
Maryati kaget, tapi dengan tatapan sinisnya dia berkata, "jangan pelit, nanti kuburanmu sempit!".
Kinan menghembuskan nafas kasar, dia kehabisan akal menghadapi ibu mertuanya ini. Dia sudah tidak sanggup menghadapi sikap egois dan kekanak-kanakkan Maryati. Kinan memilih pergi dari sana daripada dia nanti merasakan sakit kepala.
Firman mulai mempertimbangkan keinginan sang ibu, dia menghampiri istrinya dan mulai berdiskusi.
"Mas sebenarnya lebih setuju kalau ibu bersama Arman, Mas gak betah dirumah karena kalian selalu saja bertengkar," ucap Firman.
"Tapi ibumu keterlaluan Mas, memangnya aku ATM berjalan apa. 10 juta itu banyak Mas," jawab Kinan.
"Lalu kamu maunya bagaimana?" Tanya Firman.
"Ya kita cukup memberikan uang untuk kebutuhan makan ibu saja Mas, 3 juta sebulan juga cukup," jawab Kinan.
Firman mengangguk pelan, dia akan mendiskusikannya dengan Maryati saat esok hari tiba. Mau bagaimana pun memang keuangan dikendalikan Kinan karena semua usaha memang milik istrinya.
Semoga besok ibu mau diajak pulang dengan uang bulanan yang ditentukan Kinan, batin Firman.
***
Akhirnya Firman menghubungi Arman, dia tidak memberitahu kalau mengembalikan ibunya. Doa hanya bilang kalau ibu sakit dan lebih memilih tinggal disana.
__ADS_1
"Iya, kami gak usah kesini Arman. Nanti akan aku antarkan ibu ke sana. Ibu bilang mau pulang dan diurus sama kamu dan juga Nita, beliau tidak betah dan kurang cocok sama Kinan," ucap Firman.
"Oh begitu ya Mas, gapapa sih… hanya saja Nita sedang mengandung, aku takut dia kelelahan jika harus sekaligus menjaga ibu yang sakit," jawab Arman.
"Bagaimana kalau aku dan Kinan mentransfer uang yang cukup untuk memperkerjakan perawat? Bisa kan?" Tanya Firman.
"Hmm, iya bisa Mas," jawab Arman. Meski dia tahu kalau Maryati sejak dulu tidak mau ada orang lain. Dia hanya mau dirawat oleh Nita yang sabar.
Arman hanya berharap kali ini Nita baik-baik saja, kandungannya sehat dan hubungan dengan ibunya juga membaik.
Benar saja, saat sore tiba, sudah ada mobil Firman datang. Kinan juga ikut, dia akan membantu menjelaskan jika ibunya lah yang meminta pulang.
"Maaf ya Nita. Mbak gak maksud mengembalikan ibu, tapi beliau memang ingin dirawat disini," ucap Kinan.
Kinan menatap Nita dengan tatapan kagum, dia tidak bisa membayangkan selama bertahun-tahun Nita kuat tinggal bersama Maryati. Sementara dirinya yang baru beberapa bulan saja sudah menyerah.
"Iya Nita, Mbak akan membantu sebisanya. Untuk biaya makan ibu, kamu gak usah khawatir..!" Kinan memberikan amplop berisi uang untuk biaya Maryati bulan ini.
"Itu uang untuk ibu kan? Sini uangnya!" Ucap Maryati yang kini duduk di kursi roda.
Kinan pun memberikan uang itu dengan sedikit keraguan, Nita hanya tersenyum. Wanita itu sudah tahu watak ibu mertuanya, jadi sudah tidak aneh lagi dengan tingkah Maryati.
__ADS_1
Kinan yang melihat perut Nita sedikit membuncit, dia pun menanyakan perihal itu dan ternyata Nita sedang hamil 4 bulan. Kinan merasa tidak enak pada adik iparnya itu karena membebankan perawatan ibu mertuanya disaat Nita berbadan dua. Tapi Kinan juga tidak punya pilihan, dia berniat memberikan uang lebih untuk Nita.
***
Pagi-pagi sekali Arman sudah mendatangkan wanita berusia 45 tahunan untuk merawat sang ibu. Nita yang belum mengambil cuti, dia masih beraktivitas mengajar di sekolah hingga tidak mungkin jika harus sekaligus merawat ibunya.
"Bu, ini mbak Desi. Selama Arman dan Nita tidak dirumah, maka mbak Desi lah yang akan menjaga ibu," ucap Arman.
"Ibu gak mau Man, ibu mau diurus kalian saja," jawab Maryati.
"Belum bisa Bu, Nita juga sedang mengandung. Kasihan kalau sampai kecapekan. Arman takut kandungannya kenapa-kenapa Bu," ucap Arman.
"Ibu gak mau ya uang dari Kinan habis untuk membayar dia. Ibu butuh uang itu." Maryati menggenggam tasnya lebih erat. Uang itu ternyata disimpan di sana dan selalu ada didekatnya.
Nita yang belum berangkat bekerja, dia pun ikut mendengar apa yang memberatkan ibu mertuanya.
"Yaudah Bu, uang itu ibu simpan saja. Ibu gak usah mempermasalahkan uang untuk membayar gaji perawat," ucap Nita.
Arman yang keberatan mengingat kedua anaknya meski tinggal bersama neneknya, tetap saja untuk keperluan sekolah masih dibiayai oleh mereka. Arman merasa tidak sanggup jika harus mengeluarkan uang untuk perawat, apalagi dia harus menabung untuk biaya persalinan nanti.
Arman mengajak Nita menuju kamarnya. "Ada apa Mas?" Tanya Nita.
__ADS_1
Bersambung …