Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Sindiran


__ADS_3

Arman terpaksa tidur diteras rumah, tanpa selimut dan hanya menggunakan tasnya sebagai bantal. Sebelumnya dia pergi ke warung sekitar rumah Bu Ani dan membeli makanan sekaligus bertanya mengenai keberadaan mereka.


"Maaf, saya gak tahu Mas. Tapi tadi pagi masih ada kok," jawab ibu penjaga warung.


"Oh begitu ya Bu, kalau disini ada penginapan murah gak ya?" Tanya Arman.


"Gak ada Mas, ini kan masih perkampungan. Ada juga kontrakan serumah, itupun udah isi semua," jawab ibu penjaga warung.


"Oh begitu, makasih ya Bu informasinya," ucap Arman berlalu pergi. Dia memilih menunggu sampai pagi, siapa tahu Nita pulang. Berkali-kali menelpon pun masih saja nomor istrinya itu tidak aktiv.


Dingin, itu yang dirasakan Arman. Tidur dikursi bambu tanpa alas apapun. Dia juga hanya membawa beberapa baju ganti dan jaket, hingga akhirnya dia memakai dua jaket miliknya sekaligus, untung dia juga membawa kaos kaki.


Masih ada rasa syukur yang ia panjatkan, dia kini harus bersabar menunggu kedatangan istrinya. Aku harus bisa membawa Nita pulang, batin Arman.


Suara adzan subuh membangunkan Arman, dia bergegas menuju sumber suara, ke masjid terdekat. Disana dia mendengarkan tausiah sebentar, dimana harus ada kerja sama antar suami istri. 


Pekerjaan rumah tangga pun bukan sepenuhnya pekerjaan istri. Itu tanggung jawab lelaki yang harus bisa memberikan tempat tinggal yang layak dan bersih untuk istri, memberinya makanan yang layak dan sehat. Istri hanya patuh, istri membersihkan rumah semata-mata meringankan pekerjaan suami yang lelah bekerja, berharap ridho dan juga pahala.


Selama ini Arman menganggap itu kewajiban istri, bahkan mencari nafkah pun sebenarnya itu sedekah jika dilakukan oleh seorang istri. Seharusnya aku beruntung memiliki istri sepengertian Nita, tak seharusnya aku bersikap egois dan mau menang sendiri. Seharusnya aku mendengarkan keluh kesahnya, batin Arman.


***


Pagi itu Arman membeli sarapan yang dibungkus kertas nasi, dia kemudian membawanya ke rumah Nita. Dia berharap sudah ada orang dan pintunya terbuka. Tapi nihil tidak ada orang disana, Arman menghabiskan makanannya diteras rumah.


Arman berniat menunggu sampai siang hari, tapi ponselnya berdering.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum…, ada apa Riki?" Tanya Arman.


"Ayah diamana? Aku mau sekolah, tapi gak ada yang jagain nenek. Bu Nuni bilang tidak sanggup menjaga nenek lagi. Bagaimana ini yah?" Tanya Riki.


"Kok bisa sih, Bu Nuni udah ayah kasih uang. Yaudah Ayah pulang sekarang, kamu izin dulu satu hari ya, beli makanan di depan buat nenek juga!" Ucap Arman.


"Tapi yah, nenek bau banget kayaknya buang air besar. Aku gak bisa bersihinnya," keluh Riki.


"Astagfirulloh…, udah biarin aja dulu. Nanti ayah telepon lagi Bu Nuni, Nabila suruh sekolah ya..!" Ucap Arman.


"Iya yah," jawab Riki dengan suara lesu. Sepertinya Riki memang keberatan dengan tugas yang diberikan sang ayah.


Arman mengacak-ngacak rambutnya karena masalah terasa datang bertubi-tubi. Masalah yang datang dari arah mana saja, ternyata bukan perkara rezeki saja yang datang dari arah mana saja. Masalah Dela dan ibu membuatnya pusing, ditambah Nita pergi dan menjadi masalah baru, bukannya membantu.


