Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Sia-sia


__ADS_3

Dela yang masih bingung, dia terdiam di sebuah rumah kontrakan yang lumayan besar. Dia menyewa untuk dua bulan kedepan, kehidupan sebelumnya memang tergolong berada sehingga Dela yang membawa uang hasil menjual tanah itu memilih kontrakan yang nyaman dengan fasilitas yang sudah lengkap.


Setelah mendapatkan uang, Dela menyewa pengacara untuk mengeluarkan anaknya Fadli. Dela menginginkan anak dan suaminya keluar dari penjara, tapi untuk kasus suaminya Dela tidak sanggup mengeluarkannya.


Dela memilih mengeluarkan Fadli dan memulai kehidupan baru dengan anak lelakinya. Pengacara yang disewanya ternyata tidak bisa mengeluarkan Fadli. Itu membuat pengorbanan yang dilakukan Dela seakan sia-sia.


"Arghhh…," teriak Dela. Dia menatap dirinya di depan cermin dalam keadaan yang kacau. Masih memakai baju kemarin tanpa make up dan mata yang membengkak karena menangis.


"Padahal aku sudah berusaha mendapatkan uang banyak sampai menjual tanah ibu dan Arman, tapi masih saja tidak bisa, aku tidak tega melihat Fadli di dalam jeruji besi, hiks … hiks…," ucap Dela. Wanita itu pun menangis lagi.


Baru kali ini dunianya terasa runtuh, sejak kecil dia selalu dimanja. Setelah besar menikah dengan laki-laki yang sudah mapan, dia tidak pernah kekurangan. Apapun yang diinginkan akan dikabulkan sang suami, tapi sekarang dia tidak punya apa-apa dan kehilangan anak serta suami secara bersamaan.


Dia menggunakan nomor ponsel yang baru untuk menghindari Arman. Sudah beberapa hari adiknya itu menanyakan keberadaannya. Bukan rindu, melainkan Arman meminta pertanggung jawaban.


Dela benar-benar pusing memikirkannya, dia berusaha meminta bantuan pada adiknya yang lain. "Ya, aku harus menghubungi Romi," gumamnya pelan.


"Hallo…," ucap Dela.

__ADS_1


"Iya mbak, ada apa? Tidak biasanya mbak menelponku," jawabnya.


"Begini Rom, mengenai kasus suami mbak–," ucap Dela yang belum diteruskan karena Romi ternyata sudah tahu semuanya.


"Hem, suami mbak yang dipenjara karena kasus berat. Kalau mbak menelpon untuk meminta bantuan, maaf aku gak bisa mbak. Aku juga punya keluarga yang perlu aku prioritaskan, selama ini tidak cukupkah mbak mengambil apa yang menjadi hakku?" Tanya Romi.


"Hak apa? Mbak tidak pernah mengambil apapun milikmu," ucap Dela. Ya… dia hanya menjual tanah ibu dan Arman, kenapa Romi ikut protes, itulah isi pikiran Dila.


"Sedari kecil Mbak selalu menjadi prioritas ibu. Aku selalu disisihkan dan mbak tidak peduli saat aku menginginkan makanan yang sama. Tak pernah mbak membaginya, sekarang saat ibu memilihkan jodoh. Mungkin mbak bahagia karena mendapat suami yang kaya, tapi posisiku saat mendapatkan istri kaya, maka aku disini seperti terikat oleh istriku. Aku merasa terkekang dan sebenarnya aku pun tak bahagia dengan pilihan ibu," jawab Romi.


"Ya… inilah alasanku yang tidak mau merawat ibu. Seharusnya kamu mbak yang merawatnya, karena ibu selalu berkorban untuk mbak, dan mbak harus tahu diri untuk membalasnya. Sementara aku tidak merasa punya hutang padanya, malah banyak luka hati yang ibu berikan," lanjut Romi.


"Mbak tidak pernah berubah. Mbak egois, jangan hubungi aku lagi jika hanya ingin meminta bantuan ku dan merepotkanku," jawab Romi.


Tut


Panggilan pun terputus secara sepihak. Membuat Dela semakin murka. "Dasar , punya adik tapi tak berguna," ucap Dela. Dia kembali mencari nomor adiknya yang lain. Ternyata Farhan melakukan hal yang sama, menolak membantunya dan malah memakinya.

__ADS_1


"Disaat susah begini, mana arti keluarga? Tidak ada," ucapnya kesal. "Awas aja kalian, kalau suatu saat membutuhkan bantuan ku, aku akan mengabaikan kalian juga."


***


Sementara ditempat lain, Nita baru saja kembali dari rumah ibunya dan disambut oleh sindiran ibu mertua. "Darimana saja kamu? Seharusnya kalau sudah menikah dahulukan mengurus suami, bukan malah main ke tempat tetangga!" Ucap Maryati.


"Tetangga? Aku cuma ke rumah ibu sekalian melihat anak-anak Bu. Aku tidak bertamu ke tetangga," jawab Nita.


Iya, ibumu adalah tetangga itu, aku tidak sudi mengakuinya sebagai besan, batin Maryati.


"Hmm… tetap saja. Kamu boleh kesana saat pekerjaan dirumah ini selesai!" Ucap Maryati dengan tegas.


Nita mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ingin rasanya dia membela diri dan menjabarkan perasaannya selama ini yang diperlakukan kurang baik oleh ibu mertuanya. Nita merasa hubungannya dengan ibu mertua itu seperti majikan dan pembantu. Miris, memang sangat miris.


Arman datang dari arah kamar, dia baru bangun dari tidur siangnya. Maryati merasa tegang, dia takut anaknya mendengar apa yang dia bicarakan.


"Man, sudah bangun? Ibu kira kamu masih tidur. Ini Nita baru pulang," ucap Maryati.

__ADS_1


Arman diam sejenak, dia menatap ibunya cukup lama.


Bersambung ….


__ADS_2