
"Mas Firman, darimana Mas tahu kalau aku dan ibu tinggal disini?" Tanya Arman.
"Nanti saja ceritanya, aku lelah karena perjalanan jauh. Setidaknya berilah kakakmu ini minum dulu!" Ucap Firman.
"Eh iya, masuk dulu Mas..!" Ucap Arman.
Firman pun duduk menunggu adiknya mengambilkan minum. Selama Arman di dapur ternyata Bu Maryati berteriak.
"Man…"
Firman pun bergegas mengecek keadaan ibunya, terlihat Maryati sedang memegangi perutnya yang sakit.
"Ibu sakit, sakit apa Bu?" Tanya Firman. Dia kaget karena memang tidak tahu apapun, dia datang dengan alamat yang diberikan Romi dan tidak menerima kabar kalau ibunya sedang sakit.
"Firman, kamu akhirnya datang juga menjenguk ibumu ini. Mana Kinan?" Tanya Maryati.
Seketika wajah lelaki itu berubah, ada rasa kecewa yang dirasakannya. Ibunya itu lebih menganggap keberadaan istrinya, padahal dialah anak kandungnya.
"Kinan gak ikut Bu, katanya toko gak ada yang jaga," jawab Firman.
"Karyawannya kan banyak, ibu kangen tau sama Kinan, apalagi Hana dan Dina," ucap Maryati.
Firman pun mulai menjelaskan jika istrinya itu sangat hati-hati. Lebih suka mengerjakan apapun sendiri, tidak mudah mempercayai karyawannya. Anak-anak Firman pun tidak bisa ikut karena tidak mau bolos sekolah.
Selalu begitu, ibunya ini memang tidak menganggap Firman orang yang penting. Sekian lama Firman mencoba menjauh tak pernah pulang ke kota asalnya, tapi kini dia sadar kalau Maryati tetaplah ibunya. Dia tidak mau menjadi anak durhaka, meski dia tahu kalau bertemu ibunya pasti hatinya akan terluka. Lidah memang tak bertulang, tapi mampu menusuk hati.
"Oh, padahal ibu lebih senang kalau Kinan yang datang dan kamu jagain tokonya aja. Kalau dia yang datang pasti dia bawa banyak oleh-oleh, dan membawa banyak uang juga," keluh Maryati. Tentu perkataan itu sangat menyakiti hati Firman, istrinya adalah pengusaha sukses makanya ibunya menjodohkannya dulu. Lelaki itu menyesal karena menerima perjodohan itu, karena hidupnya seakan di setir istri, seakan kepala rumah tangganya adalah Kinan.
__ADS_1
Pernah dia mencoba mencari kerja, tapi Kinan melarang dan beralasan jika Firman cukup menjaga satu tokonya saja dan memantaunya.
Ibu berpikir hidup ku enak karena banyak uang, tapi itu uang Kinan. Itu usaha Kinan, aku tidak bebas memakai uangnya dan aku merasa tidak punya harga diri dihadapannya. Dulu ibu selalu berkata kalau perjodohan ini demi kebaikanku dan demi masa depanku agar tidak kesusahan masalah uang. Justru aku sekarang iri pada Arman yang memilih jalannya sendiri, batin Firman.
"Lain kali Kinan pasti kesini Bu kalau sudah tidak sibuk. Aku terburu-buru kesini karena merindukan ibu, aku sampai lupa membeli oleh-oleh. Kalau begitu ibu mau makan apa, aku beliin?" Ucap Firman.
"Hmm… kamu itu gak penegertian sekali. Datang jauh-jauh tapi kesini dengan tangan kosong. Ibu mau pisang aja biar diare ibu sembuh," jawab Maryati.
"Iya Bu, Firman pergi sekarang," jawab Firman berlalu pergi dari kamar ibunya. Padahal tadi ibunya itu meringis kesakitan tapi sempat-sempatnya mengomeli Firman panjang lebar.
Tiba-tiba Arman datang dari arah dapur dengan air teh manis hangat di tangannya, sengaja dia membuat yang hangat karena hari memang sudah gelap dan merasa kalau kakaknya pasti kedinginan diperjalanan, "mau kemana Mas?"
"Mau keluar cari pisang, katanya ibu mau dibelikan itu," jawab Firman.
"Baru juga dateng Mas, istirahat dulu aja! Aku aja yang beli," ucap Arman.
"Lagi di rumah orang tuanya. Yaudah jagain ibu bentar, aku kedepan dulu..!" Ucap Arman berlalu pergi.
***
Kini Maryati sedang berada di rumah sakit. Semalam Arman dan Firman panik dan segera membawa ibunya kesana. Maryati terkulai lemas dengan jarum infus di tangannya, karena diare membuatnya kehilangan banyak cairan tubuh.
"Man, ibu mau pulang aja. Disini bau obat-obatan gitu Man gak enak," keluh Maryati.
"Nanti Bu kalau dokter mengizinkan pulang. Badan ibu aja masih lemes," jawab Arman.
Akhirnya Maryati menyerah, tapi dia meminta dipindahkan ke kamar VIP. Tapi Arman dengan tegas menolak, membuat Maryati mengomel seharian.
__ADS_1
Karena kehadiran Firman, membuat Arman bisa bekerja seperti biasanya. Arman juga menyempatkan datang menjenguk Nita dipagi hari sebelum bernagkat kerja dan ternyata sudah membaik.
Telepon Firman pun berbunyi, "iya Mah, ada apa?" Tanyanya.
"Kapan pulang? Anak-anak nanyain terus Pah," protes Kinan.
"Iya Mah nanti. Ibu sakit dan aku harus jagain beliau di rumah sakit," jawab Firman.
"Kan ada Arman yang ngurusin. Pokoknya kamu cepetan pulang!" Ucap Kinan.
Tut
Panggilan itu terputus sebelum Firman menjelaskan semuanya, lelaki itu sebenarnya sudah muak dengan rumah tangga yang seperti itu. Dia juga ingin dihormati, dihargai sebagai suami, karena dia tidak punya harta dan istrinya lah yang memang keturunan orang kaya memebuat rumah tangga mereka seakan tidak sehat dan tidak seharmonis keluarga yang lainnya. Bahkan Firman merasa ruamh tangganya tidak normal.
"Kinan mau kesini?" Tanya Maryati dengan sorot mata berbinar.
"Gak Bu, dia nyuruh aku pulang," jawab Firman.
"Yaudah kamu pulang aja. Kamu telpon aja Arman suruh Nita jagain ibu! Ibu gak mau ya kalau Kinan sampai marah sama kamu dan pernikahan kalian terancam berakhir," ucap Maryati.
"Nita kan lagi sakit Bu, masa jagain ibu," ucap Firman.
"Gapapa, dia udah biasa kok. Namanya juga orang miskin, ya harus mau lah tenaganya dimanfaatin. Kalau Kinan cukup transfer ibu uang yang banyak, jangan lupakan itu!" Ucap Maryati.
Tanpa mereka tahu, ada seseorang yang sedari tadi berada dibalik pintu yang sedikit terbuka. Seseorang yang terluka mendengar omongan wanita tua yang sedang berbaring diatas ranjang itu.
Bersambung…
__ADS_1