Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Tak Diakui


__ADS_3

Riki melihat sang ibu yang hanya diam, menerima semua teriakan dari sang nenek.


"Ada apa ini Mah?" Tanya Riki.


"Gapapa Nak, sebaiknya kamu pulang aja..!" Jawab Nita.


"Nenek kenapa marah sama Mamah? Aku sudah berbaik hati ya nolongin Nenek, tapi nenek masih saja memperlakukan Mamah seperti ini," tanya Riki. Tentu di usianya yang remaja, dia bukanlah lelaki polos yang tidak tahu apa-apa. Selama ini dia tahu kalau ibunya selalu diperlakukan tidak baik.


"Ibumu yang membuat nenek seperti ini, tentu nenek berhak memarahinya," jawab Maryati.


"Jangan salahkan Mamah, Mamah aja baru pulang," jawab Riki.


Nita yang tidak mau melihat anaknya adu mulut dengan sang nenek, dia pun membawa Riki keluar dari kamar ibu mertuanya.


"Ayo Nak, kita keluar dulu. Biarkan nenekmu diobati dulu, kamu tadi manggil tukang pijit kan?" Nita merangkul Riki dan mengajaknya keluar menemui Bu Zizah.


Arman yang baru kembali dari apotek, dia melihat Riki dan Nita yang berdebat ringan. "Mah, ada apa?"


"Gapapa Mas, Riki mau pulang katanya. Iya kan?" Tanya Nita pada Riki.


Anak lelaki itu pun terpaksa mengangguk dan pergi ke rumah nenek Ani dengan perasaan sedih. Dia tidak suka melihat ibunya diperlakukan seperti itu, apalagi menyalahkan ibunya tanpa bukti. Riki menepis rasa kasihan pada sang nenek dan malah berbalik membenci wanita paruh baya itu.


***


Setelah Bu Zizah selesai memijat kaki Maryati yang terkilir, Arman memberikan uang untuk memmbalas jasanya. Kepergian tukang pijat itu membuat Maryati bebas memaki Nita lagi, dia kembali menyalahkan Nita yang tidak tahu apa-apa.


"Semua ini gara-gara istri kamu Man, ibu sampe jatuh dan terkilir. Istri kamu itu gak bisa jaga kehormatan keluarga suami," keluh Maryati.


"Sudah Bu, nanti darah tinggi ibu kumat lagi..! Lagipula kenapa Nita yang salah, memang kejadiannya seperti apa?" Tanya Arman.

__ADS_1


"Ibu-ibu tadi ngeroyok ibu, mereka bilang Dela masuk penjara karena jadi pelakor dan simpanan lelaki tua. Ibu gak terima lah, ibu mau bertindak, eh malah jatuh," jawab Maryati.


"Lalu kenapa jadi salah Nita. Itu kan salah mbak Dela yang gak bisa menjaga nama baiknya juga nama keluarga kita," jawab Arman membela istrinya.


"Ibu-ibu itu tidak akan pernah tahu masalah mbak kamu kalau tidak diberi tahu. Ibu yakin kalau Nita yang menyebarkannya, menurut kamu yang tahu tentang ini siapa lagi?" Tanya Maryati penuh emosi.


Arman diam, dia tampak berpikir. Iya juga, mana mungkin mereka tahu kalau bukan dari Nita? Aku mana pernah ngegosip bareng ibu-ibu sini, batin Arman.


"Ya sudah ibu jangan emosi dulu. Nanti Arman tanyain sama Nita dengan cara baik-baik," ucap Arman. Lelaki itu memberikan obat darah tinggi yang dibelinya di apotik tadi, karena kebetulan stok obat di rumah habis.


Maryati malah memalingkan wajahnya kemudian memilih tidur, Arman menyimpan obat itu di dekat ranjang. Arman sebenarnya juga sudah pusing menghadapi kelakuan ibunya, namun orang tua tetaplah orang tua yang harus dihormatinya, disayangi, dan diperlakukan dengan baik.


***


Arman kini berada dikamar, dia melihat istrinya yang sudah berganti pakaian dan bersiap untuk tidur. "Dek, duduk disini sebentar..! Mas mau bicara," ucap Arman sambil menepuk tepi ranjang disebelahnya.


"Iya Mas, ada apa?" Tanya Nita, dia kemudian duduk perlahan di sisi ranjang.


