Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Liana Setuju


__ADS_3

"Aku gapapa Teh kalau harus menerima perjodohan ini, yang penting hidup ibu berkecukupan dan aku bisa melanjutkan kuliah. Kak Daffa bilang aku boleh melanjutkan kuliah saat berstatus sebagai istrinya," jawab Liana.


"Tapi Dek, kamu yakin?" Tanya Nita.


"Iya Teh, ini kesempatan yang bagus. Aku gak boleh melewatkannya. Teteh juga tidak perlu bekerja keras lagi, karena memang uang warisan itu ditujukan buat kita berdua Teh, aku tidak mau merepotkan terus," jawab Liana.


Nita mengangguk setuju karena menghormati keputusan sang adik yang ingin mengejar cita-citanya, karena beberapa hari lagi Daffa akan datang kemari. Membuat Nita memang terpaksa tinggal bersama ibu dan adiknya beberapa hari dan meninggalkan dua anaknya bersama Arman.


Bu Ani juga menasehati Nita agar tidak keluar rumah tanpa izin suami. Tapi Nita menceritakan semuanya dan Arman juga tidak mencegah dia pergi.


"Yang sabar ya Nak, badai pasti berlalu. Kamu harus tetap bersikap baik pada siapapun. Biarlah hukum karma alam yang bekerja, kita tidak perlu mengotori tangan dan hati kita..!," ucap Bu Ani.


"Iya Bu," jawab Nita , kemudian dia memeluk ibunya erat.


"Ada Riki dan Nabila. Pikirkanlah baik-baik semua keputusanmu, bila perlu shalat malam lah dan istiqarah..! Minta petunjuk pada sang pencipta," ucap Bu Ani lagi.


Nita mengangguk, dia tidak mau jika anak-anaknya menjadi korban. Menjadi anak broken home tidaklah mudah, Nita mau anak-anaknya juga hidup dilingkungan yang lebih baik. Itu berarti dia harus menjauhkan anak-anaknya dari keluarga Arman. Nita benar-benar bingung. Apa mereka semua bisa berubah? Semoga saja, karena Allah itu maha membolak-balikan hati manusia, batin Nita.


Nita akan memberikan kesempatan pada Arman dan berharap suaminya itu menghubunginya terlebih dahulu.


***


Keesokan harinya datanglah Daffa, lelaki berumur 27 tahun. Wajahnya putih bersih, tapi jika dijodohkan dengan Liana, maka jarak usia mereka terpaut jauh.


"Tenang saja, saya tahu kalau Liana masih sekolah. Jadi saya akan menunggu sampai Liana siap, saya juga akan menyediakan rumah di kota jika Liana akan mengambil kuliah disana, tiap bulan akan saya transfer untuk biaya hidup kalian," ucap Daffa.


"Apa kamu bersungguh-sungguh?" Tanya Nita.


Daffa mengangguk pelan, Liana pun mengangguk setuju. Mereka pun sepakat dengan keputusan itu, dan memang ternyata warisan itu akan diberikan pada Liana dan Nita sebagai keponakan Pak Jaya. 


Daffa yang tidak mau kehilangan usaha yang lama dirintisnya sampai sukses, dia pun harus menikahi salah satu dari mereka. Dan yang masih single adalah Liana yang masih sekolah, itu memang sudah tertulis dalam wasiat karena Pak Jaya mau keponakan dan anak angkatnya yang menikmati uangnya, bukan orang lain.

__ADS_1


Liana tak peduli dengan nasib pernikahannya nanti yang terpenting untuk saat ini, cita-cita dan kebutuhan ibunya terjamin.


***


Sementara di kediaman Arman sudah dua hari rumah itu tak terurus. Nabila dan Riki hanya mencuci piring dan bajunya sendiri, mereka sepakat tidak akan mengerjakan semuanya. Jika sarapan, mereka lebih memilih membuat roti selai sendiri dan susu hangat, dikala siang dan malam mereka akan pergi membeli lauk pauk untuk berdua sementara di rumah sudah menanak nasi.


"Arman, bagaimana masakannya?" Tanya Dela.


"Belum matang Mbak, lagian kenapa gak Mbak Dela saja yang masak?" Tanya Arman.


