
"Teh Rini gak mau Nerima uangnya Mas. Sepertinya dia merasa sakit hati," jawab Nita.
"Sakit hati bagaimana? Dia yang bikin masalah kok. Ah dasar janda tak tahu diri," ucap Arman.
"Astagfirulloh Mas kalau bicara jangan ngasal gitu!, seharusnya kita membantu tetangga yang kesusuahan. Teh Rini memang seorang janda, tapi dia bekerja keras untuk anak-anaknya, aku bahkan salut sama teh Rini," jawab Nita.
"Alah, yang gitu aja jadi panutan. Jagain ibu aja gak bisa kan? Siapa yang mau bayar kalau cara kerjanya aja begitu," ucap Arman.
Nita benar-benar tak habis pikir dengan suaminya. Ingin rasanya Nita berteriak, Kamu dan kakak-kakakmu saja gak bisa jagain ibu sebagai anak kandungnya, batin Nita. Tapi wanita itu tidak bisa mengatakannya karena hanya akan menimbulkan kekacauan yang lebih dari ini.
"Aku mau liat anak-anak dulu," ucap Nita berlalu pergi. Dia lebih memilih tak meladeni ucapan suaminya yang memancing kekesalannya.
***
Saat malam tiba, Nita merasa badannya remuk. Dia sudah membayangkan jam 3 pagi harus bangun lagi dan mulai memasak untuk sarapan pagi, tak lupa juga menyiapkan makanan untuk makan siang ibu mertuanya.
Malam ini meski badannya meminta istirahat tapi mata Nita tak mau terpejam. Dia masih kepikiran dengan Rini yang tak mau menerima uangnya. Nita berniat memberikan uang itu lewat anak Rini yang bersekolah Dasar. Sebaiknya aku berikan pada Tika, sekalian mengantar Nabila sekolah, batin Nita.
Nita berhasil memberikan uang itu pada Tika, tapi beberapa hari kemudian Rini datang ke rumah Nita dengan emosi. Terdengar ketukan pintu yang lumayan keras, membuat Nita segera mengecek tamu diluar.
"Teh Rini, ada apa ya teh? Silahkan mask dulu..!" Tanya Nita.
__ADS_1
"Aku disini saja, aku cuma mau ketemu suamimu, suruh dia keluar! Kalau berani hadapi aku!" Ucap Rini.
Sontak Nita merasa kaget, ada apa ini? Batin Nita.
"Sebentar Teh, sebenarnya ada apa ini? Kenapa dengan Mas Arman?" Tanya Nita penasaran, dia juga cemas kalau sampai terjadi cekcok.
"Suamimu itu loh, mematikan rezeki orang saja. Asal kamu tahu Nita, Arman bilang sama tetangga kalau aku tidak bisa bekerja, kasar pada ibunya, dan memberi saran pada para tetangga supaya jangan mempekerjakan aku lagi, maksudnya apa coba? Itu fitnah ya, dasar ibunya aja yang tidak pernah berubah dari dulu," teriak Rini.
"Ada apa sih dek berisik banget?" Tanya Arman yang baru datang dari arah kamar karena kebisingan ini.
Nita pun kaget dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba, Nita semakin khawatir. Dia mencoba menjadi penengah diantara mereka, tapi sikap Arman memang tidak mau kalah dan tidak mau dinasehati.
"Aku bicara apa adanya, bukan fitnah ya. Biar para tetangga tahu dan berpikir ulang jika mempekerjakan kamu. Seorang perawat itu harus lemah lembut apalagi berhadapan dengan lansia," ucap Arman.
"Memang kamu tahu apa tentang keluargaku, seenaknya saja bicara," jawab Arman.
"Ya begitulah sebaliknya, memangnya kamu tahu apa tentang aku dan pekerjaanku sampai kamu bicara seeprti itu pada semua orang hah? Dasar lelaki egois, makanya aku memilih menjanda karena lelaki sepertimulah yang lebih banyak menempati bumi," ucap Rini. Dia berlalu pergi karena energinya akan habis jika berbicara dengan Arman.
Yang waras ngalah aja, batin Rini.
"Tuh lihat, wanita itu memang kasar. Kamu jangan lagi berteman dengannya dek!" Ucap Arman.
__ADS_1
"Mas, meskipun teh Rini salah. Tapi kamu jangan bilang gitu sama para tetangga. Kan gak enak Mas, mematikan rezeki orang. Apalagi kalau salah tuduh, jatuhnya fitnah dan kamu berdosa," jawab Nita.
"Aku ngomong fakta. Pokoknya kamu jangan bergaul sama orang tadi dan jangan biarkan ibu dirawat oleh orang asing!" Ucap Arman berlalu pergi.
Nita memegang kepalanya yang mulai sakit. Dia merasa masalah dan beban hidupnya semakin berat. Apa aku sanggup menyelesaikan semua ini? Tapi aku harus yakin jika tidak ada ujian yang melebihi batas kemampuan hambanya, batin Nita.
***
Saat malam tiba, Arman yang baru dari kamar mandi mendengar suara sesuatu benda yang jatuh dan suaranya nyaring. Lelaki itu bergegas ke arah sumber suara. Dia terkejut melihat apa yang dilihatnya sekarang.
"Nita, apa apaan kamu?" Tanya Arman marah.
Nita menoleh dan kaget. Dia berada dikeadaan yang sulit dijelaskan. "Mas, ini gak seperti yang Mas lihat, tadi–," jawab Nita yang terpotong karena Arman terlanjur membawa Nita keluar dari ruangan itu.
"Mas sakit, lepasin!" Teriak Nita.
"Jadi selama ini kamu juga sama kaya Rini hah? Aku gak nyangka ya Nita. Sejak kapan kamu bersikap seperti itu?" Tanya Arman.
"Mas, kamu salah paham. Tapi percuma aku menjelaskannya juga karena kamu pasti tak akan percaya, aku mau membereskan kekacauan tadi kasihan ibu," ucap Nita yang melangkahkan kakinya berniat kembali ke kamar ibu mertuanya.
"Jangan sok peduli kamu, kasihan tapi sikap kamu tadi apa?" Teriak Arman.
__ADS_1
Nita mengepalkan tangannya, ini sudah malam. Dia lelah, tubuh dan pikirannya butuh istirahat. Tapi suaminya malah memancing emosinya sekarang.
Bersambung …