
Firman menghampiri ibunya yang terlihat sedih, bahkan Maryati memperlihatkan kalau dia habis menangis. Matanya memerah dan kelopak matanya sedikit membengkak.
"Tangan ibu kenapa?" Tanya Firman.
"Ini karena ibu gak sengaja menyenggol vas bunga Kinan dan akhirnya pecah. Tangan ibu kena pecahan beling sedikit dan ibu malah dimarahi Kinan seharian. Dia bilang harga vas nya mahal Man," jawab Maryati.
"Masa sih Bu? Aku tahu harga vas itu mahal, tapi kan ibu gak sengaja. Seharusnya dia lebih mementingkan tangan ibu yang terluka bukannya malah marah-marah," ucap Firman.
"Bener Man, tadi Kinan marah-marah dan suruh ganti vas bunganya. Dia bilang harganya belasan juta, ibu kan gak punya uang sebanyak itu Man, hiks…," jawab Maryati sambil menangis.
Tentu saja Firman tidak terima ibunya diperlakukan seperti itu, lelaki itu berbalik dan berjalan menuju kamar Kinan sementara Maryati hanya tersenyum sebagai penonton saja nantinya.
Terdengar suara keributan dikamar anaknya itu, Maryati hanya diam dan mencoba menguping meski tak terdengar suara mereka. Yang terdengar hanya beberapa kali benda terjatuh tapi bisa dipastikan jika pasangan suami istri itu sedang bertengkar.
"Nenek lagi ngapain didepan kamar Mamah?" Tanya Hana yang mampu membuat Maryati terkejut.
"Kamu ini bikin kaget aja, Nenek cuma lewat. Nenek lapar mau ke dapur, kamu mau nemenin nenek makan?" Jawab Maryati.
"Oh, gak Nek. Aku udah makan tadi, yaudah kalau nenek mau makan cepetan ke dapur jangan diem didepan kamar mamah sama papah..!" Ucap Hana kemudian berlalu pergi.
Perkataan cucunya itu membuat Maryati kesal, tapi meski begitu Hana dan Dina merupakan salah satu cucu kesayangannya. Maryati tidak bisa marah kepada mereka.
Ketika Hana pergi, Maryati melanjutkan menguping disana. Apa mereka masih bertengkar? Apa Kinan akan bertekuk lutut dihadapan Firman? Batin Maryati.
Ceklek
Deg!
Pintu yang tiba-tiba terbuka itu, mampu membuat Maryati kaget. Dia melangkah mundur beberapa langkah lalu bergegas pergi ke dapur. Dia tentu tidak mau ketahuan oleh mereka.
"Pasti ibu kamu itu nguping deh, so pura-pura pergi lagi," ucap Kinan sengaja dengan keras agar bisa terdengar oleh ibu mertuanya.
Tapi Maryati cuek, dia tidak mau menunjukan rasa gugupnya. Dia benar-benar berada di ruang makan dan menyantap makanannya. Karena kesal pada Hana dan juga aksi yang ketahuan, wanita itu makan cukup banyak.
__ADS_1
***
Setelah selesai makan, Maryati terkejut saat pintu kamarnya terkunci. Firman menghpirinya dan mengatakan kalau baju-baju ibunya itu sudah dipindahkan ke kamar lain.
Maryati tentu tidak terima, tapi menurut Firman kamar yang sekarang pun tidaklah jelek. Kamar yang cukup luas meski tidak seluas dan sebagus kamar khusus ibu Kinan.
Saat bertengkar di kamar, Kinan meminta ganti rugi karena vas yang pecah. Karena Maryati tidak punya uang apalagi Firman, membuat Kinan menyuruh suaminya untuk memindahkan baju mertuanya ke kamar belakang. Kinan juga menyangkal tentang tangan Maryati yang sakit, istrinya itu menyuruh Firman untuk membuktikannya sendiri.
Dikamar baru yang akan ditempati Maryati, wanita itu tidak terima dan memarahi anaknya Firman.
"Masa ibu tidur dikamar ini sih Man, emangnya ibu pembantu," ucap Maryati.
