Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Daffa Vs Maryati


__ADS_3

Riki berusaha menahan diri sampai Maryati melepaskan pelukannya.


"Jika aku tidak menganggap nenek adalah nenekku. Itu bukan kesalahan orang lain, tapi kesalahan nenek sendiri yang memperlakukan aku, Nabila dan ibu secara tidak adil. Kami bukan orang pendendam, tapi jika nenek sudah keterlaluan, lebih baik aku menjauh daripada membalas perbuatan nenek bukan?" Ucap Riki.


Lelaki itu pun pergi tanpa menoleh ke belakang, rasa kecewanya yang semakin hari semakin menumpuk membuatnya memberontak kali ini. Masih terngiang di telinganya saat Maryati mengatakan jika dia tidak mengakuinya sebagai neneknya karena hasutan nenek Ani, dan karena dia matrealistis. Sungguh memutar balikkan kesalahan.


(Nenek kangen sama kamu Riki, sudah lama kamu tidak mengunjungi nenek. Apa kamu tidak Sudi menginjakan kaki di sana karena tempatnya jelek? Nenek akui jika disini kamu hidup lebih layak, nenek bersyukur akan hal itu. Tapi nenek sedih karena merasa kalian menjauh dari hidup nenek dan mulai melupakan nenek, ini semua pasti gara-gara nenek Ani kan?) Begitulah ucapan Maryati saat memeluk Riki.


***


Bu Nina menghampiri Maryati yang memasang wajah sedih. "Lihatlah, cucuku memang telah berubah. Dia tidak mau mengakuiku sebagai neneknya, hiks… hiks…"


"Sabar Bu, sebaiknya dibicarakan baik-baik. Dari apa yang diucapkan Riki, sepertinya ada kesalahpahaman disini," ucap Bu Nina. Wanita itu tidak bisa mempercayai salah satu dari mereka, Nina ragu dengan ucapan Maryati karena sempat menebar fitnah juga sebelumnya. Tapi saat melihat raut wajah wanita yang keriput itu membuat Nina merasa kasihan dan tak bisa menolak untuk lebih mempercayai Maryati dan menghiburnya.


"Bukan salah paham, tapi Ani yang membuat aku dan cucuku saling menyalahkan, saling membenci satu sama lain. Aku tidak akan membenci cucu-cucuku karena aku tahu mereka tidak salah, yang salah itu jelas Ani," jawab Maryati.


Nina hanya mengangguk-ngangguk seolah membenarkan apa yang dikatakan Maryati. Mereka kemudian semakin memasuki ruangan itu semakin dalam, mereka bertemu dengan keluarga besar Ani. Ada Liana yang sudah sangat cantik disana, ada Nita dan juga Arman. Mereka agak terkejut dengan kehadiran Maryati karena sebelumnya memang Maryati mengatakan jika dia tidak mau ikut.


"Tuh lihat ekspresi mereka! mereka kaget melihat aku disini. Mereka kan tidak mengundang dan mengakui aku, terlalu memang mereka ini," ucap Maryati pada Nina.


Membuat Nina termakan omongan Maryati dan ikut kesal pada sekumpul keluarga di depannya.


"Iya Bu keterlaluan sekali, seharusnya mbak Nina tidak memperlakukan mertuanya seperti ini," jawab Nina. Maryati merasa puas dalam hatinya.


Arman langsung menghampiri ibunya, "ibu, ibu juga ada disini? Aku kira ibu dirumah. Ayo gabung Bu, kita kesana..!" Ucap Arman.

__ADS_1


"Kamu pikir ibu mau ditinggal sendirian dirumah, seharusnya kamu ngajak ibu juga kesini," ucap Maryati.


"Loh, kan tadi–," ucap Arman yang terhenti karena Maryati kemudian menarik lengan Arman agar membawanya bergabung dengan keluarga Bu Ani.


Nina pun mengikuti mereka dari belakang, dia ingin mengucapkan selamat kepada Bu Ani dan Liana sebagai tamu yang diundang. Namun ruangan mendadak heboh, ternyata sang mempelai pria datang dengan balutan jas hitam. Berjalan dengan gagah, tentu Daffa masih sangat muda di usianya yang ke 28 tahun, apalagi di usianya sudah sukses dengan perusahan ayah angkatnya.


