Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Rencana


__ADS_3

Keadaan Maryati lumayan membaik setelah dipijat, dia bisa berjalan meski perlahan. Dia memaksakan diri untuk pergi ke dapur untuk makan siang, perutnya memaksanya untuk bisa berjalan menghampiri makanan. Tak masalah dengan lauk yang dingin, yang penting nasinya panas karena berada di dalam rice cooker.


Maryati menikmati makanan sambil mengeluh, kakinya yang tak bisa berjalan dengan cepat. Padahal dia sudah merasa bosan dan ingin pergi meski hanya sekedar berbelanja makanan manis di warung depan. Maryati memang suka camilan, usianya yang tak lagi muda malah membuat perutnya sering lapar, padahal dia tidak melakukan olahraga apapun.


Wanita itu pun kini duduk di teras, didepan kontrakannya itu ada meja kecil dan juga kursi untuk sekedar bersantai. Beberapa tetangga melewati kontrakannya, tapi bukannya menyapa, mereka malah seperti terburu-buru dan seolah tak melihat Maryati.


"Gak sopan. Padahal aku lebih tua dari mereka," gumamnya pelan.


Karena merasa tidak ada yang menarik, wanita itu berniat masuk. Tapi tiba-tiba Bu Nina datang dengan membawa kue di tangannya. Sepertinya ingin menjenguk Maryati yang sedang sakit.


"Bagaimana keadaan kakinya Bu?" Tanya Bu Nina.


"Sudah baikan, duduk dulu sini..!" Jawab Maryati. Meski tidak tersenyum tapi dia sebenarnya senang saat ada orang yang peduli padanya. Mendukungnya dan ada dipihaknya, Maryati sedang ingin mencari teman untuk diajak bekerjasama.


"Ini saya bawa makanan untuk Bu Maryati, meski gak banyak, mohon diterima ya Bu," ucap Bu Nina.


"Terima kasih," jawab maryati menerima buah tangan itu, kemudian menyimpannya di atas meja kecil yang tersedia di teras depan.


"Sama-sama. Oh iya Bu, kemarin ibu ditolongin sama Riki cucu Bu Ani itu. Dia begitu peduli, apa ibu ada hubungan keluarga dengan Bu Ani yang rumahnya di depan itu? yang besar itu loh Bu, pemilik kontrakan ini. Bu Ani cukup terkenal karena beliau warga baru yang cukup aktif memberikan beberapa bantuan," tanya Nina.


"Riki, ya cucu saya lah Dia memang memilih tinggal bersama neneknya yang lebih kaya. Menurut kamu, apa anak remaja yang manja akan mau tinggal di kontrakan kecil begini? Bahkan Riki seolah melupakan ibunya yang tinggal disini. Sepertinya ada yang mengahsutnya," jawab Maryati.


"Astaga, beneran Bu? Wah, pasti sakit sekali perasaan teh Nita saat anaknya menjauh. Sebaiknya ibu tidak membiarkan ini terjadi Bu! Harus dikasih pelajaran tuh! eh kasih pengertian Riki nya, suapaya tahu mana hal yang baik dan hal buruk, jangan terpengaruh begitu..!" Ucap Bu Nina kesal.

__ADS_1


"Entahlah, besanku itu terlalu sombong. Padahal harta mereka juga dari calon suami Liana, mending kalau jadi menikah. Kalau nggak jadi, kan nanti paling mereka diusir. Pelajaran dan pengertian gimana maksud kamu Nin?" Tanya Maryati memancing lawan bicaranya.


Seakan mendapatkan kawan, Maryati dan Nina malah mengobrol sampai lupa waktu, entah rencana apa yang mereka bicarakan.


***


Siang itu Arman dan Nita sudah pulang, Arman membawa lauk pauk yang dibelinya di warung makan saat perjalanan pulang. "Kamu gak usah masak lagi Dek, Mas udah beli lauk buat sore ini dan nanti malam..!" Ucap Arman.


"Iya Mas," jawab Nita. Wanita itu senang, dia bergegas membersihkan dirinya dan merebahkan tubuhnya sesaat. Karena belum terlelap, Nita bisa mendengar suara ibu mertua dan suaminya yang sedang berdebat.


Nita pun bangun dan mencoba menguping, dia ingin tahu masalah apa lagi yang membuat suaminya berbeda pendapat dengan sang ibu. Rasanya rumah tangga yang dia bina selama ini tidak ada ketenangan sama sekali, tapi dibalik itu Nita harus ikhlas dan sabar. Dia harus bisa menganggap ini adalah ujian rumah tangganya.


