Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Apakah Memang Dela?


__ADS_3

"Man, ibu mau ketemu Dela, kasihan dia sendirian. Ibu yakin dia gak salah," ucap Maryati sambil menangis.


"Bu tenang dulu..! Itu kan di luar kota. Perlu waktu dan uang juga untuk pergi kesana, belum lagi kondisi ibu seperti ini. Biar mas Romi atau mas Firman yang mengurus mbak Dela, nanti aku hubungi mereka. Ibu tenang dulu jangan sampai ibu jatuh sakit..!" Jawab Arman.


Nita duduk sambil mendengarkan apa yang diucapkan suaminya itu. Meski tidak mengerti duduk permasalahannya seperti apa, setidaknya Nita mengerti jika saat ini ibu mertuanya mengkhawatirkan kakak iparnya yang sedang terkena masalah.


Setelah lebih tenang, Arman meninggalkan ibunya. Lelaki itu memilih kembali ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya diranjang. Dia butuh ketenangan, dia perlu memikirkan masalah ini, walau bagaimanapun Dela tetaplah kakaknya meski telah mencurangi Arman dan membuatnya kini hidup di sebuah kontrakan.


Nita datang dan duduk ditepi ranjang. "Mas, ada masalah apa?" Tanya Nita penasaran.


"Mbak Dela terkena kasus perselingkuhan. Tadi sempat viral kalau ada istri sah yang memergoki suaminya berselingkuh dan melaporkannya ke polisi. Ibu begitu mengenali mbak Dela, meski menurut Mas kalau tadi itu kurang jelas Dek," jawab Arman.


"Sebaiknya pastikan dulu Mas, siapa tahu memang bukan mbak Dela..!" Ucap Nita.


"Memastikannya bagaimana? Nomor ponsel mbak Dela kan diganti. Mencari informasi di internet pun paling beberapa hari kedepan baru ada informasi data wanita yang ditangkap tadi," jawab Arman.

__ADS_1


"Ya gapapa Mas, kita menunggu aja dulu dan berpikir positif. Meski mbak Dela pernah berbuat curang pada kita, tapi aku berharap itu bukan mbak Dela Mas. Rasanya pasti terluka jika mereka sekeluarga mempunyai status dan nasib yang sama (tahanan)." Dela pun bangkit dari tempat duduknya.


***


Keesokan harinya, Nita diundang sarapan di rumah ibu kandungnya karena bu Ani ingin makan bersama. Dia merindukan Nita, anak sulungnya yang kini tinggal tak jauh dari rumahnya, tapi tetap saja tidak bisa sesuka hati datang menemuinya karena lelah bekerja dan mengurus rumah. Bu Ani sangat memaklumi itu, hari ini pun ada seseorang yang memang ingin dipertemukan di pertemuan keluarga untuk mengenal keluarga ilbu Ani.


"Gak masak lagi? Istrimu itu kok malesnya minta ampun sih Man," keluh Maryati.


"Nita gak masak karena pagi ini kita diundang sarapan di rumah ibunya Nita, Bu Ani...," jawab Arman.


"Dalam rangka apa? Karena dia merasa lebih kaya dari ibu sekarang?" Tanya Maryati.


"Terus aja bela, ibu merasa jika kamu memang anak dia bukan anak ibu," ucap Maryati tak terima.


Arman menghembuskan nafas berat, dia bingung menghadapi sikap ibunya yang semakin menjadi-jadi ini. Biarlah ibu beini, daripada sedih dan mengurung diri dikamar karena memikirkan mbak Dela, batin Arman.

__ADS_1


Meski protes, tetap saja Maryati ikut ke rumah Bu Ani. Maryati yakin jika Ani akan menjamu dirinya dengan makanan enak. Pasti dia memasak makanan spesial untuk menyambutku, batin Maryati.


Dan ternyata benar, hari ini terasa spesial karena begitu banyak makanan seperti ada perayaan dan entah acara apa. Maryati sedikit bingung, tapi dia begitu bersemangat melihat banyaknya makanan enak. Lidah Maryati merindukan makanan mahal dan enak.


Terlihat Nabila dan Riki pun memakai baju yang senada. Mereka tersenyum dan memeluk tubuh Ani, itu sungguh melukai hati Maryati yang tak pernah diperlakukan lembut seperti itu oleh kedua cucunya.


Mereka memang cucu yang durhaka, batin Maryati tak terima. padahal semua kembali pada perlakuan Maryati selama ini, dirinyalah yang tak mengakui keberadaan mereka lebih dulu.


Kebetulan hari ini adalah hari libur sehingga semua orang bisa menikmati sarapan pagi tanpa terburu-buru.


"Bu, ada acara apa ini? Kok terasa berbeda," tanya Nita.


"Ini adalah hari spesial Liana," jawab Bu Ani.


"Apakah hari ini ulang tahun Liana? Sepertinya bukan Bu," tanya Nita sambil mencoba mengingat-ngingat.

__ADS_1


Tangan dan mulut Maryati fokus pada makanannya sementara telinganya begitu fokus mendengarkan percakapan mereka karena rasa penasarannya.


Bersambung ….


__ADS_2