
Maryati kaget, dia lupa kalau dia sedang berpura-pura sakit. Maklum lah ya, umurnya saja sudah tua dan membuatnya gampang lupa. Wanita itu diam sejenak untuk mengontrol rasa gelisahnya.
"Kok hilang ya Man? Mungkin sudah sembuh. Ibu juga gak tahu, padahal cuma dikasih obat buat luka aja kemarin lalu diperban. Sepertinya karena goresannya gak dalam Man," jawab Maryati beralasan.
"Bu…, aku serius, masa ibu juga gak tahu kenapa bisa tiba-tiba sembuh. Lain kali ibu jangan memperbesar masalah ya..! Aku kemarin sampai bertengkar hebat sama Kinan," Ucap Firman.
"Hmm… iya Man. Luka ibu memang luka kecil, tergores sedikit. Sudahlah gak usah dibahas lagi!" Jawab Maryati dengan kesal.
Firman akhirnya keluar dari kamar itu dengan rasa kecewa. Dia sudah membela ibunya dan memarahi Kinan, tapi ternyata ibunya yang bersalah karena memecahkan vas bunga.
Tak berselang lama, Firman mendapatkan telepon dari adiknya (Arman). Firman menjawab seadanya, kondisi ibunya baik dan masih betah dirumah Kinan. Firman mengeluh jika terjadi ketidakcocokan antara istri dan ibunya pada Arman.
Disebrang sana Arman hanya menasehati kakaknya agar bersikap lebih sabar menghadapi ibu mereka yang terkadang bersikap kekanak-kanakkan. Jika ada kemauan juga harus selalu langsung dituruti.
"Oh gitu ya Man. Iya deh, makasih sarannya. Kamu sabar banget selama ini jagain ibu. Gapapa Man biar kali ini aku yang jagain ibu, semoga saja Kinan bisa secepatnya menerima kehadiran ibu disini," jawab Firman.
"Iya Mas, kalau ibu gak betah dan ingin pulang ke kota ini. Mas anterin aja ya..!" Ucap Arman.
"Iya Man," jawab Firman.
Firman akui memang rasanya dia ingin mengembalikan ibunya hari ini juga setelah tahu kelakuan ibunya yang melebih-lebihkan. Tapi dia sadar kalau selama ini adiknya telah merawat ibunya begitu lama, sungguh egois jika dia tidak mampu merawat ibunya padahal baru beberapa hari.
Malam itu Maryati merasa tidak tenang, selain sebelumnya dia tidur dikamar yang luas dan lebih nyaman. Dia merasa Kinan tidak seperti Nita yang selalu mengalah.
"Jika aku tetap disini, berarti aku harus bisa menaklukan Kinan. Jika tidak, maka bisa-bisa aku yang terusir dari rumah ini, aku kira Firman itu lelaki pintar, ternyata dia hanya suami yang takut istri," gumam Maryati.
***
__ADS_1
Pagi pun datang, Maryati ikut sarapan bersama dan tanpa rasa bersalah sedikitpun karena telah ketahuan. Kinan hanya menoleh sekilas, lalu dia fokus kembali pada makanannya. Firman yang masih kecewa pun, dia tak banyak bicara. Hanyaenjawab ketika ibunya bertanya.
"Hana, ambilin ayam kecap yang ada dideket kamu itu..! Nenek susah ngambilnya," ucap Maryati.
"Iya Nek," jawab Hana lalu dengan patuh memindahkan piring itu agar lebih dekat dengan neneknya.
"Memangnya Nenek masih bisa mengunyah daging?" Tanya Dina.
"Bisa dong, makanya harus ikutin cara Nenek ketika muda. Agar gigi kalian awet, gigi nenek aja masih utuh, bukan kaya dilagu anak-anak yang bilang nenek giginya ada dua, hehe…," jawab Maryati.
Dina pun tersenyum, sikap Maryati yang lebih ramah ini tidak membuat Kinan bahagia, malah dia merasa curiga. Pasti ada udang dibalik batu, batin Kinan.
