Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Pulang Kampung


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Nita mendapatkan kabar buruk mengenai sang ibu di kampung. Dia sedang gelisah sekarang setelah sang adik Liana memberi tahu kalau ibunya sakit, bahkan adiknya itu sudah dua hari izin tidak masuk sekolah.


Nita berusaha menelpon suaminya untuk memberitahu jika dia ingin menemui ibunya sebentar. Mengambil cuti dua hari saja cukup, tapi tidak diangkat.


"Sebaiknya aku bicarakan ini langsung saja di rumah, aku harus membuat Mas Arman mengerti perasaanku dan mengizinkan aku pulang," gumam Nita.


Sesampainya di rumah saat sore hari, setelah pekerjaan rumah selesai dan sedang bersantai. Nita mulai mengutarakan perihal keinginannya. Semoga saja mas Arman mengizinkannya, batin Nita.


"Mas, ibuku sakit. Aku mau pulang dan tinggal dua hari disana, mas mengizinkannya kan?" Tanya Nita pelan. Disana ada dua anaknya juga yang tiba-tiba fokus pada pembicaraan sang ibu.


"Mah, anak-anak disini bagaimana, ibu bagaimana? Mereka masih sekolah dan tentu harus disediakan bekal, apalagi ibu yang bergantung padamu," jawab Arman.


"Dua hari saja kok Mas, aku mau jenguk ibu. Kasihan… sepertinya ibu juga merindukanku. Aku sudah lama tidak pulang," ucap Nita.


"Iya, tapi disini ibu bagaimana?" Tanya Arman.


"Mah, Riki bisa ko jaga diri sendiri, Riki bisa memasak telur atau mie instan untuk Nabila. Mamah gak usah khawatir, kasihan nenek disana," ucap Riki.


Nita begitu terharu pada anak lelakinya yang mengerti perasaannya. Nita merasa suaminya terkadang egois, untuk sekedar menjenguk ibunya, merawat ibunya yang sakit susah sekali tetapi merawat mertuanya sekan itu sebuah kewajiban bagi Nita.


"Makasih ya sayang," ucap Nita sambil membelai rambut anaknya.


"Nabila juga gak papa kok ditinggal Mamah, nanti Nabila akan membantu membereskan rumah ini," ucap Nabila.


Nita tersenyum, dia semakin bangga pada anak-anaknya itu. Seakan memahami isi hatinya. sementara suaminya,


"Hmmm, oke anak-anak bisa ditinggal. Bagaimana dengan ibu?" Tanya Arman.


"Kamu kan bisa Mas, menyuruh seseorang merawat ibu selama aku tidak ada. Atau kakak-kakak Mas lah sekali-kali merawat ibu, toh ibu kandung mereka juga, bukankah pahalanya besar Mas?" jawab Nita. Wanita ini mulai kesal dengan keegoisan sang suami. Padahal ibunya juga sama pentingnya, ibunya di kampung juga sakit. Kenapa aku harus terus merawat ibunya? Bukankah anak ibu itu banyak? Apa aku tidak boleh merawat dan menjenguk ibuku sendiri? Batin Nita.

__ADS_1


"Kita bicarakan lagi nanti ya Mah..!" jawab Arman. Sepertinya Arman tidak mau berdebat di depan anak-anaknya. Dia berusaha menghentikan pembicaraan itu.


***


Saat malam, terjadilah pertengkaran sengit. "Apa kamu gak kasihan sama ibu? beliau bahkan kesulitan berjalan," ucap Arman.


"Kamu berat sebelah Mas, kenapa lebih mementingkan keluarga kamu sementara keluargaku tak dianggap sama sekali. Padahal jelas-jelas keluarga Mas itu mampu loh, lihat aja mbak Dela! Ibuku juga butuh aku Mas, aku juga kangen sama ibu. Yang perlu Mas tahu, ibu Mas bisa berjalan meski pelan dan terkadang pake tongkat. Mas gak perlu khawatir..!" Ucap Nita.


"Maksud kamu apa Dek? Jelas-jelas ibu tidak bisa apa-apa, jaga bicaramu! Itu sama saja dengan fitnah," jawab Arman.


"Yasudah aku akan menyuruh teh Rini merawat ibu dua hari dan aku yang akan membayarnya, aku tidak bisa tenang sebelum menjenguk ibu," ucap Nita.


"Ya, terserah kamu saja lah Dek," jawab Arman dengan kesal. Dia pergi ke ruang tamu dan tidur disana dengan ditemani suara televisi.


