
Nita memaksakan dirinya untuk kembali ke kota sang suami. Meski hatinya berat, tapi dia tak tega meninggalakan kedua anaknya yang masih membutuhkan kasih sayangnya. Nita akan memberikan kesempatan lagi pada suaminya.
Selama perjalanan dia mengenang masa-masa indah bersama Arman. Sepertinya dia harus lebih sering membayangkan hal manis dengan Arman agar hatinya bisa teguh berlabuh pada suaminya.
Terkadang satu kesalahan manusia bisa membuat seribu kebaikan terlupakan. Nita tidak mau berpikir seperti itu, makanya dia akan mengingat kebaikan-kebaikan Arman selama ini.
(Mah, jadi pulang kan hari ini?) Riki
(Jadi kok, ini Mamah lagi dijalan.) Nita
(Senangnya…, ☺️ hati-hati dijalan Mah..! Nabila pasti senang kalau pulang udah ada Mamah dirumah.) Riki
(Iya Nak, kamu juga belajar yang bener ya. Jangan lupa makan, sekarang kan waktunya istirahat sekolah..!) Nita
(Iya Mah, aku kekantin dulu.) Riki
Tak berselang lama ponselnya berdering, Arman meneleponnya. Setelah kemarin Nita mengabaikan pesan yang dikirim suaminya, kini dia berniat memperbaiki hubungannya, diapun mengangkat telepon itu.
Belum juga dia mengucapkan salam, Arman malah langsung bicara dengan cepat. "syukurlah Dek, akhirnya nomor ponselmu aktif juga. Kamu dimana? Mas kemarin ke rumah ibu buat jemput kamu, tapi gak ada orang. Pintu rumah juga digembok, mas terpaksa pulang karena Riki dan Nabila menelpon," ucap Arman.
Nita kaget mendengar penuturan suaminya, dia tidak menyangka jika suaminya sampai rela menyusulnya meski jauh. Nada bicara Arman juga sepertinya khawatir, wanita itu merasa sedikit lega karena Arman sepertinya menyadari kesalahannya dan tidak membenarkan dirinya sendiri.
"Aku dikereta mas, iya kemarin aku sama ibu ke rumah sakit dan sempat menginap karena kondisi ibu," jawab Nita.
"Alhamdulillah kamu akhirnya pulang Dek, semoga ibu cepet sembuh ya Dek. Kalau ibu masih sakit kenapa kamu udah pulang?" Tanya Arman.
"Mas tahu sendiri kita masih perlu pemasukan, aku tidak mau kalau harus kehilangan pekerjaanku," jawab Nita.
"Kamu benar. Makasih ya Dek selama ini kamu udah bantuin Mas," ucap Amar.
__ADS_1
Ada senyuman di bibir Nita. Pasalnya baru kali ini suaminya mengucapkan rasa terima kasih padanya karena telah bekerja membantu perekonomian keluarga. Bukankah dia bekerja sudah lama? Ah iya Nita bersyukur karena perubahan pola pikir Arman itu.
***
Sekitar pukul 14.00 Nita kini sudah sampai di rumahnya. Dia selalu membawa kunci cadangan kemana-maan. Dia tahu suami dan anak-anaknya belum pulang, dia berpikir jika hanya ada ibu mertuanya didalam dan terbiasa dikunci dari luar. Ada kunci juga di dalam rumah menggantung dipintu ini jika sewaktu-waktu ada hal yang tak diinginkan terjadi pada ibu.
Ceklek
Nita mengucapkan salam, dan tidak ada jawaban. Dia berjalan ke dapur untuk mengambil air karena merasa haus, dia kaget mendapati ibu mertuanya sedang membuat mie rebus.
"Astagfirullahaladzim ibu lagi apa?" Tanya Nita.
"Lagi bikin makanan lah, masa kamu gak lihat," jawab ibu Maryati dengan ketus.
Alhamdulillah ibu sudah bisa bicara dengan baik, bahkan sangat baik, batin Nita.
