
Nita sibuk menelpon Liana dan menjelaskan jika mereka terusir dari rumah. Tentu ibu dan adiknya itu merasa kasihan dan memberikan tumpangan. Kebetulan juga memang disamping rumah Liana, ada kontrakan yang memang sengaja disediakan Daffa agar bisa dikelola oleh Bu Ani, sehingga mendapatkan penghasilan meskipun menjadi seorang janda.
"Benarkah?" Tanya Nita meyakinkan.
"Iya teh. Kesini aja, masih ada dua yang kosong kok," jawab Liana.
"Makasih ya Dek, nanti teteh kesana," ucap Nita.
Nita pun mengakhiri panggilannya dan mulai mengajak semua orang untuk pergi. Sebelumnya Nita telah memesan mobil untuk pergi mengingat bawaan mereka cukup banyak dan ibu mertua yang tidak mungkin berjalan jauh menuju angkutan umum.
"Nita, kita mau dibawa kemana?" Tanya Maryati.
"Ke rumah Ibu, disana ada kontrakan juga yang kosong," jawab Nita.
"Oh ke kontrakan, kirain pindah ke rumah ibu kamu yang katanya besar itu, Nabila memang suka mengada-ngada," ucap Maryati.
"Beneran kok rumah nenek besar, lebih besar dari rumah yang kita tempati. Aku gak suka berbohong kaya nenek," jawab Nabila yang tidak dipertimbangkan terlebih dahulu karena kesal dengan sang nenek.
"Bicara sama orang tua kok begitu, didikan siapa? Ibumu?" Tanya Maryati.
Nita memandang ke arah Nabila dan memberikan kode supaya anak gadisnya itu diam dan tidak meladeni omongan sang nenek. Nabila yang mengerti akhirnya gadis itu diam. Sementara Arman menggelengkan kepalanya karena tingkah mereka. disaat ini dia sedang merasa frustasi karena kehilangan tempat tinggal dan merasa hidup terlunta-lunta.
"Kenapa diam? Hmm … dari dulu memang tidak ada yang dibanggakan dari keluarga ibumu," ucap Maryati pada Nabila. Padahal Nabila masih anak-anak tapi terus saja didebat dan tak mau kalah.
__ADS_1
"Cukup Bu, aku pusing dengan masalah ini, ini semua terjadi juga gara-gara ibu yang memanjakan mbak Dela, padahal itu rumah sudah aku beli dan bukan harta warisan lagi. Aku harap ibu bisa menempatkan diri nanti. Jangan sampai membuat aku malu..!" Ucap Arman.
Maryati pun diam saat masalah sertifikat rumah dibahas. Dia tidak bisa membela diri ataupun anaknya Dela.
Sesampainya disana Arman juga merasa takjub dengan rumah yang ditempati mertuanya. Dari mana mereka bisa membeli rumah sebesar ini? Batinnya.
"Beneran ini rumah ibu?" Tanya Arman.
"Iya, ayo masuk dulu..!" Ucap Nita.
Mereka datang dan disambut ramah. Rumah itu memiliki satu asisten rumah tangga, sebelumnya memang Liana pikir sekaligus bisa menemani Bu Ani saat dia berada diluar dan sibuk dengan kuliahnya.
Mereka duduk diruang tamu dan mulai membicarakan tempat tinggal. Nita juga ingin kepastian dimana mereka akan tinggal mengingat banyaknya anggota keluarga yang Nita bawa.
"Jadi kontrakan disana ada yang kosong Bu?" Tanya Nita.
"Loh, kenapa tidak disini saja? Apa anda menghina saya dan menyuruh saya tinggal dikontrakan?" Tanya Maryati.
"Bu …, sudah aku katakan ibu harusnya bisa menempatkan diri..! Beruntung besan ibu masih mau menerima ibu," bisik Arman ditelinga ibunya.
"Bukan menghina, tapi dirumah ini hanya ada 4 kamar. Yang kosong hanya satu kamar saja, jadi memang tidak memungkinkan," jawab Liana.
"Eh, gapapa kok Dek. Ibu hanya bercanda. Iya akan Bu?" Tanya Arman.
__ADS_1
"Hmm… punya rumah segini aja udah blagu," ucap Maryati pelan tapi masih bisa terdengar.
"Nenek kalau tidak mau ikut ya gapapa, nenek bisa pergi dengan Tante Dela atau om Romi atau yang lainnya," jawab Nabila yang kesal karena nenek kesayangannya dihina.
Maryati tak berkutik, dia akhirya diam. Seandainya bisa, tentu dia akan memilih tinggal bersama anak-anaknya yang dibanggakan.
Akhirnya semua sepakat kalau satu kamar yang kosong di rumah Liana ditempati oleh Riki. Sementara Nabila tidur dengan sang nenek atau tantenya di rumah itu.
Nita, Arman dan Maryati tinggal disalah satu kontrakan yang kosong. Hari itu juga mereka membereskan barang-barang agar besok pagi Nita dan Arman bisa bekerja tanpa harus mengambil cuti. Mereka tahu jika sudah terlalu sering libur.
Kamar Maryati dibereskan terlebih dahulu, setelah itu mereka berdua membereskan yang lainnya.
"Dek, itu beneran rumah Liana?" Tanya Arman.
"Iya Mas, itu dari calon suaminya. Kontrakan ini juga dihadiahkan untuk ibu agar ada pemasukan setiap bulan untuk kehidupan sehari-hari. Mas tahu sendiri kan makanan di kota mahal-mahal," jawab Nita.
"Oh, baik banget calonnya Liana. Memangnya kapan mereka menikah?" Tanya Arman.
"Aku gak tahu Mas, karena Liana ingin menyelesaikan kuliahnya dulu," jawab Nita.
Pembicaraan itu terus berlanjut, Maryati yang penasaranpun memasang telinganya dengan baik. Karena pendengarannya yang mulai berkurang, wanita tua itu bahkan harus berpura-pura menuju dapur untuk mendengarkan obrolan mereka.
Nita mengatakan apa adanya, tapi dia tidak membahas harta warisan itu. Nita seakan enggan bercerita untuk saat ini bahkan kepada suaminya, karena ini belum jelas dan takut kalau Mbak Dela tahu dan sampai berani berbuat curang lagi. Cukup sekali dia kehilangan sertifikat rumah, dia tidak ingin keluarganya diusik lagi, terutama ibu kandungnya.
__ADS_1
Baru juga calon, apa aku komporin aja ya calon suami Liana itu. Aku kasihan saja sama dia, masa orang kaya dapetnya Liana yang gadis kampungan, batin Maryati.
Bersambung ….