Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Makan Di Warteg


__ADS_3

Firman berlari menuju kamar ibunya, dia terkejut melihat kamar yang begitu berantakan penuh dengan sampah. Ibunya mengeluh gatal dan kini sudah berdiri sambil menggaruk tangannya.


"Kok kamar ibu bisa banyak sampahnya sih?" Tanya Firman.


"Ibu juga gak tahu, tapi ibu yakin kalau ini ulah Kinan. Dia tadi siang marah karena ibu memetik bunga-bunganya. Padahal kan cuma tanaman tapi kenapa dia semarah ini dan sama sekali tidak menghormati ibu, hiks…," jawab Maryati sambil menangis.


Kinan pun datang, dia masuk dan pura-pura terkejut dengan keadaan kamar ibu mertuanya. "Astaga, ini kok bisa berantakan begini sih? Ibu suka sekali ya sama bunga-bunga aku. Setelah kemarin kelopak bunganya dicabuti, eh ternyata sampai dibawa ke kamar karena terlalu menyukai bunga ditaman belakang, lain kali bilang aja Bu kalau ibu mau mandi kembang atau tidur sama kembang, fftt…," ucap Kinan sambil menahan tawanya.


"Lihat tuh, istri kamu malah menertawakan ibu, dia puas karena telah berhasil ngerjain ibu sampai gatal-gatal. Menantu tidak tahu sopan santun," ucap Maryati pada anak lelakinya.


Firman menatap ibu dan istrinya bergantian. Dia mencari kebenaran di mata mereka, Firman benar-benar tidak tahu siapa yang berbohong. Tapi yang jelas, dia tahu kalau dua wanita itu memang tidak akur.


"Mas kamu tahu kan kalau taman belakang itu tempat kesayangan aku. Bunga-bunga disana juga aku yang rawat dan harganya mahal-mahal. Masa ibumu malah menghancurkannya, memangnya dia sanggup mengganti semuanya? Atau mau kamu aja yang memperbaiki tamanku seperti semula?" Tanya Kinan.


Jelas Firman kaget, dia sangat paham betul sejarah taman itu. Harga bunganya apalagi, dia selalu ikut mengantar istrinya untuk memilih tanaman yang bagus dan mahal tentunya. Lelaki itu mana sanggup mengganti semuanya, apalagi kelopak bunga yang berhamburan sangat banyak.


Kepalaku pusing, mana bisa aku menggantinya? Lagian ibu ada-ada aja. Udah mecahin vas bunga, ngambil uang tanpa izin, taman dirusak dan belum ulahnya yang lain. Aku tidak tahan, besok akan aku bicarakan pada ibu dan membujuknya pulang ke rumah Arman, batin Firman.


"Iya tahu sayang. Tapi kamu gak bisa memperlakukan ibu seperti ini, dia itu ibuku, seharusnya kamu bisa menasehati ibu pelan-pelan..! Mungkin beliau tidak tahu kalau taman itu begitu penting untuk kamu sayang," jawab Firman.

__ADS_1


Kinan tidak terima karena suaminya malah lebih membela ibunya, dia dengan lantang menyuruh Firman mengganti semua kerusakan itu. Kinan pergi kembali ke kamarnya, meninggalkan suaminya yang masih diam karena syok.


20 juta? Yang benar saja, apa Kinan benar-benar meminta ganti rugi pada suaminya? Batin Firman.


Maryati terus mengeluh gatal, Firman menyuruh Tikah membersihkan kamar ibunya. Tapi dia menolak karena Bu Kinan melarangnya. Akhirnya dia membiarkan kamar itu berantakan dan lebih memilih membawa ibunya ke klinik.


***


Selama di klinik, Maryati mengeluh sakit dan gatal. Terkesan lebay, karena menurut Firman itu hanya gatal karena ulat saja. Lelaki itu menyuruh ibunya untuk sabar sebentar karena setelah diobati pasti ibunya akan baik-baik saja.


"Istrimu itu keterlaluan Man, kamu kuasai aja hartanya lalu ceraikan saja dia!" Ucap Maryati kesal.


"Cinta? Yang bikin kamu bertahan hidup itu uang. Kamu ambil uangnya aja!" Ucap Maryati.


Firman tak menjawab, dia memilih diam dan memainkan ponsel pintar miliknya. Dia tau, kalau ibunya tidak akan berhenti bicara sebelum puas. Serba salah memang, dulu Kinan dijodohkan dengannya atas pilihan ibunya, tapi sekarang ibunya malah membenci apa yang dipilihkan ya dulu.


Setelah sampai di rumah, keadaan rumah begitu sepi. Kinan, Hana dan Dina pun sudah pergi dengan kesibukan mereka pagi ini. Maryati duduk dan mulai sarapan karena dia harus meminum obat.


Tapi Tikah langsung merapikan semua makanan yang ada di meja makan. Asisten rumah tangga itu seakan tidak melihat Maryati yang sedang duduk bahkan sudah siap dengan piring dan nasi putihnya.

__ADS_1


"Loh, lauknya mau dikemanain?" Tanya Maryati.


"Saya hanya menuruti perintah ibu Kinan. Ibu Maryati harus membayar kerusakan taman dulu, baru bisa makan, begitu…," jawab Tikah.


"Arghhh…," teriak Maryati. Dia menggebrak meja meski pada akhirnya tangannya yang sakit.


Ingin rasanya dia mengeluh atas sikap menantunya yang keterlaluan, tapi Firman yang buru-buru, dia tidak sempat mendengarkannya. Maryati yang lapar, dia pun memilih makan di warteg yang ada di sekitar jalan depan, dia beruntung karena masih memegang uang sisa belanja baju kemarin.


Karena ponselnya yang canggih, dia lebih suka melihat barang-barang di toko online. Kemudian memesannya tanpa tahu apakah anak lelakinya itu sanggup membayar atau tidak. Wanita itu senang karena disini kebalikan dari kehidupannya yang dulu saat bersama Arman dan Nita.


"Loh, ini kan mertuanya Bu Kinan ya? Kok makan ditempat begini sih Bu? Apa ekonomi menantunya sedang turun drastis ya?" Tanya ibu Ira (Bu RT).


"Iya Bu. Mau bagaimana lagi, karena Kinan tidak mau makan bersama saya. Saya jadi cari makanan sendiri," jawab Maryati.


"Keterlaluan sekali sih menantu ibu itu, saya kira dia orangnya baik hati loh, eh ternyata," ucap Bu Ira.


Maryati tersenyum senang karena berhasil melawan Kinan, tanpa dia tahu kalau di belakangnya itu ada seseorang yang mengamatinya sedari tadi. Memotret bahkan merekam video secara diam-diam.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2