
Beberapa hari berlalu, Maryati sudah tidak mau ke toko lagi. Meski di rumah lebih membosankan, tapi setidaknya dia tidak mau kalau masalah uang itu dipermasalahkan Kinan.
"Man, ibu gak ikut ke toko. Tapi ibu butuh uang buat jajan online sama belanja baju Man, 500.000 aja deh," ucap Maryati dengan mudahnya.
"Emm, aku izin Kinan dulu ya?" Jawab Firman.
"Astaga, toko dia kan banyak. Toko yang kamu pegang keuntungannya ya buat kamu lah. Kamu bebas memakai uangnya, jadi gak usah izin-izin dulu! Mana uangnya?" Ucap Maryati.
Firman pun mengeluarkan lima lembar uang berwarna merah, dia merasa pusing jika harus mendengarkan Maryati lebih lama, sementara dia sedang terburu-buru.
Maryati tersenyum senang, uang itu dia simpan. Dia berlalu ke dapur dan menujukan beberapa foto makanan pada asisten rumah tangga Kinan.
"Buatkan makananyang seperti di foto itu ya! Harus sama dan harus enak!" Ucap Maryati.
Pembantu itu mengangguk paham, memang dia tidak suka dengan sikap Maryati. Tapi dia tidak mau kalau ada masalah dan beresiko terjadi pemecatan.
Sementara Maryati memilih pergi ke taman belakang, disana banyak bunga bermekaran. Kinan memang begitu menyukai tanaman. Wanita itu memetik banyak bunga, lalu dia duduk dikursi kayu dibawah pohon. Dia mencabut tiap kelopak bunga dengan sesuka hati, dia menunggu makanan sambil melakukan kegiatan itu.
Taman yang semula bersih, kini tampak berbeda. Banyaknya kelopak bunga yang berserakan dan beberapa berterbangan terbawa angin. Maryati pun kembali masuk ke dalam saat makanan yang dia pesan sudah siap.
Setelah selesai makan, dia melihat ada panggilan telepon dari Arman. Tapi karena dia merasa sudah betah dirumah Kinan dan tidak mau kembali ke kontrakan yang kecil. Wanita itu mengabaikan panggilan masuk dari sang anak.
"Lebih enak disini. Makanan banyak, tempat tidur nyaman ada AC gak kegerahan. Belum lagi bisa minta uang sama Firman. Mana mau aku kembali kesana," gumam Maryati.
__ADS_1
***
"Bi Tikah, Bi…," teriak Kinan.
"Ada apa Non?" Tanya Tikah.
"Ini kenapa taman saya ancur begini? Bunganya pada hilang, eh malah udah jadi sampah ditanah. Bibi kan tahu kalau aku begitu menjaga mereka, dari kecil sampai berbunga?" Ucap Kinan. Dia yang awalnya marah, kemudian dia bereksfresi sedih saat mengingat tanaman yang begitu dia sayangi hancur.
"Bibi beneran gak tahu Non, daritadi bibi sibuk didapur. Masak buat ibu, kemudian menemani ibu Den Firman sebentar didepan rumah," jawab Bi Tikah.
Sepertinya aku tahu siapa pelakunya. Disini gak ada yang berani menyentuh bunga-bungaku, tapi setelah kedatangan ibu Mas Firman semuanya mulai kacau, batin Kinan.
Tok
Tok
Tok
"Bu …, aku tahu ibu tidak tidur, keluarlah!" Teriak Kinan.
Tapi tidak ada jawaban, Maryati memilih pura-pura tidur, dia bahkan memakai hadset ditelinganya. Dia ingin menikmati waktu istirahatnya tanpa mendengar suara Kinan yang cempreng.
Didobrak pun tidak mungkin, akhirnya Kinan memilih kembali dan menunggu sampai penghuni kamar keluar. "Kalau lapar, pasti ibu keluar," guamam Kinan.
__ADS_1
***
Benar saja, Maryati keluar mengendap-ngendap saat jam menunjukan pukul 10 malam. Disaat suasana rumah sudah sepi, disaat itulah dia beraksi. Sebelumnya memang Firman juga mendatangi kamar ibunya untuk membujuknya keluar dan makan, tapi memang Maryati tidak mau keluar.
Maryati menuju dapur dan mulai mencari makanan, dia menemukan lauk sisa disana. Lauk yang cukup banyak untuk dirinya, dia pun duduk dan mulai makan. Untung saja nasi berada di rice cooker itu hangat, hingga dia bisa makan dengan lahap.
"Hmm…, ada pencuri nih," ucap Kinan.
Dari suaranya saja, Maryati bisa tahu siapa yang ada dibelakangnya. Tanpa menoleh, dia masih melanjutkan acara makannya karena lapar. Kinan pun duduk tepat dihadapan ibu mertuanya, melihat dengan fokus ke arah Maryati yang cuek.
"Enak ya, makan tidur, makan tidur, belanja juga ngabisin uang. Udah gitu bikin ulah terus," ucap Kinan.
"Makan tidur itu… ya wajarlah, namanya juga manusia. Ibu kan sudah tua, masa kamu mau jadi anak durhaka maksa ibu buat kerja," jawab Maryati.
"Ibu bukan ibu kandungku. Lagian, aku akan menghormati orang yang menghormati ku juga. Kalau orangnya malah tidak tahu diri, buat apa juga aku mengormatinya. Ibu harus menjaga sikap ya, selama tinggal di rumahku! Jangan menyentuh barang-barangku atau merusak tamanku lagi! Kalau tidak, aku akan paksa mas Firman untuk mengembalikan ibu ke tempat asal ibu," jawab Kinan.
Deg!
"Taman? Hmm… bunga itu kan udah mekar, ya wajarlah kalau ibu memetiknya. Kamu mau membiarkan bunga itu sampai layu ditangkainya? Sayang bukan? Kamu ini terlalu membesar-besarkan masalah, bilang aja kalau kamu mau Firman salah paham dan mengusir ibunya sendiri! Jangan memaksa Firman untuk jadi anak durhaka ya! Seharusnya kamu mendukung agar suamimu berbakti sama ibunya!" Jawab Maryati.
"Sudah ya ngomong sama ibu. Bukannya minta maaf dan intropeksi diri, eh malah muter-muter," ucap Kinan kemudian berlalu pergi.
Keras kepala banget sih, padahal mas Firman baik. Kenapa ibunya bisa begitu sih? Menyebalkan, batin Kinan.
__ADS_1
Bersambung …