
Firman memegang dahinya, memijatnya perlahan. Dia kemudian menghempaskan badannya ke sofa, dia sudah tidak sanggup menghadapi dua wanita di hadapannya itu.
"Sudahlah Man, kamu ceraikan saja dia. Istri kok gak manut sama suami. Kasar juga sama mertua, gak ada baik-baiknya," ucap Maryati ketus.
"Hahah… aku kurang baik apa Bu. Anak lelakiku itu bisa hidup enak tanpa harus mencari pekerjaan yang sulit, terlebih jenjang pendidikan terakhir Mas Fadil bukanlah sarjana. Rumah sudah disediakan ibuku, usaha ada, hidup berkecukupan. Seharusnya ibu yang sadar dimana kaki ibu berpijak sekarang!" Jawab Kinan.
"Stop…," teriak Firman.
"Ibu mau aku bercerai dengan Kinan begitu? Tapi aku tidak mau anak-anak menjadi korbannya Bu. Ibu mau aku bahagia kan? Maka ibu mengalahlah, toh rumah ini juga rumah Kinan. Kinan memenuhi kebutuhan ibu juga, dia baik kok Bu meski terkadang cerewet," ucap Firman.
"Cerewet katamu Mas?" Tanya Kinan sambil membulatkan matanya.
Firman tersenyum saat Kinan mulai marah lagi, terlebih saat mendengar kata cerewet yang memang itu adalah sebuah kejujuran.
"Iya, kamu memang cerewet. Seharusnya kamu sabar seperti Nita," ucap Maryati.
Dibandingkan dengan menantu lain, tentu Kinan semakin tidak suka. Dia memilih masuk ke dalam kamar demi menjaga hati dan pikirannya, terlalu lama berdebat dengan mertuanya bisa membuatnya sakit kepala.
Sementara Maryati pun tidak terima saat dia tidak dihargai. Dia ditinggalkan pergi begitu saja saat masih belum selesai berbicara. Firman lebih membela Kinan, dia mencintai istrinya meski terkadang istrinya itu tidak menghargai keberadaannya.
Firman mengantar ibunya ke kamar untuk menenangkan diri, setelah itu… dia ikut menyusul istrinya ke kamar. Dia tidak ingin larut dalam masalah ini, hidupnya terasa kacau dan tidak ada ketenangan.
__ADS_1
Apa aku berdosa, jika aku berpikir kalau masalah ini datang saat aku membawa ibu ke rumah ini? apa aku harus memulangkan ibu pada Arman lagi? Batin Firman.
***
Keesokan harinya, Kinan pergi pagi-pagi sekali untuk menghindar dari mertuanya. Malam itu, Firman sudah berjanji akan memulangkan sang ibu pada adiknya Arman beberapa hari lagi.
"Man, istrimu mana? Apa dia masih tidur? Tumben sekali," ucap Maryati.
"Gak ko Bu. Kinan sudah berangkat ke toko, makanya anak-anak hari ini aku yang mengantarnya," jawab Firman.
"Ibu ikut ya Man?" Tanya Maryati.
Akhirnya Maryati setuju setelah Firman memberi beberapa uang lembar berwarna merah. Menurut lelaki itu, lebih baik dia mengeluarkan uang daripada ibunya harus ke toko dan berulah disana. Terlebih ibunya sudah tua dan pasti kelelahan jika harus ikut dengannya hari ini.
Firman pun berangkat, begitu juga dengan Hana dan Dina. Karena tidak ada orang yang bisa diajak bicara, Maryati pun pergi ke depan rumah. Dia sempat berbicara dengan beberapa tetangga, tentu saja dia menggosipkan Kinan karena menantunya itu telah berani melawan keinginannya.
Aku harap setelah ini Kinan merasa kapok dan tunduk padaku, batin Maryati.
Beberapa hari kemudian, Maryati dan Kinan akhirnya sepakat. Mereka akan pura-pura berbaikan jika ada Firman. Tapi jika lelaki itu tidak ada, mereka akan saling melempar tatapan tajam dan sindiran.
***
__ADS_1
Berbeda dengan Nita, keluarganya seakan mendapatkan kebahagiaan tiada henti. Arman mendapatkan promosi, sehingga dia bisa naik jabatan. Nita masih bekerja, dia masih sanggup melakukan aktivitas seperti biasanya meski sekarang kehamilannya menginjak usia 4 bulan.
"Anak Mamah memang pintar. Dibawa kerja gak rewel," ucap Nita sambil mengelus perutnya.
Arman datang menjemput istrinya, setelah kehamilan Nita diketahui, laki-laki itu semakin perhatian dan berusaha menjaga istrinya lebih baik lagi. Riki dan Nabila mengalah, mereka tinggal bersama Bu Ani sang nenek. Tentu agar ibunya menjadi pusat perhatian sang ayah, agar Arman fokus pada ibu mereka.
Jika ibu hamil bahagia, tentu calon bayinya juga akan sehat. Itu yang diyakini Riki dan Nabila, Arman pun paham itu. Dia berusaha keras agar kehamilan yang sekarang, Nita merasa spesial dan bahagia.
Mengingat masa lalu, saat hamil Nabila. Nita masih disibukkan mengurus Maryati dan bekerja. Waktu itu, Arman juga kurang peka sehingga tidak tahu istrinya sedang butuh bantuannya.
"Sayang, ayo pulang?" Ajak Arman.
Nita tersenyum lebar, batu saja dia duduk jok motor belakang. Arman merogoh ponsel miliknya yang kini berdering cukup keras. Lelaki itu pun mengangkat telepon itu sebentar, Nita mengangguk setuju dan paham dengan apa yang diisyaratkan suaminya.
"Iya Mas, ada apa?" Tanya Arman.
"Apa, ibu kecelakaan? Bagaimana keadaan ibu sekarang?" Wajah lelaki itu tampak kaget sekaligus cemas.
Nita yang mendengar ucapan suaminya pun kini merasa cemas dengan keadaan mertuanya.
Bersambung …
__ADS_1