"Mamah udah selesai sarapannya. Mamah mau ambil tas dulu, trus anterin kalian ke sekolah bareng Papah..!" Ucap Kinan. Dia berdiri lalu pergi ke kamarnya.
Setelah mendengar ucapan ibunya, mereka langsung menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Mereka begitu takut saat ibunya marah, berbanding terbalik dengan Firman sang ayah yang selalu memaklumi anak-anaknya.
"Loh, Ibu mau ikut juga?" Tanya Kinan.
"Iya, Ibu bosan kalau dirumah terus," jawab Maryati.
"Tapi, baju Ibu harus diganti dulu! Emang ibu mau disamain sama pembantu aku di rumah ini oleh karyawan toko?" Tanya Kinan.
"Ibu gak punya baju lebih bagus dari ini, yaudah nanti ajak Ibu belanja ya?" Jawab Maryati yang merasa senang.
Kinan merasa menyesal karena mengomentari baju ibu mertuanya. Tapi dia juga tidak mau dipermalukan karena ibu mertuanya berpenampilan kampungan. Kinan hanya diam, tapi diamnya Kinan seakan menjadi kata IYA bagi Maryati. Wanita itu langsung masuk ke dalam mobil.
***
__ADS_1
Benar saja, setelah mengantar anak-anak ke sekolah, Maryati meminta diantar untuk membeli baju. Kinan mengatakan jika hari masih terlalu pagi untuk pergi ke mall. Merkapun mengunjungi salah satu toko pakaian yang dimiliki Kinan dan membiarkan ibu mertuanya memilih baju yang dia inginkan.
Toko milik Kinan kebanyakan toko sembako, hanya toko itu saja yang menjual pakaian. Kinan baru merintis ke dunia fashion, disana juga kebanyakan baju anak remaja.
"Gak ada yang cocok sama Ibu. Kita ke mall aja ya Man?" Protes Maryati.
Firman menatap ke arah Kinan yang sedang kesal. Mata Kinan melotot ke arah Firman, tapi lelaki itu mencoba memohon dengan mengangkat DNA menyatukan kedua tangannya. Wajah Firman memelas pada istrinya itu.
Kinan tidak tega melihat suaminya sampai bersikap seperti itu demi ibunya. Meski Kinan cerewet dan banyak mengatur, tapi dia hanyaencintai Firman suaminya, dia tidak mau kehilangan ayah dari anak-anaknya itu. Firman adalah sosok suami dan ayah yang baik, yang sabar dan penuh kasih sayang.
Kinan yang tidak mau Firman merasa punya segalanya dan malah selingkuh. Maka Kinan memilih bersikap tegas dan mandiri mengurus semua usahanya, dia tidak mau kalau pada akhirnya Firman memanfaatkannya.
***
Sampailah mereka di pusat perbelanjaan. Maryati begitu senang, dia seperti anak kecil yang berlari kesana kemari mengagumi baju-baju disana. Sudah lama sekali dia tidak menginjakan kakinya di mall besar, selama ini dia lebih sering ke pasar.
"Mas, ibumu bisa gak sih gak senormal itu! Aku malu," protes Kinan.
"Maaf ya Mah, dimaklumi aja namanya juga orang tua. Seharusnya kita senang karena bisa membahagiakan orang tua, berpahala Mah," jawab Firman.
"Pahala sih pahala Mas, tapi ibumu itu keterlaluan," jawab Kinan.
Karena lelah, Kahirnya Maryati masuk kedalam satu toko pakaian dan memilih beberapa baju disana.
"Bu… kita cari toko lain aja, disini mahal-mahal..!" Pinta Firman yang tak enak pada istrinya melihat harga baju disana.
"Sesekali lah Man, uang istrimu itu uangmu juga," jawab Maryati. Wanita itu terus memilih baju, sementara Kinan menatap Firman dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
Bersambung…