
Nita diam sejenak, "emm… iya Bu. Nanti akan Nita bicarakan sama Mas Arman."
"Harus jadi, kamu juga pasti lebih senang kalau ibu sehat," ucap Maryati.
"Tentu saja Bu," jawab Nita dengan senyumannya.
"Iya, kamu senang karena gak direpotin lagi sama Ibu. Gak usah mandiin ibu, gak usah ngurusin Ibu lagi," ucap Maryati sinis.
"Astagfirullahaladzim… bukan begitu Bu," kilah Nita.
Nita memang benar-benar menginginkan ibu mertua nya sembuh, dia tidak tega melihat Maryati yang kesulitan untuk menggerakkan kaki dan tangan kirinya. Dia tidak tega melihat ibu mertuanya itu lebih lama menghabiskannya di tempat tidur dan kursi roda.
***
Siang ini Nita memasak menu yang dipesan ibu mertuanya. Wanita itu memang memprioritaskan Maryati dan akan menanyakan lebih dulu sebelum membeli sayuran. Nita ingin Maryati lahap makan dan cepat sembuh.
Setelah selesai berperang di dapur, Nita menawarkan untuk makan siang. "Bu, mau makan? Nita baru saja selesai memasak. Mumpung lauknya masih hangat."
Maryati pun mengangguk, mereka makan dimeja makan. Tentu Nita harus membantu ibunya itu agar bisa berpindah ke kursi roda lalu mendorongnya sampai ke meja makan.
__ADS_1
"Ayam kecapnya mana Nit?" Tanya Maryati.
"Bukannya ibu tadi ingin ikan semur?" Tanya Nita yang kebingungan.
"Ibu berubah pikiran, ya sudah kamu pesan makanan lewat ponsel kamu ya! Jangan lupa sama minuman dinginnya juga, ibu mau jus. Itu kan sehat karena dari buah-buahan asli," ucap Maryati.
Nita memandangi masakan yang baru dimasaknya dengan sepenuh hati tapi malah ditolak ibu mertuanya. Maklumi saja, ibu memang sudah tua dan memang suka berganti-ganti selera makan dengan cepat, beliau tidak mungkin sengaja berniat membuat aku lelah, batin Nita.
Nita mencoba menasehati dirinya sendiri, berusaha berpikir positif agar tidak membebani pikirnanya sendiri. Terlebih saat ini dia sedang mengandung.
Wanita itu dengan patuh menuruti semua yang diinginkan ibu mertuanya, karena yang terpenting baginya adalah kesembuhan Maryati. Nita harus memikirkan perasaan ibu mertuanya karena menurutnya kesembuhan berasal dari semangat diri sendiri dan kebahagiaan yang dimiliki sang penderita. Tidak lupa juga dia mengirim pesan kepada suaminya agar mampir di ATM terdekat.
***
"Mas, ibu sepertinya memang masih butuh perawat. Aku tidak bisa melakukan pekerjaan berat Mas," ucap Nita.
"Hmm, sebaiknya pekerjakan saja setengah hari sayang. Agar lebih hemat, lagi pula Mas kan jam segini udah pulang dan bisa merawat ibu," jawab Arman.
"Hmm, ide bagus Mas. Oh iya, ibu bilang ingin melakukan terapi rutin agar kaki dan tangannya bisa digerakkan lagi dalam waktu cepat, bagaimana Mas?" Tanya Nita.
__ADS_1
"Aduh, Mas kan lagi mengumpulkan uang untuk biaya lahiran kamu sayang. Apa sebaiknya ibu terapi setelah anak kita lahir?" Ucap Arman.
Mereka diam, tampak sedang memikirkan jalan terbaik. Nita mengusulkan jika memakai uang dari Kinan dan juga tabungan miliknya saja. Wanita itu juga tidak enak hati jika menolak keinginan ibu mertuanya, terlebih ini adalah untuk kesembuhannya bukan untuk keinginan pribadi seperti berbelanja.
"Jangan dipaksain Dek..! Sudahlah kita terapi ibu setelah kamu lahiran saja," ucap Arman.
"Ibu maunya sekarang Man, kamu perhitungan sekali sama ibu sendiri. Kalau menunggu sampai istrimu melahirkan, itu akan lama sekali. Memakan waktu berbulan-bulan. Apa istrimu lebih penting daripada ibu yang melahirkanmu?" ucap Maryati yang baru saja keluar dari kamarnya.
Deg!
"Bukan begitu Bu, hanya saja uang Arman–,"
"Sudahlah, biarkan saja Ibumu seperti ini. Kamu memang tidak sayang sama Ibu," ucap Maryati kemudian memutar roda yang ada pada kursi miliknya. Dia pergi memasuki kamarnya dan terdengar suara pintu yang tertutup sangat keras.
***
Setelah kejadian itu, akhirnya Arman memutuskan untuk membawa ibunya terapi. Dia hanya baru mampu menjadwalkan ibunya itu untuk melatih ototnya seminggu sekali, saat dimana dia libur agar tidak merepotkan orang lain.
Nita dan Arman kini sedang menemani ibunya tapi terdengar beberapa kali Maryati mengeluh pada sang dokter. Arman mendengar teriakan ibunya memanggil namanya, membuat dia bergegas masuk.
__ADS_1
Semoga tidak terjadi apa-apa, batin Nita. wanita itu menunggu diluar ruangan.
Bersambung ...