Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Liana Pindah Ke Kota


__ADS_3

Setelah kejadian itu, mereka setiap hari hidup tak tenang. Takut jika sewaktu-waktu ada orang yang mengaku jika itu rumahnya dan mengusir mereka semua. Bagaimana nasib kita semua jika rumah ini diambil orang? Ibu , anak-anak dan Nita… aku harus bagaimana? Batin Arman.


"Man bagiamana sertifikat rumah udah ketemu?" Tanya Bu Maryati.


"Gak ada Bu, kemungkinan besar memang dibawa mbak Dela," jawab Arman.


"Coba cari lagi Man! ibu yakin Dela tidak akan berbuat sejahat itu. Dia anak perempuan ibu yang baik dan cantik. Ibu selalu bangga padanya," jawab Maryati.


"Justru karena Ibu selalu memanjakannya jadilah mbak Dela seperti itu. Egois, apa yang dia inginkan akan dipaksakan tercapai meski menyakiti orang lain," jawab Arman. Lelaki itu berlalu pergi menuju dapur untuk mengambil air minum. Hatinya yang panas dan pikirannya yang mulai emosi saat mengingat Dela, membuatnya merasa kepanasan dan haus sekali.


Teringat dulu, memang ibunya itu memanjakan Dela karena dia anak perempuan yang diinginkan Maryati. Dela tidak memiliki saingan, dia satu-satunya perempuan dikeluarga Maryati. Tiga adiknya bahkan dipaksa untuk selalu mengalah, ah.. jika biasanya kakak yang mengalah dan selalu memberikan apapun untuk adiknya, tapi lain halnya dengan keluarga Maryati.


"Arman tunggu! Kamu jangan menjelek-jelekkan kakak kamu, kamu harus selalu hormat sama dia!" Teriak Maryati.


Arman yang mendengarnya pun mendengus kesal, padahal tanah ibunya sudah dijual tapi ibunya itu masih membela anak perempuannya. Dari dulu ibu selalu pilih kasih, ternyata masih tetap sama meski usia beliau sudah tua. Semoga aku dan Nita selalu bisa sabar menghadapi ibu, bagaimanapun juga beliaulah yang melahirkan ku Kedunia dengan mempertaruhkan nyawanya, batin Arman.


***


"Nabila, buatkan nenek teh manis hangat ya..!" Pinta Maryati.


Nabila mengangguk, dia melangkah dengan malas. Membuat teh manis itu sangat lambat, apa aku ganti saja ya gulanya dengan garam? Batin Nabila.


Setelah selesai, dia kembali dengan segelas besar teh manis. "Sekalian aja bikinnya banyak," gumam Nabila.


Diletakkanlah air itu dimeja didalam kamar sang nenek. Memang dikamar itu disediakan meja khusus untuk menaruh makanan dan minuman sang nenek sejak sakit.


"Bau sekali," keluh Nabila.


"Apanya yang bau?" Tanya Maryati.

__ADS_1


Kenapa setelah sembuh nenek semakin menyebalkan, batin Nabila.


"Gapapa Nek, aku mau belajar dulu," ucap Nabila. Gadis itu tidak nyaman berlama-lama dikamar sang nenek. Mereka juga tidak dekat, jadi Nabila tidak bisa mengobrol dan membahas hal apapun. Tidak ada yang menarik untuknya.


Gadis itu juga tidak jadi mengerjai sang nenek, takut neneknya itu murka dan mengamuk tak terkendali. Bisa-bisa barang dirumah semua ya habis dirusak sang nenek.


***


Hari berlalu begitu cepat, mereka mulai melupakan masalah sertifikat rumah karena selama ini tidak ada yang mendatangi mereka. Mereka bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.


Bu Maryati memang sudah bisa berjalan dan bicara dengan jelas, tapi memang sudah tidak bisa mengontrol rasa ingin buang air. Arman yang membuat Maryati mau memakai diapers, hanya saja begitu boros. Karena ibu Arman akan meminta ganti saat sekali pipis saja, seharian bisa menghabiskan bebebapa diapers. Itu membuat Nita dan Arman kewalahan.


"Bu…, ini sih namanya pemborosan, tuh masih kering kok diapersnya" keluh Arman yang sudah kesal. Biasanya Arman akan memaklumi ibunya, tapi hari ini maryati juga membahas Dela terus dan membelanya, membuat Arman tak terkendali.


