Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Canda Tawa


__ADS_3

Hari berganti hari, Nita dan Arman sibuk mempersiapkan semuanya untuk menyambut anak ketiga mereka. Liana, Riki dan Nabila bertengkar karena mereka ingin nama yang mereka pilih akan menjadi pilihan Nita.


"Sudah, sudah…! Biar adil, biar ayah dan ibu bayi saja yang menentukan," ucap Arman.


"Ih Ayah nyebelin," keluh Nabila.


"Yaudah kalau Ayah memang udah punya nama," jawab Riki.


"Hmm, ngalah aja deh. Gimana kak Nita sama kak Arman, asal bener dari kalian. Bukan dari dua bocah ini, hehe…," ucap Liana.


Riki yang paling tidak terima dengan kata-kata Liana. Bagaimana bisa dia dibilang bocah oleh Tante mudanya itu. "Kalau aku bocah, Tante juga sama bocah. Apa Tante memang sudah Tante-tante? Hahaha…," ejek Riki.


Ternyata masalah lain muncul sehingga tetap saja perdebatan terjadi diantara mereka. Padahal masalah nama bayi sudah ada solusinya. Arman dan Nita hanya tersenyum sesekali saat melihat Riki dikejar oleh Liana. Nabila menyoraki Liana agar bisa berhasil menangkap kakaknya yang rese itu.


Suasana rumah menjadi hangat, tapi tidak untuk Maryati. Dia keluar dan kemudian membanting pintu kamarnya, membuat Liana dan Riki seketika berhenti berlari.


"Nenek lampir udah marah, kita pulang aja yuk..!" Bisik Riki sambil menghampiri Liana.


Liana pun sudah tidak bersemangat untuk mengejar Riki, dia memilih pulang bersama kedua keponakannya itu. Liana tak lupa meminta maaf pada Arman atas kegaduhan yang dibuatnya, bagi orang tua itu mungkin sangat mengganggu karena terlalu berisik.

__ADS_1


Arman pun mengangguk, sementara Riki dan Nabila malah semakin tidak suka pada neneknya itu. Mereka pulang lebih dulu dan berpesan supaya ibu dan ayahnya datang ke rumah nenek mereka (nenek Ani) agar mereka tidak perlu bertemu dengan nenek Maryati.


***


"Anak-anak sepertinya masih tidak suka dengan ibu," ucap Arman sedih.


"Kita nasehati aja Mas pelan-pelan. Mungkin rasa sakit hati dimasa lalu belum bisa mereka lupakan sampai saat ini. Mengingat ibu juga masih bersikap begitu, tidak menyambut hangat Riki dan Nabila," jawab Nita. Wanita itu merasa sedih dengan hubungan cucu dan nenek yang seperti orang asing. Bahkan lebih buruk dari itu.


Arman pun mengangguk paham, dia juga tidak mungkin membela ibunya yang jelas-jelas memang sangatlah keras kepala. Dia juga tidak membenarkan sikap anak-anaknya yang belum bisa menghormati dan menganggap ibunya itu adalah nenek mereka. Keadaan serba salah itulah yang membuat Arman bingung, dia berharap ada hidayah yang datang untuk mereka agar saling memaafkan dan mengerti satu sama lain.


Flashback.


Ketika Nita dan Arman merawat Maryati saat sakit sebelum rumah mereka digadaikan oleh Dela. Saat itu Maryati dalam keadaan tidak bisa berjalan, dia sering kali menyeret kakinya dengan posisi duduk.


Nita baru saja pulang bekerja, bersamaan dengan Arman yang baru datang. Mereka mengetuk pintu berkali-kali dan ternyata tidak terkunci sama sekali. Keadaan waktu itu sangat hening, sepertinya semua penghuni rumah sedang tertidur.


Riki dan Nabila sering kali tidur siang sepulang sekolah. Indra penciuman mereka tiba-tiba mencium sesuatu yang mengganggu, hingga membuat mereka harus menutup hidung.


"Pasti ibu nih," ucap Arman kemudian masuk lebih dulu.

__ADS_1


"Iya, sepertinya pipis deh Mas, gak tahan mungkin, ibu kan gak mau pake pampers," jawab Nita.


"Menurut kamu dimana asal baunya?" Tanya Arman.


"Emm, di karpet dekat televisi deh kayaknya Mas," jawab Nita.


"Menurut Mas sih, dekat pintu kamar ibu. Gimana kalau kita cek, siapa yang benar maka dia akan dipijat selama satu jam? Hehe…," ucap Arman.


Nita pun mengangguk setuju, dia yakin kalau dia benar. Mereka begitu semangat mencari asal bau itu, tapi sayang ternyata tebakan mereka salah.


"Aduh Dek, ternyata disini Dekat meja makan. Gak ada yang dipijat dong. Hahaha…," ucap Arman.


"Kita gantian aja kalau begitu, jangan sejam kelamaan. Hehe…, ya sudah aku bersihkan dulu ya Mas," jawab Nita sambil tersenyum.


Ya, sejak mereka ikhlas dan bekerjasama merawat Maryati, mereka melakukannya seperti tanpa beban lagi. Mereka tak pernah mengeluh, malah ada canda tawa saat kekonyolan seperti itu terjadi. Cara berpikir mereka telah berubah, merawat seorang ibu adalah tanggung jawab anak, merawat seorang ibu punya nilai pahala yang besar jika dilakukan secara ikhlas dan hanya mengharapkan ridho Allah SWT. Perkara rezeki sudah diatur, mereka punya Tuhan yang selalu ada bersama mereka, sehingga tidak menjadikan biaya kebutuhan Maryati sebagai beban.


Flashback off


Lamunan itu membuat Nita tersenyum, sehingga membuat Arman penasaran. Lelaki itu langsung bertanya, dan Nita mengatakan apa yang ada dipikirannya. Seketika mereka tertawa bersama.

__ADS_1


Maryati yang mendengar gelak tawa anak dan menantunya, dia membuka pintu kamar dan menatap mereka.


Bersambung …


__ADS_2