
Nita yang tak mau terus mengingat kesedihannya, dia memilih mengerjakan semua pekerjaan rumah. Bahkan setelah selesai, dia meluangkan waktu untuk kedua anaknya, belajar bersama mereka. Sesekali Maryati sang ibu mertua memanggilnya, dan Nita selalu menghampiri ibu mertuanya karena dia tahu dia sangat dibutuhkan.
"Nita, ibu mau disuapin Arman aja, panggilkan suamimu..!" Ucap Bu Maryati.
"Baik Bu," jawab Nita. Meski sebenarnya dia malas harus bertegur sapa dengan suaminya, Nita masih merasa kesal.
Nita pun melangkah pergi menuju kamarnya, ya… dia tahu suaminya itu sedang tidur sore karena rasa lelah pulang kerja. Di goyang-goyangkanlah badan Arman, "Mas, itu kata ibu..!" Ucap Nita.
"Hmm, kamu aja Dek yang urus..! Aku capek," keluh Arman.
"Itu kan ibumu Mas, cepetan..! Kasian ibu," ucap Nita.
Arman pun bangun, dia duduk ditepi ranjang, "iya…, kamu cerewet sekali sih," keluh Arman berlalu pergi.
Nita pun kembali menuju kamar anaknya, dia tidak mau memusingkan perkataan Arman yang sering kali membuat hatinya tergores. Kali ini Nita juga ingin Arman tahu betapa kerepotannya dia selama ini mengurus ibunya.
Tapi beberapa menit kemudian Arman datang menyusul Nita dengan kesal, "dek kamu belum masak nasi lagi? Masa habis sih, ibu katanya mau makan," ucap Arman.
"Aku selalu menyediakan makanan khusus untuk ibu Mas, aku pisahkan nasi beserta lauknya dan dalam porsi banyak. Biasanya juga cukup, dan sekarang aku baru mau masakan nasi lagi," jawab Nita.
"Alah, bilang saja kalau kamu menjatah makanan ibu, apa kamu gak kasihan liat ibu kelaparan? Makanya sediakan yang benar..!" Ucap Arman tak percaya.
__ADS_1
Nita tak mau menjawab lagi, dia bergegas pergi memasak di dapur. Ibu Maryati yang sakit dan udah lanjut usia itu memang makannya banyak sejak sakit, mungkin tidak ada kegiatan jadi dilampiaskan pada makanan. Tapi aku tahu porsi ibu, aku selalu menyediakan makanan banyak, bahkan itu porsi untuk dua orang, lalu kenapa ibu malah mengeluh pada suamiku? harusnya jika kurang kan, beliau bicara padaku secara baik-baik dari hari kemarin, Batin Nita.
Setelah satu jam, nasi matang. Ditambah sayur SOP dan juga tempe goreng. Tak lupa Nita membuat telur ceplok karena Bu Maryati begitu menyukainya.
"Ini Mas…," ucap Nita. Dia memberikan makanan itu pada suaminya.
"Lama banget sih," keluh Arman.
Namanya juga masak dulu, ya lama lah. Kalau protes terus, aku akan membiarkan mas Arman yang masak sendirian khusus buat ibu, batin Nita.
Terlihat ibu mertua Nita tidak mau makan, mengatakan jika makanannya tidak enak. Padahal Nita memasak seperti biasanya, kalau dia niat bahkan bukan melebihkan garam, tapi dia akan menambahkan racun di dalamnya.
"Astaga Mas, aku masak seperti biasa. Mana mungkin aku sengaja masak masakan gak enak untuk ibu, kamu coba aja!" Jawab Nita kesal. Sudah cape tapi tidak dihargai dan masih saja disalahkan.
Saat malam hari, Nita ingin buang air kecil, dia pergi ke kamar mandi dan melewati kamar ibunya. Dia mengintip sebentar dan melihat Bu Maryati makan dengan lahapnya, bahkan cemilan yang dibelikan mas Arman tadi pun habis.
Apa ibu berakting ya biar aku selalu salah Dimata Mas Arman? Atau ibu ingin lebih diperhatikan oleh Mas Arman hingga berulah setiap hari? Batin Nita.
***
Keesokan harinya Nita beraktivitas seperti biasanya. Pagi ini dia akan pergi mengajar, dia juga menyempatkan diri untuk mengantar anak-anaknya ke sekolah. Urusan rumah sudah ia selesaikan, dia juga menambah porsi makanan untuk ibu mertuanya agar suaminya tidak protes lagi. Memang kebutuhan sang ibu mertua boros mengingat ada saja makanan yang ingin dibelinya secara online. Di rumah memang disediakan WiFi untuk kebutuhan anak-anak Nita.
__ADS_1
Bu Maryati memang sebelumnya sudah mengenal handphone dan masih dipakai sampai sekarang. Keinginannya seperti wanita ngidam yang harus dituruti hari itu juga, padahal Nita selalu berusaha berhemat dan tak pernah jajan, dia selalu makan di rumah mengingat keuangan keluarganya yang pas-pasan.
Ingin rasanya Nita menyembunyikan ponsel ibu mertuanya agar tidak selalu tergiur makanan aneh-aneh yang porsinya sedikit tapi mahal bukan main. Tapi disisi lain Nita selalu bersyukur dengan keluarganya yang bisa makan dengan layak. Dia juga berusaha berpikir positif kalau rezeki sang ibu mertua juga ada, Allah dititipkan kepadanya dan juga Arman, hanya saja dia tidak suka dengan sikap ibu mertuanya.
Siang itu Nita seperti biasa mengecek keadaan ibunya yang ditinggal sendirian. Biasanya ibunya itu akan menonton tv, dan jika mau ke toilet dia akan berusaha berjalan sendiri dengan bantuan tongkat, atau akan pipis di celana. Menurut Nita keadaan ibunya sudah membaik, sudah bisa berjalan bahkan hanya dengan memegang dinding, entah mengapa jika ada Arman tiba-tiba menjadi tidak bisa berjalan.
"Loh Mas, kok udah di rumah. Biasanya lebih siang agar bisa memantau ibu di waktu yang berbeda?" Tanya Nita.
"Iya, kebetulan aja istirahat lebih awal dan ingat ibu suka soto ayam yang dijalan XX, jadi Mas beliin deh," jawab Arman.
"Oh, iya Mas. Aku bawain mangkuknya ya," ucap Nita.
Mas Arman begitu perhatian, aku saja sudah lama tak dibelikan makanan, meski hanya sebungkus batagor kesukaanku, ish… Nita kamu gak boleh iri, itu ibunya Mas Arman..! batin Nita.
Nita menyempatkan diri untuk membereskan kamar ibu mertuanya yang berantakan. Sementara Arman makan siang bersama ibunya, tak ada niat Arman menawari Nita makan. Rasa sakit itu diabaikan Nita, dia tidak boleh seperti itu. Jika dia mau, dia bisa membelinya sendiri.
Terlihat Araman membantu ibunya kembali ke kamar, membantu dengan hati-hati. Kaki Maryati terlihat kaku dan sulit digerakan.
"Dek, bantu Mas dong! Malah diliatin aja," suruh Arman.
"Ah, iya Mas," jawab Nita.
__ADS_1
Bukannya kaki ibu udah sembuh ya? Biasanya juga cuma dipegang tangannya ibu bisa jalan sendiri, aneh… apa ibu sedang berakting lagi? batin Nita.
Bersambung …