Tak ada jalan yang mulus saja bukan? Terkadang ada batu kerikil kecil, batu besar, lubang, turunan dan tanjakan. Hidup memang begitu berwarna, kalau begitu-begitu saja, bukankah akan sangat membosankan? Hmm…


Bagaimana tidak sesuai, jika setiap hari Maryati akan protes jika masakan Nita asin atau kemanisan. Maryati juga lebih suka kalau makanannya tidak terlalu garing. Nita bisa seperti sekarang setelah dia mendapatkan beribu-ribu komentar dari ibu mertuanya itu.


"Bukan manjain Bu. Tapi aku dan Nita sama-sama kerja. Aku tahu lelahnya bekerja, pasti Nita juga ketika pulang ingin beristirahat bukannya malah memasak dan bekerja lagi di rumah. Nita sudah membantu keuangan keluarga, aku pun harus bisa meringankan pekerjaan rumah Bu. Aku harap ibu mengerti, lagipula aku tidak mempermasalahkannya, keuangan keluarga pun masih aman," jawab Arman.


"Kamu ini kalau dikasih tahu selalu aja ada alasannya. Dulu kamu penurut loh, tapi sejak kenal wanita itu kamu jadi durhaka begini sama ibu," ucap Maryati.


"Astagfirullahaladzim Bu, aku tidak bermaksud begitu," jawab Arman. Lelaki itu mulai frustasi, dia merasa serba salah terus. Dia yang tidak mau semakin pusing, dia memilih pamit pergi untuk mandi. Meski itu hanya sebuah alasan, tapi dia lebih baik menghindari ibunya dulu.


Saat Arman masuk, Nita sedang duduk ditepi ranjang dengan tatapan yang tajam. Ada kilatan amarah namun sepertinya tetap ditahan, karena sampai detik ini wanita itu diam tanpa sepatah katapun. Justru itu membuat Arman semakin khawatir, dia lebih baik dimarahi istrinya daripada didiamkan begitu saja, apalagi sampai berhari-hari.

__ADS_1


Sepertinya aku baru masuk kandang singa setelah kabur dari kandang buaya, batin Arman.


"Aku kira kamu tidur siang Dek," ucap Arman. Dia mendekat ke arah istrinya, suasananya semakin terasa mencekam. Tidak ada jawaban, Nita hanya membulatkan matanya dan terus diam.


"Dek…," panggil Arman lagi dengan pelan.


"Hmm, iya aku tidak jadi tidur. Sebaiknya besok Mas gak perlu beli makanan lagi, beli aja bahan-bahan mentahnya, biar aku yang masak. Biar gak boros..!" Ucap Nita datar namun mampu menusuk ke hati Arman. Rasa bersalah pun muncul, Arman menyadari jika dari dulu Nita selalu mengalah, Nita tidak nyaman dengan sikap ibunya.


Tapi jika dia ingin memisahkan istri dan ibunya, lalu harus dia kemana kan sang ibu? Jelas-jelas semua saudara kandungnya menolak merawat ibunya, hanya dia yang bersedia. Hanya Nita yang mau, tapi ibunya masih saja belum bisa luluh dengan kebaikan mereka.


"Jangan gitu lah Dek. Kamu gak usah mikirin omongan ibu, anggaplah angin lalu. Namanya juga orang tua..! Eh udah tua, terkadang memang menguji kesabaran kita. Kamu yang sabar ya sayang..!" Ucap Arman. Lelaki itu berusaha membujuk dan menenangkan istrinya.


***


Seminggu berlalu, kini saatnya acara pertunangan antara Liana dan Daffa dilangsungkan. Sebenarnya Liana enggan mengadakan acara seperti ini, dia tidak mau menghambur-hamburkan uang. Liana hanya ingin acara disaat pernikahannya nanti, dia juga berharap seiring berjalannya waktu, dia bisa menerima Daffa dengan sepenuh hati.


Nita sudah siap dengan baju seragam yang diberikan Liana, begitupun dengan Arman dan Maryati. Meski sebelumnya Maryati menghina baju itu, pada akhirnya dia pun memakainya. Nita merasa lega, dia tidak mau jika ada kesalahpahaman yang timbul dari para tetangganya.


Saat acara belum sampai di intinya. Maryati mencari sosok Riki dan Nabila. Setelah dia menemukan salah satunya dan berdiri diantara kerumunan targetnya. Maryati menghampiri Riki, memeluk tubuh lelaki itu dengan erat, dan dihiasi dengan Isak tangis.


Riki yang kaget, dia bingung menyikapinya. Dia berada di posisi yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Hingga suara Maryati yang mengeluarkan kata demi kata, membuat Riki semakin membencinya dan rasanya ingin melepaskan pelukan sang nenek dengan paksa dan kasar.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2