
Liana mengangguk lalu mengambil rantang itu, Nita menahan tawa saat melihat reaksi Liana. Nita memang sudah terbiasa dengan sikap ibu mertuanya, berbeda dengan adiknya itu yang belum bisa memaklumi.
"Kasih tahu adikmu itu, jangan seperti itu sama orang tua!" Ucap Maryati pada Nita saat Liana sudah tidak ada.
"Iya Bu," jawab Nita sambil tersenyum.
Sementara Arman sedang sibuk dengan bayi mungil itu, dia pulang dengan berharap cepat sampai karena merindukan bayi itu. Dia seolah mendapatkan mainan baru, sampai tidak memperhatikan yang lain. Matanya fokus pada bayi perempuan dengan pipi lembut itu.
Arman yang sudah tahu kalau ibu sehat ia melahirkan rentan terkena baby blues, lelaki itu selalu berusaha siap siaga disaat Nita membutuhkan bantuannya. Meski dia harus berangkat bekerja di pagi hari, tapi dia selalu membantu bergantian begadang. Arman tidak tega melihat snag istri yang begadang setiap malam dalam keadaan badan yang masih belum sehat.
Ya… dukungan orang terdekat itu sangat diperlukan. Demi menjaga pikiran ibu agar selalu sehat. Peran penting tentu ada pada pasangan, perhatian sekecil apapun pasti sangat berpengaruh, begitupun dengan bentakan kecil.
Darimana Arman tahu tentang baby blues, sebelumnya Nita memang telah memberi pemahaman pada sang suami. Sehingga Arman mencari tahu lebih banyak melalui ponsel pintarnya, lelaki itu mempersiapkan semuanya.
Wanita itu bisa sangat rapuh dan bisa sangat kuat juga. Rapuh disaat hatinya tergores, dan kuat saat membela sesuatu yang berharga dalam hidupnya.
***
Beberapa hari berlalu, sikap Maryati masih sama. Selalu saja ketus pada Nita, tapi Nita menyadari perubahan hati ibu mertuanya itu. Disaat malam, terkadang sudah ada teh hangat dikamarnya. Cemilan juga selalu disediakan saat pagi, Maryati bilang jika ibu menyusui memang sering lapar.
__ADS_1
"Makan yang banyak! Ibu tidak mau kalau cucu ibu kekurangan ASI!" Ucapnya kala itu. Tapi bagi Nita itu adalah kata-kata manis yang mampu membuat Nita tersenyum senang.
Alhamdulillah, aku tahu ibu peduli dan sangat mengkhawatirkan aku, batin Nita.
Semakin hari Maryati semakin menunjukan kepeduliannya, Nabila dan Riki pun mulai menerima nenek mereka meski cara bicara Maryati masih sama. Wanita itu masih mempunyai gengsi yang tinggi, belum mengakui kalau selama ini dia salah dan ingin berubah.
Di hari aqiqah sang cucu, Maryati begitu antusias membantu mengurus semuanya. Di Usianya yang lanjut usia, membuat Arman khawatir. Tapi Maryati tetap keras kepala dan berbaur dengan ibu-ibu lain ikut memasak di dapur.
***
Jika sebelumnya Maryati yang sakit, sekarang Bu Ani lah yang sakit. Nita merasa sedih karena untuk saat ini dia juga begitu sibuk mengurus bayinya sehingga tidak bisa merawat ibunya dengan maksimal. Nita akan mengunjungi sang ibu saat bayinya sudah mandi dan sarapan.
"Tunggu!" Teriak Maryati yang membuat Nita tentu kaget.
Wanita itu menoleh ke belakang, "iya Bu, ada apa?" Tanya Nita.
"Ibu mau ikut, sudah ibu siapkan juga makanan untuk Ani, ibumu…," jawab Maryati.
Nita pun akhirnya pergi bersama ibu mertuanya, entah mengapa Nita merasa sudah nyaman saja dengan ibu mertuanya, sudah percaya dan tidak ada keraguan di hatinya pada wanita itu. Berbeda dengan Liana , Titin dan juga Bu Ani, kedatangan Maryati membuat mereka kaget.
__ADS_1
Terlihat jelas raut wajah Titin yang tidak suka dengan kedatangan Maryati, "mau apa dia kemari?" Gumamnya pelan tapi sengaja dia mengatakan itu agar terdengar oleh Maryati yang ada disampingnya saat ini.
Maryati menoleh, menatap sinis pada Titin. Mereka kini saling menatap, saling melempar tatapan tajam. Seolah mereka itu musuh yang siap berperang, momen itu tidak sampai dilihat oleh Nita. Sehingga Nita tidak tahu kalau kedatangan mertuanya itu begitu tidak diharapkan dan akan menimbulkan masalah.
Riki yang kebetulan memang sedang tidak ada jadwal kuliah dia menghampiri mereka, mencium punggung tangan ibu dan juga neneknya. Kemudian mengambil alih bawaan sang nenek.
"Biar Riki yang bawa Nek," ucapnya.
"Iya, simpan untuk makan siang nanti. Ada juga sup khusus untuk nenekmu," jawab Maryati.
Riki mengangguk, kemudian pergi ke dapur dan diikuti oleh Titin dari arah belakang.
"Den, itu isinya benar-benar makanan? Gak bahaya kan?" Tanya Titin.
"Hahaha, ada ada aja nih bi Titin. Ya gak bahaya lah, kan ini cuma makanan, nenek udah capek-capek masak juga," jawab Riki.
Liana yang mendengar jawaban Riki, membuat wanita itu menyimpan banyak pertanyaan untuk keponakan lelakinya itu. Liana memperhatikan Riki yang sedang memindahkan makanan itu dengan sangat hati-hati. Bahkan kini lelaki itu sedang mencicipi salah satu menu makanan itu kemudian tersenyum.
"Apa aku gak salah lihat?" Gumam Liana.
__ADS_1
Bersambung…