Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Dendam Masa Lalu


__ADS_3

Pagi hari itu semua orang pergi kecuali bu Maryati dan bu Ani. Seperti biasa sarapan sudah disediakan Nita untuk ibu mertuanya, pagi ini Nabila dan Riki berangkat lebih awal karena jarak sekolah dari rumah neneknya lumayan jauh.


Maryati yang bosan, dia mulai melihat suasana sekitar. Dia melihat kontrakan bangunannya masih baru, cat nya masih terang. Bangunannya juga masih kokoh dan bagus. "Sepertinya kontrakan ini belum lama dibangun, besannya Ani apa memang beneran orang kaya? Aku kok gak percaya ya ada lelaki kaya yang mau sama Liana. Aku akan mengunjungi si pelakor itu."


Maryati berjalan perlahan, dia menjemur badannya sebentar, rasa hangat membuatnya nyaman. Tapi itu tidak menghalangi rencananya untuk berkunjung ke rumah yang ada di hadapannya.


Tok


Tok


Tok


Ceklek


"Bu… maaf mau bertemu siapa ya?" Tanya Titin. Pembantu yang dipekerjakan oleh Liana yang dibawa dari kampungnya. Pembantu yang sudah Liana kenal dengan baik sehingga bisa mempercayakan ibunya ditinggal bersamanya.


"Aku ingin bertemu Ani, apa kamu tidak mengenalku? Aku kemarin datang kemari, jadi biarkan aku masuk!" Maryati.


"Maaf Bu, tapi tetap saya harus menanyakan ini pada Bu Ani terlebih dahulu, ibu bisa menunggu diteras..!" Ucap Titin.


"Hmm, sombong. Baru juga punya rumah begini tapi serasa istana aja, bertamu aja dibikin ribet," gumam Maryati kemudian duduk dikursi yang ditunjukan Titin.


Titin kembali dan mempersilahkan tamunya masuk, meski Titin merasa tidak suka dengan tamu yang kurang sopan ini, tapi majikannya memperbolehkan Maryati masuk.

__ADS_1


"Silahkan duduk Mar..!" Ucap Ani.


"Hmm…," Maryati pun duduk dengan seenaknya, seakan itu rumahnya sendiri.


"Ngomong-ngomong calon mantumu mana? Kamu hebat juga ya, sepertinya ilmu peletmu, kamu turunkan pada Liana," ucap Maryati sinis.


"Astagfirullahaladzim…, kamu masih saja berprasangka buruk padaku? Sudah aku katakan kalau sebelum Mas Ilham bertemu denganmu, dia sudah menjalin hubungan denganku. Disini tidak ada yang salah, tidak ada pelakor. Hanya saja Mas Ilham yang membuat pilihan antara pilihan hatinya, atau pilihan ibunya, itu saja. Aku juga tidak pernah membencimu," jawab Ani.


"Tentu saja kamu tidak membenciku karena aku disini yang menjadi korban perasaan kalian," ucap Maryati.


"Bukankah Mas Ilham sudah bilang kalau dia hanya ingin mencoba mengenalmu lebih dulu, dia tidak memutuskan menerima perjodohan itu. Jodoh kan ditangan tuhan, seharusnya kamu mengerti itu, dan jangan memaksakan kehendakmu sendiri!" Jawab Ani.


"Jika dulu kamu memisahkan aku dan Ilham, maka sekarang jangan salahkan aku jika ingin memisahkan anakku dan anakmu. Aku tidak suka dia menjadi menantuku," ucap Maryati.


"Aku gerah kalau bicara denganmu, selalu diceramahi. Padahal aku kesini bukan untuk pengajian, lebih baik aku pulang," ucap Maryati berlalu pergi.


Dulu saat Nita dilamar oleh Arman kebetulan Maryati tidak bisa ikut karena dia tidak merestui anak lelakinya menikahi gadis kampung. Setelah mereka menikah, Maryati semakin tidak suka saat tahu Nita adalah anak dari wanita yang merebut lelaki yang dia cintai.


Sejak itu Maryati berusaha membuat Nita tidak betah dirumah dan bercerai dengan anaknya. Tapi ternyata cinta Arman cukup kuat, sehingga mereka bertahan sampai sekarang. Tapi Maryati tidak menyerah, dia tidak rela atas pernikahan itu, dia juga enggan mengakui cucunya yang lahir dari rahim Nita.


Terkadang saat memandang Nabila, dia merasa ingin dekat karena wajah Nabila sedikit mirip dengan kakeknya Ilham, lelaki yang dicintai Maryati, tapi hatinya berusaha menolak keras dan berusaha tetap bersikap tidak suka pada Nabila. Hingga dia kini berhasil membuat cucunya itu juga membencinya, ada rasa sakit saat Nabila lebih memeilih Ani, tapi itulah yang sejak awal dia inginkan.


Ada sedikit penyesalan, tapi berusaha ditepis Maryati, dia tidak boleh goyah dengan rencana awalnya. "Sebaiknya aku istirahat, aku ingin melupakan masa lalu itu. Dimana saat aku telah berkorban banyak tapi Ilham lebih memilih wanita itu," gumam Maryati lalu membaringkan tubuhnya, padahal dia berjalan tidak jauh tapi rasanya dia lelah sekali mungkin karena usianya.

__ADS_1


***


Siang itu Arman sudah pulang, sementara Nita mampir lebih dulu ke rumah ibunya. Arman menenteng makanan untuk sang ibu, meski ibunya bersikap tidak adil padanya, tapi Arman tidak tega jika mengabaikan sang ibu. Dia berusaha memberikan yang terbaik, yang dia mampu tentunya.


"Bu…, ini Arman bawa makanan, sini Bu kita makan sama-sama…!" Ajak Arman.


Maryati pun duduk, dia mulai mengambil nasi dan lauk pauk. "Loh, istrimu mana? Bukannya tadi kalian berangkat bersama dengan sau motor?" Tanya Maryati.


"Nita ke rumah ibu Ani dulu, dia ingin melihat anak-anak," jawab Arman.


"Memang anakmu itu keterlaluan, masa ibu dicuekin. Seperti tidak menganggap ibumu itu nenek mereka dan lebih menganggap. Memang ibu bukan nenek mereka apa? Tidak sopan," Ucap Maryati.


"Uhuk… uhuk …," Arman terbatuk.


"Mungkin karena udah lama gak ketemu Bu, mereka kangen," jawab Arman. Bahkan ibu tidak sadar kalau sikapnya lah yang membuat mereka menjauh, batin Arman.


"Oh iya, apa kamu dapat kabar dari Dela? Ibu ingin bertemu," tanya Maryati.


Selalu saja mbak Dela, padahal ibu sudah dibuat sengsara tapi masih memikirkan anak perempuannya yang tak berakhlak itu, batin Arman.


"Belum ada Bu," jawab Arman.


Sebaiknya ibu memang tidak perlu tahu masalah mbak Dela, aku takut ibu nekat membantunya dengan segala cara, batin Arman.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2