Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Diluar Dugaan


__ADS_3

"Jangan berisik, ibu mau tidur siang sebentar!" Ucap Maryati menatap tajam pada kedua orang itu.


"Iya Bu, maaf…," jawab Arman.


Setelah memastikan mertuanya memasuki kamar, Nita menyenggol lengan suaminya, "kamu sih Mas, ketawanya kenceng banget," protes Nita.


"Memangnya ketawa kamu pelan? Sama aja Dek, bahkan perutmu sampai kram tadi," ucap Arman sambil meledek istrinya.


Mereka ingin tertawa lagi, tapi dengan segera mereka menutup mulut mereka dengan menggunakan kedua tangan. Bergegaslah Arman dan Nita mencari tempat aman, memasuki kamar lalu tertawa lagi.


Di dalam kamar, mereka membereskan baju bayi yang sudah dibeli. Nita juga mempersiapkan tas persalinannya, diisi berbagai barang yang perlu dibawanya saat keadaan darurat. Disaat waktunya sudah tiba, dia hanya perlu membawa tas itu tanpa memikirkan barang apa yang harus dibawanya. Di dalam tas itu sudah lengkap semuanya.


"Ketika di USG anak kita kan perempuan, kenapa kamu gak bilang sama anak-anak? Mas takut Riki terlalu berharap adiknya laki-laki," ucap Arman.


"Hmm, itu perkiraan dokter dan peralatan modern Mas. Aku sih maunya nanti pas lahir jadi surprise buat mereka entah perempuan atau laki-laki. Prediksi USG itu tidak 100% tepat Mas," jawab Nita.


Arman pun mengangguk, dia kembali melipat baju untuk sang calon bayi. Mereka memilih warna hijau, coklat, dan warna lainnya yang bisa dipakai oleh bayi berjenis kelamin wanita dan laki-laki.


***


Tak terasa hari itu pun tiba, Nita yang sudah tidak tahan menahan sakit… dia memukul lengan suaminya, terkadang meremas jari jemari Arman. Disamping Nita juga ada Maryati, yang ikut dengan alasan tidak mau sendirian dirumah.


Ibu Nita (Bu Ani) tidak bisa menemani sang anak karena kondisinya yang tidak sehat, sudah dua hari Bu Ani sakit demam. Riki , Nabila dan Liana masih berada di jam sekolah.


"Dek, sakit…," keluh Arman saat tangannya kini malah digigit sang istri. Tapi Nita tak memperdulikan ucapan suaminya, perutnya sudah benar-benar terasa tak karuan.

__ADS_1


"Biarin aja Man, kamu sih gak ngerasain mules melahirkan. Ibu yakin kamu akan menonjok dinding terus menerus sampai tanganmu berdarah jika kamu tahu rasanya," ucap Maryati.


Tumben ibu peduli pada Nita, syukurlah… meski pada akhirnya aku yang disalahkan. Memang lelaki selalu salah, batin Arman.


Saat tiba di klinik, Arman tidak kuat jika harus melihat darah banyak. Maryati menyuruh anak lelakinya untuk tetap disamping Nita dan menggenggam tangannya. Maryati memastikan semuanya berjalan dengan lancar, matanya berbinar saat bayi itu diangkat oleh Bu bidan.


Nita dan Arman pun berbahagia saat tangisan kencang sang bayi memecah rasa khawatir dan rasa sakit Nita. Obat sakit melahirkan memang disaat melihat bayi lahir dengan sehat dan selamat.


***


Riki dan Nabila menyusul ibunya saat mendengar kabar dari Bi Titin. Mereka langsung pergi saat baru saja sampai rumah, Liana tidak ikut karena harus menjaga ibunya yang masih demam.


Riki dan Nabila begitu senang dan rasa gemas saat melihat adik mereka membuat Arman menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. Riki dan Nabila pun cengengesan melihat tingkah posesif ayahnya pada bayi itu.


"Mah, kapan bisa pulang?" Tanya Nabila.


"Aku mau tidur dirumah ya Mah, jagain dedek bayi juga?" Ucap Nabila dengan tangan yang memohon.


"Iya boleh dong. Mamah juga seneng ada yang bantuin," jawab Nita.


Keesokan paginya mereka pulang bersama dalam satu mobil, Maryati lebih banyak diam tapi dia selalu sigap saat bayi mungil itu menangis.


Sesampainya dirumah, Maryati langsung memasak sayur daun katuk. Tentu agar asi Nita melimpah, cara bicaranya masih saja ketus dan dingin tapi sikapnya menunjukan kalau wanita itu begitu peduli pada Nita. Disaat Bu Ani tidak bisa merawat Nita dan cucunya, Maryati seolah menggantikan posisi itu.


Nabila dan Riki yang belum berpengalaman menjaga bayi yang baru lahir, tentu membuat Maryati yang dominan menjaga dan merawat bayi mungil itu.

__ADS_1


"Makasih ya Bu…," ucap Nita.


"Buat apa? Cepet makan! Udah dimasakin juga," jawab Maryati. Wanita itu berlalu menuju dapur untuk mencuci piring.


"Mah, nenek masih saja galak," celetuk Nabila.


"Jangan gitu sayang, meski begitu sebenarnya nenek sayang sama adik bayi. Sayang juga sama ibu, buktinya ibu dimasakin, di bantuin juga kan?" Jawab Nita.


"Tapi cara bicaranya bikin sakit hati Mah," ucap Nabila.


"Gapapa Bil, nenek kamu kan dari dulu memang begitu. Kita yang harus paham, dan menurut Mamah sebenarnya nenek Maryati peduli sama ibu, ibu senang," jawab Nita sambil tersenyum.


Tak berselang lama, Liana datang dengan membawa buah-buahan dan juga kado. Nabila menyambut baik kedatangan tantenya itu, Nita bercerita tentang kejadian kemarin saat merasakan mulas melahirkan. Nabila dan Liana tertawa karena menurut mereka adegan digigit dan dipukul itu sangat lucu.


"Kasihan ayah…," ucap Bila.


"Gak usah kasihan Bil, kan cuma sakit digigit. Lebih sakit teh Nita yang melahirkan. Iya kan teh?" Tanya Liana pada kakaknya.


Nita tersenyum sambil mengangguk, kemudian dia menyusui anaknya lagi saat terdengar suara tangisan bayi. Tak terasa waktu cepat berlalu, hari sudah mulai gelap, Arman juga sudah pulang. Liana pun izin pamit.


"Ini bawa untuk Ani!" Ucap Maryati pada Liana dengan memberikan rantang berisi sup.


Liana kaget karena itu diluar dugaan nya, dia malah menatap lekat rantang itu bukannya mengambilnya. Membuat Maryati sedikit kesal.


"Tenang aja, ini gak ada racunnya. Ini bagus buat orang yang sakit demam," ucap Maryati yang mampu membuat Liana kaget untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2