"Ini juga kamarnya besar Bu, hanya saja memang dekat dengan kamar pembantu. Ibu lihat aja sendiri kalau kamar pembantu itu kecil dan gak sebesar ini. Sudahlah Bu, jangan mempersulit aku..! Kinan sudah tak mempermasalahkan vas bunga itu, kalau ibu masih memaksakan apa yang ibu mau, maka Kinan juga akan semakin keras sikapnya," jawab Firman.
"Kamu ini laki-laki, dan pemimpin rumah tangga. Masa kamu kalah sama Kinan, gak pantes lah. Jadi suami kok takut istri," ejek Maryati.
"Iya aku tahu harusnya seeprti itu. Tapi Kinan itu kan menantu pilihan ibu juga, aku menjadi seperti ini ya gara-gara ibu. Tentu aku mengalah karena semua pengeluaran rumah tangga ditanggung oleh Kinan, aku gak berkuasa disini Bu. Aku harap ibu paham..!" Jawab Firman kemudian berlalu pergi.
***
Sementara di kontrakan yang ditempati Nita dan Arman, mereka kini tinggal berdua saja. Sesekali Nabila dan Riki akan menginap disana atau sebaliknya, mereka yang menginap di rumah Liana.
Kehidupan Nita seakan lebih tenang, banyak waktu yang bisa dia gunakan untuk keluarganya. Dia sudah tidak tertekan dengan omongan ibu mertuanya yang sudah pindah.
Setiap hari Minggu mereka akan berjalan-jalan berempat, entah itu cuma berbelanja bulanan atau berkunjung ke tempat wisata. Mereka menikmati itu semua, apalagi disaat Nita dan Arman hanya berdua saja dikontrakan. Mereka seakan menjadi pengantin baru, merasa bebas dan tubuh mereka juga terasa bugar akhir-akhir ini karena pekerjaan mereka yang terasa lebih ringan.
"Mas, apa ada kabar dari ibu? Apa beliau betah disana?" Tanya Nita.
"Belum sih Dek, besok Mas telepon deh. Gapapa Dek ibu lebih lama tinggal disana juga, Mas kan jadi punya waktu banyak buat manjain kamu sayang, hehe…," jawab Arman sambil menggoda Nita.
"Ish… Mas ini," jawab Nita malu-malu.
"Mas pengen nambah momongan Dek, pengen buat dedek bayi buat Nabila, hehe …," ucap Arman sambil mengedipkan matanya.
__ADS_1
Membuat Nita menggelengkan kepalanya berkali-kali, tapi dia menyukainya. Dia juga merindukan masa-masa romantis diantara mereka, waktu berharga yang jarang mereka dapatkan apalagi dengan segudang kesibukan mereka ditambah mengurus Maryati yang banyak mau dan banyak keluhannya.
***
Saat pagi datang, Firman yang tahu ibunya masih marah. Dia berinisiatif menemui ibunya dikamar DNA mengajak ibunya itu sarapan meski Kinan cuek dan tidak peduli. Siapa lagi yang akan mempedulikan ibunya jika bukan dia.
Tok
Tok
Tok
"Bu … ayo sarapan dulu..!" Panggil Firman.
"Iya, masuk aja dulu Man," jawab Maryati.
Terlihat wanita itu masih duduk diranjanh dengan selimut menutupi kakinya. Firman duduk ditepi ranjang untuk membujuk ibunya. "Ayo Bu makan dulu..!" Ucap Firman.
"Nanti aja kalau Kinan udah bernagkat ke toko," jawab Maryati.
"Loh, kok gitu sih Bu. Sebaiknya ibu dan Kinan berbaikan..!" Ucap Firman.
Firman melihat lengan Maryati tanpa perban, dia melihat tidak ada luka apapun disana. Hingga dia teringat apa yang dikatakan istrinya kalau ibunya berbohong. Apa mungkin ibu memfitnah Kinan? Buat apa? Batin Firman.
Firman menyentuh tangan ibunya, merabanya dengan pelan memastikan tidak ada luka disana, Maryati yang lupa dengan kebohongannya. Dia menatap dengan heran.
"Kamu ngapain sih Man?" Tanya Maryati.
"Luka akibat pecahan vas bunga kemarin kok gak ada Bu?" Tanya Firman.
Deg!
Bersambung…
__ADS_1