"Kamu mau jadi anak durhaka hah? Ibu sudah tidak nyaman makanya minta ganti. Diapers saja dipermasalahkan begini, apa kamu bisa mengganti keringat ibu saat melahirkan kamu, darah yang keluar banyak dan bahkan nyawa taruhannya?," tanya Bu Maryati.


"Bukan masalah diapers Bu, tapi aku sudah lelah jika membahas mbak Dela. Aku selalu disuruh mengalah, sejak dulu ibu memprioritaskan mbak Dela. Aku juga punya perasaan Bu," jawab Arman. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi Maryati malah membuang mukanya seolah tidak mau tahu tentang perasaan anak lelakinya itu.


Arman mengangguk pelan dan pergi menuju kamarnya, sementara Nita membantu ibu mertuanya ke kamar mandi dan mengganti diapers sesuai keinginannya. Nita tahu ini sudah kali keberapa diapers itu diganti, memang sayang… tapi mau bagaimana lagi.


"Nita lihatla koh pempersnya tinggal sedikit lagi!" Keluh Bu Maryati.


"Iya Bu, besok Nita beli lagi setelah pulang mengajar," jawab Nita.


"Makanya beli yang banyak biar ada stok, itu juga kalau gak mau rumah ini bau dan kalau kalian lebih sayang ibu daripada uang buat beli diapers itu," ucap Bu Maryati. Wanita itu menyindir Nita atas apa yang dikatakan suaminya tadi.


"Baik Bu," jawab Nita. Wanita itu tidak mau menghabiskan tenaganya hanya untuk berdebat yang pada akhirnya dia juga yang disalahkan.


Nita kembali ke kamarnya, terlihat sang suami sudah tertidur pulas. Tiba-tiba ponselnya berdering. "Assalamu'alaikum Dek, ada apa?" Tanya Nita.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam…, teh, Liana udah ada dikota loh. Besok teteh kesini ya, lihat rumah baru kita. Ibu juga bilang kalau merindukan teteh, Riki juga Nabila," jawab Liana.


"Serius Dek? Besok teteh akan kesana sama anak-anak. Kirimkan alamatnya lewat pesan ya Dek..!" Ucap Nita. Wanita itu akhirnya bisa dekat dengan sang ibu, selama ini dia selalu merasa bersalah meninggalkan ibu kandungnya sementara disini ibu mertuanya dia yang mengurus.


"Iya ditunggu teh," jawab Liana diseberang sana.


Lengkungan dibibir Nita menandakan jika dia senang dengan kabar ini. Apalagi orang tuanya pindah ke kotanya, memudahkan mereka untuk saling bertemu. Nita juga bersyukur kehidupan adik dan ibunya sekarang lebih baik.


***


Keesokan harinya saat sore hari, nita mengajak dua anaknya untuk pergi, dia sudah meminta izin pada suaminya juga.


"Maaf ya Mah , ayah nungguin ibu aja disini kasihan sendirian, gapapa kan Nabila jika ayah gak ikut?" ucap Arman. Dia menatap Nita dan Nabila bergantian.


"Gapapa Yah," jawab Nabila. Dia hanya ingin bertemu nenek Ani, dia tidak mempermasalahkan ayahnya ikut atau tidak.


"Memangnya ibumu beneran pindah kedaerah sini?" Tanya Maryati.


"Iya Bu Alhamdulillah. Itu juga agar Liana bisa kuliah dan sekalian ibu ikut karena tidak ada yang merawat jika tinggal dikampung sendirian," jawab Nita.


"Ish, pasti ngontrak di kota dengan terpaksa. Awas kalau kamu lebih mementingkan mereka ya Nita! Kamu tahu kan ibu ini lagi sakit, sementara ibu kandungmu kan sehat-seha saja. Ibu lebih butuh makanan sehat dan banyak keperluan juga," ucap Maryati.


Deg!


Maksud ibu apa bicara seperti itu? Apa beliau takut jika uangku diapaki ibu? Padahal uang istri kan bebas dipergunakan untuk apa saja, lagian ibuku juga sama pentingnya, batin Nita.


"Bu jangan begitu! Kasihan Nita, dia juga kerja dan punya penghasilan. Aku tidak masalah jika uangnya dipakai oleh keluarganya," ucap Arman.


"Kamu sama aja sama Nita. Emang jodoh tuh cerminan diri, terus aja kalian lebih membela mereka yang dari kampung itu! Jangan lupa diapers sama bawa makanan enak pas pulang nanti!" Jawab ibu Maryati dan pergi meninggalakan mereka.

__ADS_1


Nabila menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir dengan kelakuan nenek yang satu ini.


Bersambung…


__ADS_2