Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Mencoba Ikhlas


__ADS_3

Nita berjalan perlahan meski suara ibu mertuanya itu semakin membelikan telinganya. Dia yang sedang mengandung merasa perlu hati-hati dalam melangkah. Hingga akhirnya dia sampai di kamar Maryati.


"Iya Bu, ada apa?" Tanya Nita.


"Kamu lelet banget sih Nit, kalau ibu kenapa-kenapa bagaimana? Dipanggil kok susah banget," keluh Maryati.


"Maaf Bu, Nita memang tidak bisa berjalan cepat karena lagi hamil Bu. Apa ibu mau Nita ambilin makanan?" Tanya Nita.


"Gak, bantu Ibu naik ke kursi roda, ibu mau diam di depan rumah sambil makan cemilan. Bosen Ibu kalau di kamar terus," jawab Maryati.


Bismillah…, mudah-mudahan aku kuat ngangkat badan ibu. Semoga janinku juga tidak apa-apa, batin Nita.


Dengan susah payah Nita membantu ibunya berpindah dari ranjang ke kursi roda. Karena sekarang ranjang Maryati agak tinggi, itu lebih memudahkannya berpindah ke kursi roda.


Kini Nita membantu mendorong ibunya menuju teras, setelah itu dia berlalu pergi ke dapur untuk mengambil biskuit dan membuatkan minuman hangat. Nita lebih bisa sabar menghadapi ibu mertuanya kali ini, dia sudah mendapatkan dukungan dari suaminya. Perubahan suaminya membuat Nita bahagia di setiap harinya.

__ADS_1


Wanita itu bahkan membuatkan minuman sambil bersenandung. Dia ingat kala suaminya membuatkannya teh manis hangat tapi malah malah diberi garam bukan gula. Untung saja yang Arman mencobanya lebih dulu menggunakan sendok, saat suaminya bercerita, Nita merasa terhibur dan tertawa bahagia.


Arman pun tak merasa ditertawakan, itu memang kecerobohannya. Dia senang melihat istrinya bahagia meski tawanya itu karena hal konyol yang dilakukan dirinya. Lelaki itu mulai menyadari jika di dalam rumah tangga itu harus ada kenyamanan, saling kerjasama, mengerti satu sama lain agar rumah terasa seperti surga. Terbukti saat dia bekerja, dia selalu ingin cepat pulang karena merindukan istri dan anak-anaknya di rumah.


Setelah mereka berhasil membeli rumah sederhana, Riki dan Nabila ikut tinggal bersama mereka. Tapi saat mendengar kabar bahwa nenek Maryati akan kembali, mereka memutuskan untuk tinggal dirumah nenek Ani lagi. Orang tua mereka tak melarang karena jarak rumah yang dekat, Nita juga tidak mau memaksakan anak-anaknya yang merasa tidak nyaman dengan keberadaan Maryati.


"Ini Bu biskuit dan air hangatnya, emm… Nita temenin ya Bu?" Ucap Nita.


"Terserah kamu aja, kalau mau ikutan mejeng disini juga boleh," jawab Maryati.


"Masak yang enak-enak ya Nit. Pakai uang kamu saja, Uang ibu mau dipakai beli baju baru sama gelang! Tentu mereka sudah besar, mereka lebih baik dari kedua anakmu yang acuh sama neneknya ini," jawab Maryati.


Wanita itu masih saja selalu memuji cucunya yang lain dari pada anak dari Nita. Tapi kali ini Nita tidak merasa sakit hati, dia sudah terbiasa dan akan memaklumi ibu mertuanya ini, yang terpenting baginya adalah Arman selalu ada untuknya, maka kali ini dia akan berusaha selalu ada untuk ibu mertuanya. Mencoba ikhlas dalam merawat Maryati agar pahala yang didapat, bukan rasa lelah dan sakit hati yang sempat dirasakannya dulu.


"Iya Bu. Uang ibu simpan saja baik-baik, kalau mau beli emas… nanti kalau udah sembuh aja Bu..!" ucap Nita.

__ADS_1


"Hmm, iya. Mana bisa Ibu ke pasar sambil pake kursi roda, malu juga," jawab Maryati ketus.


Tukang sayur pun datang, Maryati mengingatkan Nita agar membeli daging juga. Nita mengangguk dan berlalu untuk membeli sayur mayur beserta daging. Wanita itu berniat membuat porsi lebih banyak, karena sebagian akan dia berikan pada ibu kandungnya.


Siang itu Nita begitu asyik didapur, sesekali ibu mertuanya memanggil meski hanya untuk sekedar diambilkan sesuatu. Nita tak menolak, dia tak mengeluh juga, dia kini akan mencari ridho Allah SWT.


Setelah selesai memasak, Nita izin pada Maryati untuk mengirim makanan untuk Riki dan Nabila sebentar. Memang tak lama, karena Nita tidak mau meninggalkan ibu mertuanya sendirian dirumah, kedua anaknya dan juga Bu Ani pun mengerti.


Nita dengan telaten menyuapi Maryati, meski awalnya wanita itu menolak. Tapi pada akhirnya malah membuka mulutnya dan menerima suapan demi suapan hingga habis.


"Akhirnya habis juga, Alhamdulillah… sekarang minum obatnya ya Bu..!" Ucap Nita.


Maryati tak menjawab, dia menerima obat itu dan meminumnya. Tiba-tiba ada rasa bersalah menyelimuti hatinya, dia merasa Nita terlalu baik. Padahal selama ini perlakuannya sangatlah jahat. Meski begitu, Maryati menolak keras suara hatinya. Dia hanya Nita, anak yang lahir dari rahim Ani yang aku benci, batin Maryati.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2