
Nita mengetuk pintu beberapa kali lalu dia mendorong pintu yang terbuka itu perlahan. Ingin rasanya Nita marah pada ibu mertuanya itu, tapi sudahlah, dia sedang tidak ingin ribut.
"Gimana kabar ibu?" Tanya Nita.
"Sudah mendingan," jawab Maryati singkat.
"Syukurlah, ini aku bawain makanan dan juga buah-buahan Bu," ucap Nita lalu menyimpannya.
"Kamu gak kerja? Bisa jagain ibu kan?" Tanya Maryati.
"Maaf Bu, kalau hari ini gak bisa," jawab Nita. Dia ingin menolak keinginan ibu mertuanya sekali saja.
Akhirnya Nita menunggu Maryati sampai siang hari bersama Firman. Pada akhirnya Nita menyetujui permintaan Maryati meski hanya sampai siang hari. Firman yang merasa tidak enak, dia juga menelpon Kinan memberitahu jika dia pulang besok pagi.
Maryati yang merasa sudah tidak lemas lagi, dia ingin pulang, membuat anak lelakinya itu tak bisa menolak dan mengurus semua administrasinya.
Nita memilih pulang menggunakan taksi karena dia ingin menjemput Nabila sepulang sekolah. Sementara Firman dengan mobilnya mengantar sang ibu.
***
"Mamah…," panggil Nabila.
"Bila kaget ya liat mamah jemput kamu?" Tanya Nita sambil tersenyum.
"Iya, bukannya Mamah lagi sakit?" Ucap Nabila.
"Udah baikan kok Bil, tadi Mamah nengokin nenek di Rumah sakit. Sekalian aja Mamah kesini, toh gak jauh juga kan darisana, hehe…," jawab Nita.
"Nenek sakit Mah, sakit apa? Perasaan tadi pagi baik-baik saja," tanya Nabila dengan khawatir.
"Bukan nenek Ani, tapi nenek Maryati," jawab Nita yang mengerti jika anaknya itu salah paham. Yang bertemu Nabila tadi pagi tentulah ibu kandungnya (Bu Ani).
__ADS_1
"Syukurlah, ayo Mah kita pulang..!" Ucap Nabila.
"Hmm…, kamu gak mau nengokin nenek di kontrakan?" Tanya Nita.
"Besok aja Mah, hari ini Mamah harus nemenin aku seharian di rumah..!" Jawab Nabila.
"Tapi beneran ya… besok nengokin nenek kamu?" Tanya Nita meyakinkan.
"Iya Mah," jawab Nabila dengan terpaksa. Tentu dia tidak berniat menjenguk neneknya yang sama sekali tidak menyayanginya, tapi demi sang ibu dia akan menyempatkan waktu meski sebentar.
***
Saat pagi datang, Firman sudah bersiap-siap pulang karena istrinya sudah berkali-kali menghubunginya. Arman yang belum berangkat bekerja, dia akan menunggu sampai kakaknya ini berangkat.
Tiba-tiba Maryati datang dengan penampilan yang sudah rapi, bahkan dia menyeret tas besar yang lumayan berat. "Ibu ikut ya Man, ibu kangen sama cucu-cucu ibu?" Tanya Maryati pada Firman.
"Tapi Bu, aku belum membicarakan hal ini dengan Kinan Bu," keluh Firman.
"Tapi ibu kan masih sakit," ucap Arman. Dia khawatir jika perjalanan jauh membuat ibunya semakin sakit.
"Ibu sudah sehat, kamu gak usah khawatir. Ibu lebih tahu badan ibu sendiri," jawab Maryati.
Wanita itu langsung saja membuka pintu mobil, lalu masuk, dan kini duduk santai di dalam mobil. "Man, naikkan tas ibu ya!" Teriak Maryati pada Arman.
"Bagaimana ini Mas?" Tanya Arman.
"Udahlah, ibu sudah naik juga. Aku hanya berharap nanti Kinan tidak marah besar," jawab Firman.
Arman mengangguk, dia membawakan tas besar ibunya untuk dimasukkan ke dalam mobil dibagian belakang. Arman khawatir jika ibunya akan membuat kakak dan kakak iparnya bertengkar seperti yang dialaminya dengan Nita.
Semoga saja keputusan ibu itu adalah keputusan terbaik, batin Arman.
__ADS_1
***
Perjalanan yang cukup jauh membuat Maryati mabuk kendaraan beberapa kali. Firman sudah menawarkan pada ibunya untuk kembali pulang, tapi wanita itu tidak menyerah, dan ingin melanjutkan perjalanan.
"Kita istirahat disini dulu ya Bu?" Tanya Firman.
Maryati mengangguk pelan, dia memesan teh manis hangat dan beberapa roti. Perutnya lapar sekali karena habis dia muntahkan selama perjalanan. "Apakah masih jauh Man? Berapa menit lagi?" Tanya Maryati.
"Satu jam lagi Bu," jawab Firman.
"Apa? Kami ingin ibu mati dijalan?" Teriak Maryati.
"Kok ibu ngomongnya ngelantur gitu sih, ya enggak lah Bu," jawab Firman.
"Kenapa tidak bilang kalau perjalanannya sejauh dan selama ini?" Ucap Maryati.
Firman hanya menunduk saat ibunya terus saja mengomel, padahal dia sudah memberitahu lebih awal kalau perjalanannya jauh. Firman merasa pusing, padahal dia baru saja beberapa jam membawa ibunya jauh dari Arman.
Ah, aku tidak bisa membayangkan Arman yang begitu sabar tinggal bersama ibu selama ini, batin Firman.
Maryati memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan, dia sempat meminta untuk naik becak saja. Permintaan yang tak masuk akal, dengan mobil saja bisa satu jam, bagaimana dengan kendaraan roda tiga yang dikayuh manual oleh manusia. Firman merasa kewalahan dengan permintaan ibunya itu.
"Kita sudah sampai Bu," ucap Firman membangunkan ibunya yang tertidur karena lemas. Dia mabuk lagi dan sudah merasa tak kuat hingga akhirnya tidur.
Apa ibu pingsan ya? Batin Firman.
Tapi tak lama, ibunya bangun. Dia senang saat anaknya mengatakan kalau perjalanan sudah berakhir. Dia turun dengan semangat tinggi, menatap rumah mewah di hadapannya.
"Wah, ini sih lebih besar daripada rumahnya Ani," gumamnya pelan.
Mereka pun berjalan menuju rumah, disana sudah ada Kinan yang menyambut kedatangan suaminya. Wajah Kinan berubah masam saat dia melihat wanita yang ada di samping Firman. Sementara Maryati sangat senang melihat menantunya menyambutnya diteras rumah.
__ADS_1
Bersambung …