"Bu, sebaiknya ibu makan lauk pauk dimeja makan saja Bu..! Mie instan kan gak baik buat kesehatan ibu," ucap Nita pelan.
"Kamu gak usah ngatur-ngatur! Aku lebih suka kalau kamu tidak ada dirumah," jawab ibu.
Nita hanya mengelus dada, dia sepertinya harus menambah stok sabarnya ketika ibu mertuanya sudah sembuh. Biarlah, toh beliau yang mau, yang penting aku sudah mengingatkan, batin Nita.
Nita memilih meninggalkan ibu mertuanya setelah menghilangkan rasa hausnya. Dia memilih merebahkan diri di ranjang, memikirkan apa langkah yang harus dia ambil. Nita terngiang tawaran Daffa yang akan memberikannya rumah baru di kota, dengan syarat tertentu pastinya.
Saat anak-anak Nita pulang, mereka menyambut kedatangan ibunya. Mereka memeluk erat dan juga menyuapi ibunya saat makan bersama. Mereka senang pada akhirnya mereka tidak jadi anak broken home. Mereka sudah besar dan tahu arti pertengkaran dan perceraian orang tua.
"Mamah jangan pergi lagi ya..!" Ucap Nabila sambil memeluk Nita.
"Hmm.. iya," jawab Nita.
__ADS_1
"Nabila gak ada tempat curhat, ayah sibuk dan nenek bukan tempat yang tepat," ucap Nabila dan mengatakannya secara pelan saat mengatakan kata nenek.
"Kan ada kak Riki," jawab Nita.
"Kak Riki bisanya cuma ngeledekin aku Mah, males curhatnya juga," keluh Nabila.
Riki yang mendengar perkataan adiknya itu, dia hanya senyum-senyum sendirian. Riki memang seorang kakak yang sering iseng, meski begitu dia penyayang, peduli dan selalu melindungi Nabila.
Ketika didalam kamar, Nita memindah kan baju yang dibawanya di dalam tas ke dalam lemari. Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.
Deg!
Nita sempat kaget, tapi dia yakin kalau yang ada di belakangnya itu suaminya. Nita mencoba membalikan badannya tapi pelukan itu erat sekali.
"Sayang … diamlah..! Aku masih merindukanmu, ingin memelukmu lebih lama," ucap Arman.
Ah… rasanya sudah lama Mas Arman tidak manja seperti ini. Biasanya dia kan cuek dan sibuk dengan pekerjaannya, hanya berbincang berdua saja, itu sudah momen yang bagus, batin Nita.
Nita membiarkan suaminya itu melakukan apapun yang diinginkannya. Arman berbisik lembut di telinga Nita, "maafkan Mas ya Dek, kamu benar selama ini aku berat sebelah. Aku lebih mempercayai ibu tanpa mendengarkan keluh kesahnya, aku janji akan berusaha menjadi seorang lelaki yang bisa mengurus ibu dan juga istrinya sekaligus. Berikanlah ibu kesempatan, pasti beliau bisa beruba..!" Ucap Arman.
Nita pun mengerti posisi Arman yang tak bisa memilih antara ibu dan istri. Nita sebagai istri harus lebih mengerti jika dia bukanlah satu-satunya wanita yang berharga bagi suaminya.
Bukan berbagi suami, hanya berbagi kasih sayang dan perhatian Arman saja. Bukankah istri dan ibu sama-sama mulia. Nita juga akan lebih sabar dan mencoba memaklumi sikap ibu yang memang sudah seperti itu, apalagi mengingat usia ibu yang lanjut usia.
"Iya Mas, mati kita sama-sama intropeksi diri demi keluarga kita, demi anak kita..!" Jawab Nita.
"Man… Arman…," teriak ibu Maryati yang membuat mereka langsung melepaskan pelukan mesra itu. Bergegas mereka menemui ibu Maryati takut terjadi apa-apa.
Bersambung....
__ADS_1