Mata Nita langsung membulat, dia menatap suaminya dengan serius. "Menurut Mas apa aku orang yang seperti itu, suka mencari keributan dan menyebarkan berita bahan gosip? Mas menuduhku?" Tanya Nita.


"Bu-bukan begitu maksud Mas," jawab Arman gugup. Dia sudah mengira jika reaksi Nita akan seperti ini, tapi dia memang perlu kepastian dari sang istri.


"Terus maksud Mas bagaimana?" Tanya Nita lagi, dia bangkit dari tempat duduknya.


"Kalau bukan kamu, lalu siapa Dek?" Tanya Arman.


"Dua kali ya Mas menuduhku. Cukup Mas, aku pun gak tahu, aku juga baru pulang dari sekolah kaget melihat keadaan ibu. Aku capek, aku mau tidur Mas. Percuma kita berdebat, Mas pasti lebih berat sebelah dan percaya pada ibu," jawab Nita. Dia kemudian naik ke atas ranjang dan tidur membelakangi suaminya.


Arman frustasi, dia berada diantara dua wanita yang berbeda karakter dan selalu berselisih tiada henti. Disaat yang satu berbicara A maka yang lainnya berbicara B, dari dulu seperti itu dan Arman dibuat serba salah.

__ADS_1


***


Pagi pun datang, Nita menyiapkan makanan seperti biasa. Dia Sarapan tanpa bersuara, dia hanya menjawab pertanyaan Arman seperlunya, dia lalu bergegas pergi ke sekolah mendahului suaminya. 


Nita pergi ke rumah ibunya terlebih dahulu, dia ingin berangkat bersama anak-anaknya. Liana menawarkan mereka untuk diantar sopir, kebetulan ada mobil baru pemberian Daffa lengkap beserta sopir pribadi.


Nita pun tak menolak, dia senang. Tapi ternyata Riki memilih pergi sendiri, anak remaja itu masih belum ingin berbicara banyak dengan Nita setelah perdebatan semalam. Riki merasa jika ibunya terlalu sering mengalah, Riki kasihan melihat ibunya hidup seperti itu terus. Dia sama sekali tidak membenci ibunya, hanya ingin melakukan protes saja.


"Mamah duluan aja sama Nabila, aku mau pergi naik motor. Aku kan sudah 17 tahun dan punya SIM Mah," jawab Riki beralasan saat ditawari pergi bersama oleh Nita.


Nita pun menyerah membujuk Riki, memang anak itu sedikit keras kepala. Nita pergi terlebih dahulu, meninggalkan Riki bersama Liana disana.


"Kamu kenapa Riki?" Tanya Liana.


"Gapapa Kak, eh Tante," jawab Riki. Dia senang menggoda Liana.


"Ish, aku memang Tante kamu, tapi usia kita itu hampir sama. Tahun depan juga kamu kuliah, sudah cepetan sana berangkat, aku gak mau kalau pagi-pagi sudah diajak ribut!" Ucap Liana kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.


Riki hanya tersenyum, dia menyalakan motornya, dia diam sejenak agar mesin motornya hangat. Tiba-tiba ada Bu Nina menyapa. Membuat Riki mematikan mesin motornya dan membalas sapaan tetangganya apalagi Bu Nina lebih tua darinya.


"Iya Bu, ini mau berangkat sekolah," jawab Riki.


"Oh iya, ibu mau tanya. Kemarin kamu bilang Bu Maryati yang ngontrak di sebelah sana itu nenek kamu, apa iya?" Tanya Bu Nina yang kepo.


Riki diam, dia masih kesal dengan sikap Maryati yang sering keterlaluan pada ibunya. Hingga Bu Nina mengagetkan Riki karena malah melamun.


"Eh maaf Bu, emm… nenek saya tinggal disini, nenek saya namanya nenek Ani. Mungkin kemarin ibu salah dengar," jawab Riki. Lelaki itu pamit untuk pergi karena takut terlambat. Meninggalkan Bu Nina yang masih kebingungan.


Lagi-lagi Titin mendengar apa yang mereka bicarakan, dia tersenyum bahagia seakan mendapatkan lotre. Jadi nenek itu gak diakui juga sama Den Riki, hmm … memang pantas sih. Bibi mendukungmu Den,  batin Titin.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2