Dimana ruangan Nara?"


"Dia menempati ruangan kamu Tam. Ruangan kamu sama sekali tak di rubah oleh Nara, bahkan semua perlengkapan kantormu masih tertata rapi di mejamu"


Tama menghirup napas dalam, benar-benar tak menyangka jika ternyata dirinya tidak kehilangan Angkasa group, meski pemilik saat ini bukanlah dirinya, setidaknya perusahaan ini berada di tangan Nara, bukan orang lain apa lagi keluarga Shella.


"Aku mau ke ruangan Nara" kata Tama sembari berdiri.


"Pergilah, masih ingat bekas ruangan kamu sendiri kan?"


"Apa kamu mulai meledekku?" Tama serta Aldika berjalan bersisian ke arah lift.


"Sudah lama tidak mengejekmu, rasanya ingin sekali melakukan itu"


"Dasar sialan" Tama mencebik. "Dari pada sibuk mengejekku, lebih baik halalin bu gurunya.


"Itu pasti, tunggu saja jam tayangnya"


"Jam tayang apa?" tanya Tama bersamaan dengan pintu lift terbuka.

__ADS_1


"Pernikahan, apa lagi?" jawab Aldika sembari menekan tombol angka menuju ke lantai atas.


"Tama" panggil Aldika setelah hening beberapa detik.


"Apa?"


"Bicarakan baik-baik dengan Nara, dia menyembunyikan ini karena belum siap bicara pada kalian. Sebab dirinya harus mencicil pembelian saham itu agar Angkasa tetap menjadi milik kita"


"Tapi caranya tetap salah, dan aku harus menegurnya"


"Tapi jangan terlalu mengekang dengan kata-katamu yang kadang terkesan pedas"


"Memangnya mulutku ini mulutmu, yang suka bicara ngawur"


Mereka kini sudah sampai di lantai tujuan dan tengah berjalan menuju ruangan Nara.


"Apapun itu, ingat istrimu sedang hamil" kata Aldika sambil membuka pintu kantor. "Biasanya, wanita hamil perasaannya sangat sensitive, mereka mudah sekali tersinggung dan dikit-dikit menangis, salah ucap satu kata saja bisa membuat mereka sedih. Jadi jangan terlalu meminta banyak penjelasan padanya. Yang jelas, Nara melakukan ini untuk kalian juga"


"Wah sudah pengalaman sekali ya mengenai wanita hamil yang memiliki perasaan sensitive" ledek Tama sambil mengedarkan pandangan ke dalam ruangan kantor. Sepasang matanya terus menelisik seakan mencermati ruangan bekas miliknya dulu.


"Asal kamu tahu, pengalaman datang bukan hanya dari kita yang mengalaminya, tapi dari pengalaman orang lain, kita juga bisa belajar banyak hal"


"Tumben mulutmu waras"


"Itu karena bosku bukan kamu, tapi Nara. Dia mengajarkan banyak hal, nggak sepertimu yang tiap hari kerjaannya meledekku, giliran aku balas meledek, kamunya bersungut-sungut"


Tama hanya nyengir merespon perkataan sepupunya.


Hampir satu jam ber euforia dengan ruangannya, Tama pun pamit karena harus mengurus plazanya. Sebelum pergi, ia sempat memeluk Aldika dan mengucapkan banyak terimakasih karena sudah mendampingi istrinya dan membantu mengelola perusahaannya.


"Sekarang kan kamu sudah tahu, bantu Nara mencicil hutangnya. Kasihan dia hutangnya banyak"


"Ya, ya, tapi sebelumnya aku ingin memakannya sebelum ku bantu melunasi hutang-hutangnya"


Aldika reflek menggelengkan kepala mendengar kalimat Tama.


"Aku pergi dulu" kata Tama pamit.


"Hati-hati"


"Sekali lagi terimakasih"


"Its ok, Tama, kamu hutang banyak padaku"


Tama berdecak sebelum kemudian melangkah pergi.


Selagi melangkahkan kaki, Tama terus berfikir bagaimana cara menegur istrinya agar tak membuat wanita yang sedang hamil itu merasa tersinggung.


...🌷🌷🌷🌷...


bosen ya, sama aku juga...😀😀😀


Tenang tinggal dua atau tiga part lagi akan end.


Udah nggak mau muter-muter lagi. Konflik sudah selesai. Pusing kalau harus keliling-keliling cari topik 😊😊

__ADS_1


__ADS_2