
Pagi ini Nita, Arman dan Maryati sarapan bersama. Karena kesiangan dan belum sempat masak, Nita pun membeli tiga porsi bubur ayam. Maryati mencari-cari kesempatan untuk memarahi menantunya itu.
"Enak gak Bu?" Tanya Arman.
"Lumayan, tapi ini namanya pemborosan Man, terus nanti siang ibu makan sama apa kalau istrimu itu tidak masak?" Jawab Maryati.
"Maaf Bu, Nita benar-benar gak sengaja. Ponsel Nita mati, jadi tidak ada alarm," ucap Nita penuh penyesalan.
"Gapapa Dek, biar nanti siang Mas beli lauk pauk dan mengantarnya ke rumah," ucap Arman.
"Tapi Mas, dari pabrik ke sini kan lumayan jauh. Gapapa biar Bi Titin aja," jawab Nita.
"Yaudah Dek kalau gitu," ucap Arman.
"Tapi harus enak ya Nita, ibu gak mau makan makanan keasinan atau kemanisan!" Ucap Maryati.
Nita mengangguk paham, dia makan sambil mengetik pesan pada adiknya Liana. Agar siang nanti bi Kila mengantarkan makanan ke kontrakannya. Beruntungnya Nita memiliki keluarga yang memang pengertian dan bersedia membantunya.
***
__ADS_1
Siang itu Nita maupun Arya tidak pulang dulu ke kontrakannya karena jarak yang lumayan jauh ditambah keadaan Maryati yang memang sudah membaik dan bisa ditinggalkan. Meski Maryati terkadang protes tapi Nita dan Arman sungguh keberatan, takut kalau telat kembali ke pabrik atau ke sekolah dimana Nita mengajar. Merekapun bukannya tega, tapi telah melihat kesembuhan Maryati.
Bu Titin datang dengan membawa rantang berisi makanan. Sebenarnya wanita ini enggan memberi pada Maryati yang tak disenanginya, tapi demi Nita sang majikan diapun mengabaikan perasaan bencinya.
"Bu, ini saya antarkan makanan pesanan nyonya Nita," ucap Titin sengaja. Dia ingin menekankan kalau majikannya itu Nita bukan wanita yang ada di hadapannya ini.
"Hmm, taruh saja disitu! Paling juga cuma tahu tempe," ucap Maryati meremehkan. Membuat Titin yang memasak makanan itu merasa tersinggung.
"Seharusnya banyak-banyak bersyukur lah, namanya sudah tua tinggal nunggu dipanggil aja!" Jawab Titin tak mau kalah.
"Beraninya kamu nyumpahin aku, apa kamu mau dipecat hah?" Ucap Maryati marah.
Titin sudah tak betah lama-lama disana, bisa-bisa darting nya kumat jika melayani Maryati yang sombong minta ampun dan egois.
"Pergi sana! Cuma bikin Gedeg aja, majikanmu itu juga kecil-kecil mainannya om-om," teriak Maryati.
Titin membalikan badannya, ingin rasanya dia memaki wanita yang dihadapannya itu. Tapi dia harus ingat kalau Maryati itu orang lebih tua, lebih tepatnya lanjut usia.
Sabar… sabar…!, Orang tua tapi mulutnya ampun deh ah, Batin Titin.
__ADS_1
Saat menuju rumah Liana pun Titin sempat bertemu ibu-ibu yang menanyakan tentang gosip itu padanya. Membuat Titin merasa muak, ditengah kemarahannya karena merasa majikannya dipojokkan. Salah satu dari mereka pun mengatakan kalau sumber gosip itu dari Maryati. Membuat Titin semakin menumpuk kebencian di hatinya.
***
Sore itu Liana pulang dan Titin menceritakan semuanya. Liana hanya beristigfar dan mencoba membuat dirinya tenang. Dia tidak bisa melabrak mertua kakaknya itu, sebaiknya kali ini Liana mengalah lebih dulu.
"Gapapa Bi, bagaimanapun beliau mertua teh Nita. Aku gak mau membuat teh Nita merasa tak enak padaku, nanti teh Nita menghindar dan tidak mau menerima bantuan dariku lagi, aku gak mau teh Nita semakin kesulitan. Aku ingin ada disaat suka dan dukanya," keluh Liana.
Bi Titin pun mengangguk, memang Liana hatinya sebaik Nita. "Iya Neng, semua pasti ada karmanya, kita tidak perlu membalas perbuatan jahat dengan kejahatan lagi. Itu menandakan jika kita sama dengan mereka kalau kita membalas," ucap Titin. Dia teringat ibu-ibu yang ngotot dan berteriak memaki Liana didepan rumah meski Liana tidak ada. Meski Kila juga sadar, dia tadi membentak Maryati yang lebih tua, tapi dia rasa itu wajar.
***
Sementara di kontrakan Nita. Arman dan ibunya sedang menonton televisi. Entah apa yang dilihat Maryati dan Arman, mereka tampak gelisah. Maryati bahkan kini berteriak sangat kencang di kesunyian malam.
"Dela…, hiks… Dela anakku," Maryati menangis di lantai. Arman mencoba mengangkat badan ibunya yang lemas kekamar. Mengambilkan air hangat untuk sekedar menenangkan ibunya.
Nita yang tidak tahu apa-apa, dia mengikuti Arman ke kamar ibunya dan membantu menenangkan mertuanya meski dia juga bingung.
"Mas , ibu kenapa?" Tanya Nita pelan.
__ADS_1
Bersambung …