***


Saat pagi datang, Riki dan Nabila sudah tahu tentang keberangkatan ibunya pagi ini. Mereka senang dan menitipkan salam pada nenek mereka, andai sekolah libur… pasti mereka akan ikut bersama sang ibu. Sudah lama juga mereka tidak berkunjung kesana, apalagi Nabila yang begitu sayang dengan nenek dari ibunya itu.


"Iya sayang, nanti Mamah sampaikan. Kamu gak usah sedih, nanti kalau liburan sekolah, kita bisa pergi mengunjungi nenek," ucap Nita.


Nabila mengangguk pelan, Riki dan Nabila yang sudah siap. Mereka pun berangkat bersama, Nabila diantar sampai sekolah oleh Riki kakaknya. Hari ini mereka berangkat lebih awal sehingga bisa pergi bersama.


Terlihat Arman sang suami diam saja sedari tadi, Nita pun membiarkannya. Bagi Nita yang terpenting kewajibannya sudah dilaksanakan, suaminya itu masih mendapatkan pelayanan darinya. Baju sudah dia siapkan, handuk juga, sekarang sarapan masih Nita siapkan. Meski Nita dalam keadaan kesal, wanita itu tidak akan melupakan tugasnya. Meski terkadang saat marah, Arman akan mengabaikan makanan yang dibuat Nita dan memilih membeli makanan diluar.


Sekitar pukul 8 pagi teh Rini yang sebelumnya sudah dihubungi oleh Nita oleh Nita, kini telah datang. Kedatangan wanita itu membuat Nita kini bisa pergi menuju kampung halamannya, Nita begitu percaya pada Rini karena memang terbiasa dipanggil seperti ini, entah itu mengasuh bayi ataupun membersihkan rumah para tetangga.


"Teh, jaga ibu baik-baik ya..! Teteh bisa pulang kalau Mas Arman sudah kembali," ucap Nita.


"Iya, kamu tenang aja Nit, dua hari kan? Teteh merasa terbantu karena lagi butuh uang buat anak sekolah," jawab Rini.

__ADS_1


"Iya dua hari, tapi jika ada sesuatu aku pasti menghubungi teteh lagi. Makasih ya teh, aku pamit," ucap Nita.


"Iya, sama-sama," jawab Rini sambil tersenyum.


***


Beberapa jam kemudian sampailah Nita di rumah ibunya. Matanya kini tak kuat menahan gejolak rasa haru karena akhirnya bisa menemui sang ibu setelah sekian lama. Setelah menikah dia menjadi milik suaminya, dia sudah tidak bisa sering-sering datang, apalagi dengan kesibukannya merawat ibu mertua dan mengajar. 


Beruntung suaminya itu masih mengizinkannya bekerja untuk meringankan beban sang ibu, itupun Arman mengizinkan karena keluarga Nita memang perlu tambahan uang untuk biaya ibu Maryati. Jadi Nita selama ini bekerja demi dua ibunya, dia tidak pernah bisa berbelanja baju yang dia suka atau sekedar membeli bedak pun dia akan memilih yang paling murah. Dia akan mementingkan orang lain terlebih dahulu, dia memang mempunyai prinsip hidup sederhana tak mementingkan soal gaya.


Tok


Tok


Tok


"Assalamu'alaikum…," ucap Nita.


Terdengar suara orang menjawab salam, lalu terbukalah pintu itu. "Kakak…," ucap Liana berhambur memeluk kakaknya. Kakak satu-satunya yang dia miliki. Kakak yang selalu menyemangatinya dan membantunya agar bisa terus sekolah meski dalam keadaan sulit seperti ini.


Setelah puas berpelukan, mereka pun masuk ke dalam kamar Bu Ani. Terlihat badannya yang dulu gemuk kini berubah kurus, terakhir kali Nita melihat sang ibu sehat, tapi sekarang hatinya begitu tersayat melihat ibunya yang terbaring lemah diatas ranjang.


Tubuh ibu kurus sekali, apa ibu makan dengan benar? Batin Nita.


Nita menghampiri sang ibu perlahan, dia takut mengganggu waktu istirahat ibunya. Nita membelai rambut yang mulai memutih menyeluruh itu, seingatnya dulu masih ada rambut hitam ibunya meski beberapa helai.


Ya Rob, apakah aku berdosa selama ini membiarkan ibu sampai seperti ini? Aku bingung karena aku tak mampu menjaga ibuku sendiri, batin Nita.


Hatinya begitu sesak, dia mulai menumpahkan tangisannya tanpa mengeluarkan suara, dia membekap mulutnya sendiri dengan tangannya. Liana memperhatikan kakaknya dan ikut menangis, Liana membantu Nita berdiri dan pergi ke ruang tamu agar ibu tidak mengetahui kalau mereka sedang menangisi ibunya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2