"Masih sangat tampan dan gagah, sepertinya masih perjaka dan bukan om-om. Berarti apa yang dikatakan Ibu dulu itu hoax Bu," ucap Nina pada Bu Maryati.


Maryati mulai tegang, Liana pun yang sempat mendengarnya, dia menoleh sesaat pada ibu mertua kakaknya itu. Namun dia lebih mementingkan acara pertunangannya itu sekarang. Matanya kini fokus pada pria disampingnya.


Bu Ani tak terlalu memperhatikan Nina dan maryati, dia lebih fokus pada calon menantunya yang gagah itu. Sementara Nita menatap Bu Nina seakan meminta penjelasan.


"Ish kamu ini. Aku juga mendengarnya dari orang lain, ya mana aku tahu itu gosip atau bukan," kilah Maryati yang tidak mau disalahkan, apalagi melihat Nita yang sudah curiga.


Hingga Nina pun fokus pada inti acara, dia melupakan apa yang ingin dikatakannya tadi, begitu pula dengan Nita yang tidak mau suudzon pada mertuanya. Sementara Titin yang sedari tadi sengaja memperhatikan gerak-gerik Maryati dia hanya menggelengkan kepalanya, karena merasa tak habis pikir ada wanita tua seperti Maryati disini.


***


Acara pertunangan itu berjalan lancar, setelah acara inti semua tamu dipersilahkan untuk makan sesuka hati. Para tamu sebagian akan pulang dan memberi selamat pada sepasang sejoli disana yang masih dalam posisi canggung.


Maryati disambut dengan baik oleh Ani, Nita dan Arman pun masih perhatian seperti biasanya. "Ibu mau makan sama apa, biar Nita ambilkan?" Tanya Nita.


"Biar aku aja Dek, kamu fokus saja sama acara adik kamu..!" Ucap Arman.


"Iya, jangan sungkan-sungkan Mar," ucap Ani dengan senyumannya. Wanita itu memang tidak mau menyimpan dendam.

__ADS_1


Sementara Nabila dan Riki sama sekali tidak menganggap nenek Maryati itu ada. Mereka asyik berdua, karena memang biasanya juga seperti itu. Cucu dan nenek itu saling cuek saat dirumah yang dulu.


Maryati memasang wajah datar tanpa senyuman, dia hanya menjawab pertanyaan Arman. Dia meminta diambilkan makanan yang dia suka. Nina yang melihat itupun mengerutkan keningnya, namun Maryati yang seolah mengerti, dia langsung berbisik di telinga Nina. "Biasalah pencitraan di depan banyak orang."


Nina pun terpaksa menganggukan kepalanya dengan senyuman kecil. Dia tidak menyangka jika Bu Ani yang terkenal baik hati dan dermawan ternyata tak sebaik yang dia pikirkan sebelumnya.


Saat Daffa bergabung dengan mereka, terlihat lelaki itu dingin dan cuek. Dia hanya senyum sesekali dan sesaat, Liana pun tak mau komen dan membiarkan lelaki itu bersikap semaunya.


Maryati yang penasaran, tentu dia mendekati Daffa dan mulai mengorek informasi. Tak lupa dia juga menarik tangan Nina yang dianggapnya teman sekarang.


"Hmm, apa sudah lama Nak Daffa mengenal Liana? Menurut saya Liana terlalu muda, apa yang membuat nak Daffa yakin meminangnya?" Tanya Maryati.


Tapi Daffa yang memang dingin dan tidak suka sembarangan berbicara dengan orang yang tidak terlalu dikenal. Dia memilih diam, dan itu membuat Maryati kesal, tapi dia berusaha tenang karena dia tahu lelaki di hadapannya itu bersikap seperti itu karena banyak uang.


"Ih sombong ya?" Tanya Nina berbisik di telinga Maryati tapi mampu didengar oleh Daffa.


Lelaki itu masih saja diam, dia fokus pada minuman dan juga ponselnya.


"Zaman sekarang, memang anak muda itu tidak punya sopan santun pada orang tua. Ditanya malah diem aja," ucap Maryati yang sengaja mengejek Daffa.


Daffa mulai terusik, dia menaruh minuman dan juga ponselnya. Mata tajamnya mulai menatap Maryati dan juga Nina yang ada disampingnya.


Maryati tak mau kalah, dia menatap Daffa dengan tatapan tajam juga.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2