
"Aduh sampai jatuh segala, tolongin gak ya? Tapi kok aku tidak merasa kasihan ya, orang kaya gitu mah harus dibikin sadar. Kalau di biarin ntar ngelunjak, semena-mena sama orang, biarin aja lah," gumam Titin. Dia kemudian kembali ke rumah majikannya, membiarkan drama jatuh itu diselesaikan oleh orang lain.
Titin bernyanyi sepanjang perjalanan, wajahnya terlihat ceria.
"Kenapa Bi, senyum-senyum kaya yang kasmaran aja," goda Liana.
"Hehe, gak Neng. Kan Neng Liana yang kasmaran, yang mau tunangan, kalau Bibi sih anak aja udah perawan," goda Titin lagi.
"Hmm…, balik godain aku nih? Jangan lupa ya Bi undangannya sebar semua, jangan sampai ada yang terlewat. Aku tidak enak kalau nanti ada yang mengeluh tak diundang apalagi mengira aku sengaja melakukannya, sama sekalian biar semua orang berhenti menganggapku yang tidak-tidak setelah melihat mas Daffa nanti," ucap Liana.
"Siap Neng, Bibi juga udah bikin si penyebar gosip tadi kapok Neng, hehe…," jawab Titin.
"Masa sih Bi? Memangnya siapa yang menyebarkan Fitnah itu? Perasaan aku gak pernah punya masalah dengan tetangga sini, gak ngerasa punya musuh gitu," tanya Liana.
"Ada deh Neng, pokoknya seru deh, Neng terima beres aja. hehe…," jawab Titin.
"Ish Bibi ada-ada aja, jangan keterlaluan Bi ngerjainnya..!" Ucap Liana.
"Bibi gak ngerjain Neng, cuma mengingatkan sebagai sesama manusia. Agar yang jahat bisa bertaubat," jawab Titin dengan santai.
Liana menggelengkan kepalanya kemudian berlalu pergi menuju ruang keluarga, disana Nabila dan Riki sudah pulang dan sedang bersantai menonton televisi.
__ADS_1
"Bil, kakak ke depan dulu ya, siapa tahu ada tukang bakso lewat," ucap Riki.
"Iya Kak, kalau ada aku juga mau satu mangkok," jawab Nabila.
"Iya siap Dek, nanti kakak pesen tiga mangkok sama buat Tante Liana, hehe ..." ucap Riki menggoda Liana, kemudian berlalu pergi secepat mungkin karena melihat Liana sudah membulatkan matanya.
"Memangnya aku sudah terlihat tua? bahkan usianya saja cuma selisih satu tahun denganku. dasar," gumam Liana pelan. Sementara Nabila yang mendengarnya, dia hanya tersenyum kecil.
***
Riki melihat sekitar rumahnya, mencoba menengok ke kanan dan kiri tapi tidak ada tukang bakso. Suara khas sendok yang diadukan dengan mangkuk pun tak terdengar sama sekali di telinganya. Hanya ada kerumunan ibu-ibu dan terdengar banyak suara yang mengatakan untuk segera mengangkat seseorang.
"Kita bawa masuk ke dalam yuk..! Kasihan kan," ucap Bu Nina.
"Yaudah sama kamu, kamu kan badannya besar!" Ucap Bu Wina.
"Yaelah, badan aku tuh emang besar dan pasti berat. Bawa badan sendiri aja susah, apalagi bawa badan orang," protes Bu Nina.
"Aduh sakit, kalian kok malah ribut. Bukannya ditolong!" Keluh Maryati.
"Iya Bu sabar Napa, emang gak bisa bangun sendiri?" Ucap Bu Nina yang kesal. Bagaimana tidak kesal jika orang yang dikasihani malah berbicara kasar seperti itu.
__ADS_1
"Tinggalin aja lah ibu-ibu. Nyebelin kan, biarin aja!" Ucap Bu Nina pelan, tapi ternyata masih terdengar oleh Maryati.
"Eh, eh awas ya kalian kalau gak bantuin saya. Saya akan melaporkan kalian atas tindakan tidak menyenangkan. Saya akan lapor sama pak RT," ancam Maryati.
"Lah, kan ibu jatuh sendiri," jawab Bu Nina.
Riki yang penasaran dia memecah kerumunan, hingga dia bisa melihat neneknya yang terjatuh ditanah.
"Nenek kenapa? Ayo Riki bantu masuk ke dalam, maaf bisakah ibu membantu saya membawa nenek ke dalam rumah?" Tanya Riki pada Bu Wina.
Bu Wina mengangguk pelan dengan wajah yang masih tak percaya. Masalahnya yang mereka tahu kalau Riki adalah cucu dari Bu Ani yang terkenal dengan warga baru kaya dan dermawan di kampung ini, tapi kenapa sekarang anak lelaki itu berkata kalau Maryati adalah neneknya. Itu menimbulkan banyak pertanyaan di benak ibu-ibu itu.
Bu Wina dan Riki membantu memapah Maryati yang mengeluh kesakitan. Kakinya seperti cedera, sepertinya terkilir, membuat Riki harus memanggil tukang pijat yang berada di ujung kampung.
Meski Maryati selama ini jahat pada Riki, tapi anak lelaki itu merasa tak tega melihat neneknya yang kulitnya bahkan sudah keriput jatuh terluka dan tak bisa bangun.
Saat Riki kembali dengan membawa Bu Zizah yang biasa memijat orang. Riki masuk terlebih dahulu, tapi betapa terkejutnya anak itu, saat mendengar suara keras Maryati didalam kamar yang sedang membentak seseorang.
Riki merasa tak terima dengan ini semua, dia melangkah menuju kamar itu dengan wajah yang kesal.
Bersambung …
__ADS_1