Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Dela Berulah


__ADS_3

Nita melihat Dela sedang bermain ponsel sambil tertawa, entah apa yang sedang dia lihat. Kebetulan sekali pintu kamar itu terbuka meski tidak lebar, membuat Nita langsung masuk dan memanggil kakak iparnya itu dengan nada yang sebisa mungkin dia rendahkan.


"Mbak, kenapa belum masak? Apa ibu sudah makan? Lalu kenapa rumah masih berantakan? Bahkan cucian piring tadi pagi saja masih menumpuk," ucap Nita.


"Mbak, mbak. Aku bukan mbak jamu. Lagipula aku bukan pembantu, aku tamu disini. Masa aku harus mengerjakan semuanya?" Jawab Dela.


"Tapi Mbak, kita berbagi tugas di rumah ini. Jika aku pergi bekerja maka mbak Dela yang membersihkan rumah dan memasak, dan aku pasti akan memasak makan malam serta membereskan semuanya selepas kerja," ucap Nita.


Dela seharusnya tahu diri jika dia sedang menumpang dirumah Arman dan Nita. Tapi wanita itu sepertinya memang tidak punya rasa malu. Benar kan? Mbak Dela hanya akan membuat masalah dan menambah beban pikiranku saja, bisa-bisa aku stress memikirkan orang-orang egois dirumah ini, batin Nita.


"Aku bukan pembantu. Aku tamu loh disini, seharusnya aku dilayani layaknya ratu," jawab Dela.


Nita menghembuskan nafas panjangnya. Berusaha menarik nafas perlahan dan menghembuskannya lagi. "Sabar Nita, sabar! Astagfirullahaladzim…," gumam Nita pelan.


Oke, akan aku biarkan mbak Dela istirahat saja hari ini. Tapi kalau besok masih berulah, akan kulawan dia, batin Nita.


Nita memilih pergi dengan segera sebelum emosinya naik dan kehilangan kendali. Dari kamar terdengar Dela memaki Nita karena tidak sopan datang dan pergi ke kamarnya seenak hati.


Berisik sekali, lagi pula ini rumahku. Aku bebas masuk ke kamar itu, apa aku perlu mengusirnya? batin Nita kesal.


Nita bergegas membereskan rumah, Nabila yang baru saja pulang sekolah. Anak perempuan itu langsung membantu ibunya meski dilarang oleh Nita.


"Gak usah Bil, kamu kan baru pulang sekolah. Kamu istirahat aja, kamu tidur siang..!" Ucap Nita.


"Gapapa Mah, mamah juga sama kok cape abis ngajar. Gimana kalau kita tidur siang bersama saja sekarang? Hehe…," jawab Nabila.

__ADS_1


"Hmm… lalu yang membereskan rumah siapa?" Tanya Nita.


Nabila tertawa, kemudian dia menjawab pertanyaan ibunya, "yaudah kita bereskan dengan cepat Mah, terus kita tidur siang deh, eh jadi tidur sore dong ya? Hahaha…"


Nita pun ikut tertawa, anak gadisnya itu mampu menghibur disaat suasana hatinya sedang kacau. Ya… Nita selalu bersyukur dengan kehadiran kedua anaknya yang selalu mengerti keadaanya. Tidak banyak menuntut dan selalu berusaha membantunya.


Setelah pekerjaan itu selesai, Nita dan Nabila merebahkan tubuh diatas ranjang. Dikamar Nabila membuat Nita lebih tenang, dia menatap langit-langit kamar itu yang berwarna pink. Memang anak gadisnya itu suka sekali warna itu karena cerah dan katanya warna kasih sayang, membuat suasana kamar semuanya berwarna merah muda sejauh mata Nita memandang.


"Bil, maaffin Mamah ya? Mamah belum bisa bahagiain kamu, membelikan barang yang kamu butuhkan saja perlu waktu lama, sampai menunggu uang Mamah terkumpul. Doakan Mamah, suapaya kedepannya banyak rezeki yang berkah, bisa pindah juga ke rumah yang baru. Rumah ini umurnya sudah lumayan tua dan sering bocor meski diperbaiki berkali-kali," ucap Nita.


"Aamiin… aku doakan yang terbaik buat Mamah. hmm... jangan begitu Mah, aku tetap bahagia kok hidup dengan Mamah. Sosok yang begitu penyayang, bahkan Mamah rela merawat nenek yang sering kasar sama kita. Aku masih ingat waktu aku sakit, nenek bahkan mengabaikanku. Mengatakan jika aku yang lebay. Seharusnya nenek khawatir, bukan malah mengejek aku yang sedang tak berdaya," jawab Nabila dengan amarah yang jelas terlihat.