"Mbak udah lupa cara memasak, selama ini kan hidup Mbak enak banyak pembantu dan suami Mbak royal banget. Kan tugas suami memang nyenengin istri," jawab Dela.


Deg


Apakah selama ini sikapku salah? Aku akui badan terasa remuk setelah selesai bekerja malah harus membereskan rumah, batin Arman.


"Iya, tapi kan sekarang Mbak tinggal dirumah aku. Kalau tidak masak, ya Mbak bantu cuciin piring dan wajan yang kotor dong Mbak! Aku capek," ucap Arman.


"Terus Mbak udah tua gitu, harus dilayani kaya ibu?" Ucap Arman ketus.


"Ish, harusnya kamu prihatin sama keadaan Mbak sekarang dan menghibur Mba!" jawab Dela berlalu pergi.


Mbak Dela memang egois, memangnya kalau dia galau aku harus terus menghiburnya dan memakluminya? Dia yang kena musibah, sudah ditolong, eh gak ada rasa terima kasihnya, batin Arman.


Arman di dapur melanjutkan masakannya, dua hari ini selalu memesan makanan online atau membeli lauk di depan. Ternyata cukup boros dan membuat Arman memilih memasak sendiri di rumah.


Nabila yang melihat ayahnya sibuk sendiri, dia pun membantu sang ayah. "Makasih ya Bil udah bantuin ayah," ucap Arman.


"Sama-sama Yah," jawab Nabila. Mereka bercanda sambil membersihkan cucian piring yang menumpuk. Selama ini memang Arman yang selalu sibuk dan jarang meluangkan waktunya untuk anak-anak. Arman dan Nabila begitu menikmati momen itu.


"Arman, itu ibu bau banget. Kamu urusin sana! Itu kan ada Nabila yang nyuci," ucap Dela.

__ADS_1


Arman berusaha menahan emosinya, meski kelakuannya begitu, tapi Dela tetaplah kakaknya, Arman menghindari pertengkaran karena yang lebih penting sekarang adalah mengurus ibunya.


Kini Arman bisa  berbaring di ranjang saat jam menunjukan pukul 10 malam, disaat ibunya pun sudah tertidur lelap.


"Jadi, seperti inikah lelah yang dimaksud Nita? Ah, kenapa aku tidak peka selama ini, bahkan dia memasak setiap hari," gumam Arman.


***


Subuh, Arman sudah bangun untuk memandikan Bu Maryati dan memberinya minuman hangat. Sudah berkali-kali dia menggedor pintu kamar Dela, tapi tidak ada jawaban.


Sarapan pun seadanya karena dia tidak bisa kalau bangun lebih pagi untuk memasak, sementara lauk kemarin sudah habis karena anggota keluarga yang cukup banyak.


"Sarapan yang ada aja ya..!" Ucap Arman pada kedua anaknya.


Riki dan Nabila mengangguk pelan, mereka makan tanpa berbicara lagi. Jauh dilubuk hati mereka, ada banyak pertanyaan mengenai ibunya, tapi mereka enggan bertanya pada sang ayah.


"Aduh, roti mana kenyang Man," keluh Dela.


"Beli aja Mbak didepan, lauk banyak kok. Jangan lupa Mbak bawa uangnya!" Jawab Arman.


"Yaudah mana uangnya?" Tanya Dela.


"Pakai uang Mbak lah, kan Mbak yang mau. Kalau gak punya uang, makan yang ada aja karena keuangan aku juga udah menipis dan harus berhemat. Apalagi ditambah beban satu orang dan yang mencari nafkah malah pergi," jawab Arman.


Dela yang kesal dan tak terima, dia menggebrak meja. "Dasar pelit, sama kakak kandung kok begitu amat. Kalau Nita, ya memang pantas digituin karena dia bukan siapa-siapa, dia itu cuma orang asing yang numpang hidup sama kamu Man, aku jelas keluargamu dari kecil."


Nabila dan Riki kini yang tak terima ibunya direndahkan. Riki pasang badan paling depan, Nabila menatap tantenya dengan mata melotot.


"Mau apa kalian?" Teriak Dela.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2