
Kinan tidak berbicara satu kata pun selama perjalanan pulang. Sementara Maryati saking senangnya, dia berbicara tiada henti mengenai bajunya yang bagus. Firman mennaggapi ibunyabitu seadanya, dia merasa tidak enak hati karena uang yang dipakai berbelanja adalah uang istrinya.
Selama ini dia saja sangat sungkan memakai uang sang istri untuk keperluan pribadinya. Dia selalu lebih dulu mendapatkan baju, sepatu dari Kinan sang istri. Penampilan Firman haruslah setara dengan penampilan Kinan.
Setelah sampai di rumah, Kinan memasuki kamar dengan perasaan kesal. Disusul oleh Firman sang suami. "Mah, jangan marah dong..! Untuk kali ini aja kok. Aku janji ibu tidak akan merepotkan kamu lagi. Maaf ya…," ucap Arman.
"Hmm … , aku sudah menduganya Mas. Ibu kamu itu tidak pernah berubah, dari dulu masih saja begitu. Untuk kali ini aku tidak akan diam saat ibumu memutar balikkan fakta," jawab Kinan. Dia teringat saat Maryati menyalahkannya atas kasus pecahnya pas bunga. Bukannya meminta maaf, malah menyudutkan Kinan.
"Iya, aku juga tidak akan membela yang salah. Kamu harus lebih sabar menghadapi ibu..! Ibu kan sudah tua," ucap Firman.
"Iya Mas," jawab Kinan.
***
Sejak kejadian itu, Maryati semakin berulah. Dia seperti menguasai rumah. Meminta pembantu Kinan memasak menu yang dia suka tanpa bertanya pada Kinan dan yang lainnya. Bukan hanya itu, dia juga malah ikut ke toko yang dikelola Firman dan bersikap seperti nyonya. Membuat para karyawan merasa tidak betah.
"Jangan diem aja, beresin itu tuh! Kamu mau makan gaji buta ya?" Ucap Maryati pada Tifa, salah satu karyawan toko.
"Maaf Bu, itu pekerjaan berat dan biasa dikerjakan oleh karyawan laki-laki. Saya memang ditugaskan didepan untuk melayani pembeli saja," jawab Tifa.
"Alah, kan belum ada pelanggan lagi. Masa bernatakn gitu dibuatin aja sih," protes Maryati.
Dengan berat hati Tifa memindahkan beberapa kardus berat berisi bahan makanan seperti terihmgu, gula dan yang lainnya. Sementara karyawan lelaki memang sedang sibuk di gudang. Nisa pun membantu Tifa sampai mereka banjir keringat.
__ADS_1
"Dia siapa sih Nis, apa benar ibu mertuanya Bu Kinan?" Tanya Tifa.
"Sepertinya begitu, soalnya Pak Firman manggilnya ibu. Tapi kok sikapnya beda jauh sama bos Firman ya?" Jawab Nisa.
"Iya, udah tua nyebelin pula. Dia pikir angkat beginian gak berat apa. Kalau aku lagi hamil, udah keguguran ini," keluh Tifa.
"Heh, kerja! Jangan malah ngegosip!" Ucap Maryati dengan keras. Mereka langsung melanjutkan pekerjaannya, dan menatap dengan mata malas saat Maryati berlalu pergi.
Untunglah beberapa saat kemudian toko mulai ramai, Tifa dan Nisa kembali ke tempatnya. Firman dan beberapa karyawan lelaki juga sudah kembali.
***
Seminggu berlalu, Tifa dan Nisa mengeluh pada Kinan tentang sikap Maryati yang seenaknya. Mereka berniat berhenti bekerja saja.
Tifa dan Nisa saling berpandangan satu sama lain. Mereka kira akan dipecat karena Kinan akan membela ibu mertuanya, tapi ini diluar dugaan. Bahkan mereka diminta mengerjai ibu mertuanya yang sudah tua.
Kinan yang melihat eksfresi tak percaya dari para karyawannya pun mencoba meyakinkan mereka lagi. "Ibu serius, kalian boleh menolak bahkan mengerjai ibu mertuaku itu, kalian tidak usah khawatir takut dipecat karena Bu Maryati tidak mempunyai kuasa apapun."
"Emmm… begitu ya Bu. Iya Bu, lain kali kami akan menolak," jawab Nisa.
"Jangan lupa kerjain Ibu Maryati sampai tidak betah dan tidak mau ke toko lagi!" Ucap Kinan sambil tersenyum dan berlalu pergi. Membuat Nisa dan Tifa semakin kebingungan.
"Apa Bu Kinan serius?" Tanya Tifa pada Nisa.
__ADS_1
"Sepertinya begitu, tapi aku takut kualat ah. Masa negerjain nenek-nenek," jawab Nisa.
"Hahaha… gak akan kualat Nis, nenek nyebelin memang harus dibikin kapok," ucap Tifa.
***
Saat siang hari benar saja Maryati datang bersama Firman ke toko. Dia langsung duduk dan minta dibelikan jus disebrang toko.
"Beli jus jeruk ya Nis!" Ucap Maryati.
"Iya Bu, uangnya mana Bu?" Tanya Nisa.
"Pakai uangmu dulu, nanti diganti saat kamu gajihan..!" Jawab Maryati.
"Yang menggaji saya kan Bu Kinan bukan ibu," ucap Nisa.
"Sama aja, aku Bos disini. Apa kamu mau dipecat hah?" Teriak Maryati.
Karena teriakan itu membuat Firman datang dan mencari tahu. Firman yang malu dengan sikap ibuny, dia meminta maaf pada Nisa meski hanya karyawan. Setelah itu Firman mengeluarkan uang untuk membeli minuman sekalian mentraktir para karyawan.
Nisa tersenyum senang, Firman memang bos yang baik. Lebih royal daripada Kinan, mereka menyukai sifat Bos nya yang tampan itu. Nisa berjalan menuju toko jus didepan toko dengan satu rencana dipikirnanya.
Akan aku buat nenek itu meraskan asamnya kehidupan, eh... batin Nisa.
__ADS_1
Bersambung …