
Liana mulai berbicara dengan sang kakak yang kini sudah sedikit lebih tenang.
"Kak, maaf ya kalau aku bisanya cuma ngerepotin Kakak, aku maunya kerja aja Kak daripada jadi beban, begini," ucap Liana sambil menangis. Disaat Nita tenang malah kini giliran Liana yang menangis sesenggukan.
"Dek jangan ngomong gitu, pendidikan itu penting. Kamu harus lulus SMA, lagian sayang kalau berhenti. Kamu tinggal ujian akhir aja kan?" Tanya Nita.
"Iya sih Kak, udah lulus SMA aku akan cari kerja," jawab Liana.
Liana berusia 18 tahun, selisih dua tahun dengan Riki. Ibu Ani hamil lebih dulu dan melahirkan sebelum Nita menikah, sementara Nita langsung hamil setelah sebulan menikah. Membuat umur mereka tak berjarak jauh, saat mereka bertemu pun membuat banyak hal yang mereka ceritakan karena sama-sama pada tahap remaja.
"Kita lihat kedepannya aja Dek, semoga kamu bisa lanjut kuliah. Kerja sambil kuliah kan bisa," jawab Nita.
"Tapi... , kalau aku sibuk kuliah dan kerja. Lalu ibu bagaimana? Gak apalah kak, aku bisa berhenti sekolah setahun," jawab Liana.
Nita pun mengangguk, dia juga tidak mau memaksakan adiknya. Terlebih ibunya memang perlu perhatian mengingat usianya yang lanjut usia.
Saat Bu Ani bangun, Nita langsung menghampirinya. Mengecup punggung tangan sang ibu, memeluk erat tubuhnya dimana Nita bahkan bisa merasakan menyentuh tulang ibunya saking kurusnya. Sakit, sungguh sakit hati Nita melihat keadaan ibu yang melahirkannya kini dengan tubuh seperti itu.
"Bu, apanya yang sakit? Sini biar Nita pijitin," Tanya Nita dengan suara yang bahkan hampir tak terdengar karena dadanya sesak menyaksikan ini semua.
"Ibu gapapa, hanya sedikit pusing dan tidak enak makan. Kamu gak usah khawatirin ibu, ada Liana disini. Kamu lebih dibutuhkan disana, anak-anak kamu pasti butuh kamu Nak," jawba Bu Ani.
"Biarkan Nita menjaga ibu beberapa hari. Anak-anak sudah besar Bu, mereka anak yang baik dan mandiri, mereka titip salam juga buat ibu, semoga cepet sembuh, Nabila terlihat ingin ikut juga Bu, tapi anak-anak memang harus sekolah," jawab Nita.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam…, ibu doakan anak-anakmu sehat, dan sukses meraih cita-citanya," ucap Bu Ani.
"Aamiin Bu, maaksih doanya," jawab Nita, kembali dia memeluk ibunya.
***
Saat sore hari, Nita menyempatkan waktu untuk menelpon Nabila dan Riki. Menanyakan keadaan mereka, syukurlah ternyata semua baik-baik saja.
"Bu, Ayo makan..! Nita udah masakin khusus buat ibu. Apa ibu mau makan dikamar aja?" Tanya Nita.
Bu Ani mengangguk, Nita pun menyuapi sang ibu dengan telaten. "Bu makan yang banyak biar cepet sehat!"
"Iya," jawab Bu Ani.
"Iya, anak ibu memang bawel, hehe…," jawab Bu Ani.
Mendengar kata bawel tidak membuat Nita tersinggung, malah dia merasa senang. Dia seperti anak kecil yang diomeli, ah sungguh Nita merindukan masa itu. Meski kini dia seorang ibu, tapi dia tetaplah anak Bu Ani, Bu Ani akan tetap menganggap Nita anak kecil. Anak yang perlu perhatian, perlu kasih sayang dan sedikit omelan, hmm…
Setelah selesai makan, mereka berbincang-bincang bertiga bersama Liana. Mengenang masalalu dimana masih ada Pak Rahmat ayah mereka. Jika Ayah masih ada, mungkin ibu tidak akan kesepian seperti ini, batin Nita.
Ayah Nita adalah ayah terbaik menurutnya, meski terkadang tegas, itu demi karakter anak-anaknya dimasa depan. Ayahnya selalu bisa menunjukan kasih sayang, bermain bersama anak-anak meski lelah sepulang bekerja dan membawakan makanan ringan untuk mereka saat pulang. Pak Rahmat lelaki yang pekerja keras dan penuh tanggung jawab, bahkan Nita bisa sampai berhasil diwisuda.
***
__ADS_1
Keesokan harinya Nita berbelanja sayuran dan lauk pauk untuk menu makan dirumah, dia juga membeli beberapa vitamin untuk sang ibu, tak lupa buah-buahan segar.
"Sesekali tak apalah aku membelikan ibu banyak makanan sehat seperti ini, bahkan inginnya setiap hari," gumam Nita.
Sesampainya di rumah, Nita langsung memasak. Adiknya Liana hari ini pergi sekolah karena Nita ada untuk menjaga ibunya dan juga keadaan bu Ani sudah membaik dari sebelumnya.
Terlihat Bu Ani berjalan perlahan menuju meja makan, Nita langsung membantu memapah ibunya.
"Ibu…, kalau belum kuat jangan dipaksakan, nanti Nita yang ambilkan apa yang ibu butuhkan..!" Ucap Nita pelan.
Bu Ani hanya tersenyum mendengarkan Nita. Bu Ani senang dengan perjumpaan ini, dia begitu merindukan anak sulungnya ini. Dia rindu dengan semua nasehat anaknya itu, terkesan cerewet, tapi itu bentuk perhatian yang patut disyukuri. Anaknya masih peduli padanya disaat usianya sudah lanjut usia. Begitu banyak diluaran sana seorang ibu yang ditelantarkan anak-anaknya, tapi Bu Ani mengerti posisi Nita, dia memaklumi dan dia merasakan kasih sayang Nita anaknya.
Sore itu Nita berpamitan, meski berat… tapi dia harus tetap kembali. Andai dia bisa membelah diri, membuat dirinya menjadi dua, pasti sudah diablakukan dari dulu.
Selama perjalanan Nita masih belum tenang meninggalakan ibunya. Seharusnya dia sebagai anak sulung mampu membahagiakan ibunya, membiayai semua kebutuhan ibunya, Nita selalu dihantui rasa bersalah.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Arman menelponnya.
Nita merasa gelisah, haruskah aku mengangkatnya? Bukannya Mas Arman sedang kesal dan tak mau bicara padaku? Batin Nita.
Akhirnya Nita memilih menjawab, belum juga dia mengucapkan salam, terdengar Arman menanyakan keberadaannya. "Kamu dimana, apa sudah diperjalanan pulang? Ini ibu malah mennagis, dia bilang gak mau diurus sama teh Rini. Maunya sama kamu, ibu mengamuk, kamarnya berantakan, sepertinya kamu salah mempekerjakan teh Rini itu, jangan-jangan ibu diapa-apain lagi sampai dia marah-marah," ucap Arman.
"Iya Mas, sebentar lagi aku sampai kok. Nanti aku coba bicarakan sama ibu dan teh Rini, Mas jangan menuduh sembarangan gitu..!" jawab Nita.
__ADS_1
Bersambung ….