
Kinan berjalan sangat cepat, ketika sampai di depan pintu kamar khusus ibunya. Dia langsung membuka pintu itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Terlihat Maryati yang tertidur nyenyak di sana memeluk guling.
"Lihat, ibu lagi tidur. Nanti saja kamu marah-marahnya ya..!" Ucap Firman.
"Tapi ibu kamu keterlaluan Mas," jawab Kinan.
"Biarkan ibuku menempati kamar ini malam ini ya? Malam ini saja, oke?" Tanya Firman dengan suara pelan sambil memohon.
"Oke, cuma malam ini," jawab Kinan kemudian membalikan badannya dan berlalu pergi.
***
Malam itu Kinan marah, dia bahkan tidur dikamar salah satu anaknya karena tidak ingin sekamar dengan suaminya. Masih ada kamar kosong, tapi Kinan tidak bisa tidur sendirian karena takut.
"Mah, kok tidur disini sih?" Keluh Dina.
"Mamah lagi ingin aja. Kamu gak usah banyak tanya Dina, yang penting besok uang jajan kamu Mamaj tambahin," ucap Kinan.
"Bener ya Mah? Sering-sering Mamah tidur di kamar Dina ya..!" Dina menarik selimutnya dan tidur kembali.
"Bocah ini, apa dia mau neneknya yang menyebalkan itu tinggal disini lebih lama? Kalau bukan karena ibu Mas Firman, aku tidak akan repot-repot pindah kamar," gumam Kinan pelan.
__ADS_1
Firman sempat menemui Kinan di kamar sang anak, tapi wanita itu menolak, dia masih dengan pendiriannya kalau dia tidak mau Maryati tinggal di rumahnya, dia tidak mempan dengan rayuan atau bujukan sang suami tampannya itu.
***
Ketika pagi datang, Kinan sudah dibuat kesal oleh kelakuan Maryati. Terlihat mertuanya itu makan paling banyak dan mengambil beberapa makanan dengan tangannya. Padahal disana sudah ada sendok, membuat Kinan tidak nafsu makan.
"Bu, jorok banget sih," protes Kinan.
"Iya ih," ucap Hana.
"Maaf, ibu hanya terlalu bersemangat saja dan perut ibu benar-benar lapar," jawab Maryati.
"Mas, lihat tuh ibu kamu. Kalau dari kampung memang begini nih, udah ah aku mau cek toko dulu. Ingat ya dengan janji Mas tadi malam!" Ucap Kinan berlalu pergi. Disusul oleh Hana dan Dina.
Setelah selesai makan, Firman mulai membujuk ibunya untuk pulang. Tentu karena Kinan tak mau ada ibunya disini, karena ini memang rumah Kinan, jadi terpaksa Firman melakukan ini.
"Ayo Bu kita pulang!" Ucap Arman sambil mengemasi baju ibunya.
"Gak mau," jawab Maryati lalu mengeluarkan lagi semua baju yang hendak dimasukan Firman.
"Ibu suka tinggal disini, rumahnya luas, bagus, dan makanannya enak-enak Man," tolak Maryati kemudian mengusir anaknya itu dari kamar yang ditempatinya saat ini.
__ADS_1
Firman bingung, dia tidak bisa memaksa ibunya dengan cara kasar. Lelaki itu membiarkannya begitu saja dan pergi ke salah satu toko yang biasa dikelolanya.
Kehadiran Maryati yang masih terlihat oleh Kinan membuat wanita itu geram. Ditambah ada salah satu vas bunga miliknya yang pecah.
"Ini itu barang mahal Bu, ibu harus menggantinya!" Teriak Kinan.
"Paling seratus ribu, lagian ini kan barang kamu jadi ibu juga punya hak. Uang kamu uang Firman juga, dan uang Firman uang ibu juga," jawab Maryati.
"Astaga, hahahaha… anak ibu itu cuma menang tampang doang Bu. Semua kekayaan ini hasil kerja kerasku, pemberian orang tuaku, jadi ibu gak punya hak bahkan untuk tinggal disini," ucap Kinan.
"Kamu tega berbicara begitu sama ibu? Akan ibu adukan sama Firman kalau dia pulang nanti," ancam Maryati.
"Silahkan Bu, putra ibu itu tidak akan bisa melawanku. Ibu ini kan sudah tua, lebih baik banyak beribadah saja, jangan banyak makan dan nyusahin orang!" Ucap Kinan berlalu pergi.
Deg
Maryati tak menyangka Kinan akan berbicara sepedas itu. Selama tinggal bersama Nita, dia tidak pernah diperlakukan seperti ini. Dia selalu menjadi pemimpin di rumah yang ditempatinya meskipun itu rumah anak menantunya.
"Menantu sombong. Akan aku buat Firman membencimu," ucap Maryati dengan tatapan benci.
***
__ADS_1
Sore itu Firman pulang, dia terkejut melihat ibunya terbaring diranjang dengan tangan yang memakai perban luka.
Bersambung …