Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Aneh.


__ADS_3

Keesokan harinya Maryati merasa kurang semangat, dia rasanya sudah tidak ingin berteriak lagi seperti biasanya. Dia mendorong kursi rodanya dan menghampiri Nita dikamarnya, "Nita, apa Arman sudah berangkat?" Tanya Maryati saat melihat Nita yang sedang duduk diatas ranjang sambil memainkan ponselnya.


"Udah Bu, tadi mau pamit tapi gak enak katanya ibu lagi tidur," jawab Nita.


"Oh, lauk pagi ini masih ada?" Tanya Maryati.


"Ada Bu, tapi kalau Ibu mau bubur ayam langganan di depan. Nita beliin sekarang aja," jawab Nita.


"Gak usah, yang ada aja Nit," ucap Maryati kemudian menjalankan kursi rodanya menuju meja makan.


Nita menyusul ibu mertuanya, dia membantu mendorong kursi roda itu. Maryati sempat menolak, dia berkata jika dia bisa melakukannya sendiri tapi Nita bersikeras membantu ibu mertuanya itu. Nita Allah tersenyum saat Maryati berkata dengan sinis.


Nita menemani ibu mertuanya sarapan, dia memang sudah sarapan tapi tidak enak meninggalkan Maryati sendirian. "Ibu bisa makan sendirian, kamu bisa mengerjakan pekerjaan lain Nit!" Ucap Maryati.


"Hmm… kalau gitu Nita mau cuci piring dulu ya Bu," ucap Nita.


Wanita itu dengan perasaan bahagia mencuci semua piring kotor. Maryati memperhatikan menantunya sambil makan, dia merasa heran dengan menantunya yang terlihat bahagia.


"Hmm, kamu lagi seneng ya Nit? Ibu perhatikan kamu senyum-senyum begitu," ucap Maryati.


"Masa sih Bu? Hehe… aku senang aja Bu calon bayiku sudah mulai terasa gerakannya. Menendang meski masih halus gerakannya," jawab Nita.

__ADS_1


"Oh, ibu kira kamu senang karena lagi mencuci piring," ucap Maryati.


"Hmm, itu juga sama Bu. Karena aku bisa mendapat pahala dari sini. Disaat keuangan Nita yang tidak bisa membantu banyak orang yang kesulitan untuk mendapat pahala, toh di rumah banyak ladang pahala," jawab Nita sambil tersenyum.


Maryati tidak mengatakan apapun lagi setelah mendengar jawaban Nita. Setelah sarapan, Maryati memilih diam di depan rumah untuk menjemur badannya, dia sudah mandi pagi-pagi sekali oleh Arman sehingga kini dia bisa bersantai dan Nita tidak kesulitan memandikan dirinya.


Terdengar suara khas dari Abang penjual sayur, membuat Nita berjalan dengan cepat dari arah dapur. "Bang beli bang…," teriak Nita.


"Nita, kamu jangan berlari begitu. Inget! Kamu itu lagi hamil," ucap Maryati.


"Eh, iya Bu. Maaf, Nita terkadang lupa," jawab Nita kemudian pergi menghampiri Abang sayur dengan langkah pelan dan hati-hati.


Para tetangga yang baru tahu kalau Maryati sudah kembali, mereka memandang dengan tatapan heran.


"Loh , Bu Maryati kok di atas kursi roda?" Tanya Bu Rita.


"Iya Bu, ibu mertua saya sakit," jawab Nita.


"Bukannya pas pergi Bu Maryati dalam keadaan sehat ya?" Tanya Bu Wina.


"Iya Bu, disana sempat kecelakaan. sekarang kaki dan tangan ibu sebelah kiri memang kaku dan belum bisa digerakkan, tapi sedang melakukan terapi juga ibu-ibu biar cepet sembuh," jawab Nita.

__ADS_1


"Karma itu mah, udah tua masih saja suka cari masalah. Neng mah terlalu baik, mau aja ngerawat nenek cerewet begitu," celetuk Rita.


Nita yang tidak enak mendengar obrolan tentang mertuanya, dia memilih berbelanja dengan secepat mungkin agar bisa cepat kembali ke rumahnya yang tak jauh dari tempat Abang sayur memberhentikan gerobaknya itu.


Nita akui memang ibu mertuanya itu bukan tipe tetangga yang baik, tapi Nita percaya kalau ibu mertuanya itu suatu saat akan berubah. Meskipun masih tetap begitu, yang terpenting bagi Nita adalah rasa ikhlas di hatinya yang memberi pahala setiap harinya, daripada dia mengeluh setiap hari dan hanya mendapatkan lelahnya saja.


***


Maryati begitu serius dengan terapi-terapi yang dilakukan selanjutnya. Dia berusaha menahan rasa sakit di kakinya agar bisa berjalan seperti semula. Kandungan Nita semakin hari semakin membesar, membuat wanita itu kewalahan untuk sekedar berjalan dari kamar ke dapur.


Sudah beberapa hari ini Nita tidak mendengar permintaan apapun dari ibu mertuanya. Entah itu hanya sekedar membuatkan teh hangat, membuat Nita sedikit khawatir. Dia pun menghampiri kamar ibu mertuanya.


Tok


Tok


Tok


"Bu…, apa ibu sedang tidur? Bu…," panggil Nita. Tapi tidak ada jawaban dari dalam, membuat Nita semakin cemas.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2