Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Fitnah


__ADS_3

Arman yang mengetahui bahwa ibunya memang tidak suka dengan istrinya itu, dia tidak menyangka jika sikap ibunya akan berlebihan seperti ini. Apakah sebegitu bencinya ibu pada Nita? Padahal Nita sudah membantu merawat ibu juga tanpa mengeluh, adakah alasan lain? Batin Arman.


Arman memilih berpura-pura tidak mendengar percakaapn tadi. Dia melangkah dengan pelan dan sedikit oleng karena berakting baru bangun tidur.


"Emmh… kamu masuk aja Dek, istirahat sana..! Biar Mas yang beresin rumah. Mas udah seger tadi tidur lumayan lama," jawab Arman.


Nita mengangguk dan langsung menuju kamar, dia memanfaatkan apa yang suaminya katakan. Dia sedang tidak ingin lama-lama berhadapan dengan ibu mertuanya. Hari ini Nita benar-benar lelah.


"Man, kamu kan laki-laki, biarin aja Nita yang membereskan rumah!" Ucap Bu Maryati.


"Gapapa Bu sesekali nyenengin istri, hehe…," jawab Arman berlalu menuju dapur.


Sementara Maryati dibuat kesal oleh tingkah Arman. Disaat dirinya ingin anak dari musuhnya itu menderita, tapi anak kandungnya malah membantu Nita dan membuat wanita itu nyaman.


Di dapur, Arman terus berpikir jika dia perlu memisahkan istri dan ibunya. Tapi bagaimana caranya? Sudah sekian lama hubungan mereka tidak pernah ada kemajuan. Andai saja ibunya itu menerima Nita sebagai menantu, pasti akan membuat Arman tenang bahkan saat meninggalkan mereka berdua dalam satu rumah.


Dua-duanya adalah wanita berharga, tapi Arman juga harus membedakan mana yang harus dia bela. Mana yang benar dan mana yang salah. Satu hal yang tak bisa Arman lakukan, menghukum ibunya atas sikapnya yang salah. Dia tidak tega, tapi dibiarkan pun malah semakin menjadi-jadi, Arman bingung.


***

__ADS_1


Keesokan harinya saat semua disibukkan dengan aktivitasnya, Maryati malah sibuk kepo dengan kehidupan Ani. Dia terus saja memperhatikan rumah besar yang ada di depannya sampai dia melihat lelaki berumur 40 tahunan turun dari mobil mewah dan masuk ke dalam rumah Ani.


"Apa itu calon Liana? Pantas saja royal, pasti lelaki tua itu senang mendapatkan Liana yang masih muda. Atau jangan-jangan Liana menjadi simpanan suami orang? Oh astaga," gumam Maryati.


Maryati terus mengintip, dia melihat lelaki tadi berbincang bersama Liana di teras rumah. Sampai dia dikagetkan oleh seseorang yang ikut penasaran juga.


"Bu, lagi ngapain?" Tanya Rosi tetangga sebelah. Dia sama-sama mengontrak di kontrakan Ani.


"Astaga bikin kaget aja, gak lihat apa saya lagi serius ini," jawab Maryati.


"Iya lagi apa? Oh liatin mereka, lelaki itu memang sudah beberapa kali datang, sepertinya saudara jauh Bu Ani," ucap Rosi.


"Yang bener Bu, kok tua ya? Memang ibu kenal sama Bu Ani?" Tanya Rosi.


"Kenal, bahkan sangat kenal. Lihatlah lelaki itu memberikan amplop coklat tebal, pasti isinya uang. Jadi istri kedua jika lelakinya kaya pasti tidak masalah buat Liana yang dari kampung itu," jawab Maryati.


Dendam Maryati sepertinya semakin hari malah semakin besar. Dia tidak rela jika keluarga Ani lebih bahagia darinya, lebih kaya darinya, karena dengan begitu dia tidak bisa menindas dan menghina mereka. Dia tidak ingin membiarkan wanita yang merebut lelakinya bisa hidup dengan bahagia tanpa rasa bersalah.


Meski dia sudah menikah dengan orang lain, tapi dia masih menjadikan Ilham (suami Ani) sebagai penghuni hatinya sampai sekarang. Maryati sudah berjanji untuk membuat keluarga itu berpisah, tapi cinta Ani dan Ilham sangat kuat, saling percaya. Maryati yang gagal memisahkan mereka tidak menerima kekalahan.

__ADS_1


Wanita itu sekarang melampiaskannya pada Nita. Meski menantunya itu masih saja bertahan.


Setelah menebar fitnah, Maryati tersenyum puas. Dia hanya tinggal menunggu bom itu meledak, dia tidak perlu bersusah payah karena fitnah bisa tersebar luas dengan cepat.


Arman pun pulang, dia merasa heran dengan ibunya yang senyum sendirian. "Ibu lagi seneng ya Bu, ada apa sih Bu?" Tanya Arman penasaran.


"Ah gak kok. Ibu mau bikin teh manis tapi tadi gulanya habis Man," jawab Maryati. Dia tidak mungkin menceritakan apa yang membuatnya senang sehingga dia mengalihkan pembicaraan.


"Yaudah, Arman ke warung dulu sebentar," ucap Arman.


Dia bergegas menyimpan tasnya dan berlalu pergi ke warung yang tak jauh dari kontrakan itu. Saat di warung banyak sekali ibu-ibu yang membahas Liana. Arman tak sengaja mendengar itu, dia tak percaya jika adik iparnya serendah itu. Dia marah karena adiknya digosipkan.


"Maaf ibu-ibu. Apa kalian melihatnya secara langsung dan apa kabar itu pasti? Saya selaku kakak ipar Liana sangat tidak nyaman dengan apa yang ibu-ibu bicarakan. Dia tidak mungkin seperti itu," ucap Arman.


"Lah, kan ibumu yang bilang. Ibumu berarti besan Bu Ani bukan? Beliau kenal dekat dengan keluarga Bu Ani. Berarti kabar ini pasti benar karena sumbernya juga orang terdekat," jawab Bu Rosi.


"Ibu, ibu saya?" Tanya Arman tak percaya.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2