Tapi, ini juga salahku. Wajar Nita pergi karena tertekan dan stress, batin Arman.


***


Sekitar pukul 3 siang, Arman tiba di rumah. Rumah tampak sepi, terlihat rumah juga rapih. Siapa yang membereskan semua ini? Bukannya Bu Nuni menolak melanjutkan pekerjaan hari ini? Batin Arman.


Hati Arman mendadak senang, dia berusaha pergi ke semua ruangan untuk mencari istrinya. Tapi dia tidak menemukan perempuan pujaan hatinya.


"Nabila …, Mamah udah pulang?" Tanya Arman.


"Loh, kan Mamah masih di rumah Nenek Ani, Bila kira Mamah akan pulang bareng Ayah," jawab Nabila.

__ADS_1


"Lalu, rumah kok bersih dan rapih? Terus nenek kamu udah makan belum?" Tanya Arman penasaran.


"Oh, ini aku bersihin semuanya bareng kak Riki. Nenek udah bersih juga karena tadi bu Nuni kembali buat bersihin nenek aja, katanya kasihan liat aku dan kak Riki kebingungan. Bu Nuni nitipin uang ini juga buat Ayah, beliau bilang ambil setengahnya karena sanggupnya cuma sehari aja," jawab Nabila.


Arman pun duduk lemas, dia benar-benar kecewa karena tidak ada Nita di rumah. Tapi setidaknya ibunya masih terurus, dia kembali menelpon istrinya dan masih saja tidak aktiv.


Tak berselang lama setelah istirahat sejenak, Arman pergi menuju warung makan didepan. Mana mungkin dia masak disaat tubuhnya masih lelah karena perjalanan jauh. Mata ibu-ibu disepanjang jalan membuat Arman tak nyaman.


"Ada apa dengan mereka semua? Apa ada yang aneh?" Gumamnya pelan. Tapi sebisa mungkin Arman berpikir positif, cukup sudah kepalanya banyak diisi dengan beban pikiran. Dia tidak mau menambahnya lagi dengan masalah sepele.


Saat melewati para ibu-ibu, terdengar suara Bu Fatma yang lantang, "kalau gitu sih jatuhnya fitnah dan mematikan rezeki orang, mulut lelaki kok lemes ya, belain ibunya tapi fitnah orang lain. Kasihan ya Rini jadi sepi job kan."


"Bener Bu, kasihan juga istrinya ya kalau kelakuan keluarga suaminya gitu," Ucap Bu Kila.


"Bener Bu, dari kemarin gak liat istrinya. Apa minggat ya karena gak tahan? Bagus itu, mending tinggalin aja kalau batin tersiksa, hmmm…," jawab Bu Lili.


Arman merasa itu untuk dirinya saat mendengar nama Rini, tapi berusaha positif lagi dan menganggap itu buat orang lain. Lagipula Arman tidak merasa melakukan fitnah itu, dia masih berpikir dia benar, ibunya benar.


Sore itu setelah menyuapi ibunya, Bu Maryati diajak keluar oleh Arman. Berjalan kaki agar kaki ibunya tidak kaku, Arman membantu memegangi ibunya, Bu Maryati juga sudah berpegangan pada tongkatnya.


"Hmmm… kemana istri kamu Man, biasanya juga Nita yang ngurusin ibu kamu. Anak-anaknya mana mau kan? Pada egois sih, mau enaknya sendiri. Giliran harta aja gesit. Sawah ibumu sudah diukur-ukur tuh kemarin sama Dela, mau dijual ya? Padahal ibunya masih hidup," ucap Bu Fatma.


Deg!


"Maksud Bu Fatma apa bicara seperti itu?" Tanya Arman dengan kilatan mata penuh amarah. Arman kesal karena tadi juga Bu Fatma berbicara asal. Dia juga terkejut dengan pembahasan lahan sawah yang dijual.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2