"Bil, berdamailah dengan masalalu. Kita harus selalu menanam kebaikan agar yang kita tuai nantinya juga kebahagiaan. Sebagai manusia, bukankah yang paling baik itu yang berguna bagi sesama mahluk hidup, terutama dengan sesama? Ibu akan menanam kebaikan itu, tak peduli angin besar atau hujan lebat datang silih berganti. Ibu berharap tanaman itu bisa tumbuh besar dan kuat," jawab Nita.


"Mamah memang yang terbaik," jawab Nabila seraya mengacungkan jempolnya.


Karena lelah, mereka pun tertidur. Hingga suara seseorang membangunkan mereka. "Mah, jadi kamu disini malah enak-enakan tidur sementara Mbak Dela sedari pagi bekerja. Lihatlah! Bahkan mbak Dela yang menyiapkan makanan dan menyambutku didepan pintu," ucap Arman.


"Mas…, aku hanya tertidur sebentar. Aku tadi juga membersihkan rumah bersama Nabila, karena aku lelah, aku ketiduran. Aku tidak berniat mengabaikanmu Mas, karena aku merasa telah menyiapkan semuanya. Apa Mas mau mandi air hangat?" Ucap Nita.


"Biar aku yang bikin air hangatnya ya Arman? Sepertinya istrimu itu memang pemalas," ucap Dela.


Nabila yang geram, tak terima jika ibunya diperlakukan seperti itu. Dia bangkit dari tempat tidur, kini dia berdiri memandang punggung Dela.


"Tante yang pemalas, udah numpang gak mau kerja. Kasihan kan Mamah capek pulang kerja, rumah juga dibikin berantakan sama Tante dan nenek, jangan Fitnah Mamah!" ucap Nabila.

__ADS_1


Dela pun berbalik, "lihat tuh Arman! Kelakuan anakmu gak ada sopan santunnya. Persis kaya ibunya, urusin sana!" Ucap Dela sambil menunjuk ke arah Nabila.


Nita pun pasang badan, dia berdiri di depan Dela. Ibu mana yang tega melihat anaknya dimaki seperti itu, apalagi dalam keadaan tak bersalah, tapi seolah dibuat salah.


"Sudah mbak, cukup mbak menghina aku! Jangan bawa-bawa anakku! Nabila masih kecil, biar aku saja yang siapkan air hangat untuk suamiku," ucap Nita berlalu pergi ke dapur.


Dela yang kesal, dia pergi ke kamarnya dan memainkan ponselnya lagi. Sementara Arman yang baru pulang lembur itu tak membuka suara, dia sudah lelah bekerja dan tidak ingin terlibat perdebatan para wanita di rumahnya yang tidak akur ini.


Setelah Arman mandi, dia lalu makan. lelaki itu tau jika itu rasa masakan istrinya bukan kakaknya. Dela menghampiri Arman dan mengajaknya berbicara, dia mengeluh dan menangis. Nita sempat melihat adegan itu, tapi dia malas bertemu kakak iparnya, dia pun memilih tidur di kamar karena lelah.


***


Pagi pun datang, pagi ini bahkan Nita yang memasak sendirian. Dela sama sekali tidak membantu, malah tertidur pulas tanpa rasa bersalah atau tak enak hati.


"Ini masakan Mamah ya? Pantas enak. Tapi bukannya yang masak harusnya Tante Dela ya?" Ucap Nabila.


"Mau Mamah atau Tante Dela sama aja Bil, yang penting ada yang masakin kamu sarapan," jawab Arman.


"Oh iya Mah, kamu bagi tugas aja sama mbak Dela, dan biarkan Mbak Dela istirahat kalau lelah..! Kasihan mbak ku itu, dia lagi banyak beban pikiran karena masalah Mas Azis. Tolonglah kamu mengerti kesedihannya, jangan mengajaknya bertengkar dan jangan mempermasalahkan pekerjaan rumah!" Ucap Arman.


"Tapi ini tidak sesuai dengan perjanjian awal Mas. aku sudah lelah dan sekarang ditambah harus mengurus satu orang lagi? Sebaiknya Mas cari pembantu saja, aku tidak sanggup!" Jawab Nita. Dia bergegas berdiri dan membereskan piring yang kotor.


"Tapi Mah, aku gak tega. Kasihan mbak Dela kalau dalam keadaan terpuruk malah dibebankan pekerjaan. Mbak Dela kan tamu disini," ucap Arman. Lelaki itu tak mau kalah.


Kamu selalu kasihan pada keluargamu, tapi sama aku tak pernah ada rasa kasihan. Selalu berat sebelah, selalu membela keluargamu saja mas, batin Nita.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2