Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Menabur Bunga


__ADS_3

Kinan menyuruh asisten rumah tangganya untuk membersihkan bunga yang berserakan dan memasukkannya kedalam kantong plastik hitam. Lalu dia mengambilnya, bukan untuk dibuang ketempat sampah, tadi dia akan membuangnya ke tempat yang seharusnya.


Saat makan malam, Kinan terlihat senang. Membuat Maryati heran karena dalam sekejap menantunya itu bisa merubah suasana hatinya. Tapi disisi lain Maryati bersyukur karena Kinan tidak mempermasalahkan lagi tentang bunganya.


"Mah, kamu kelihatannya senang banget, ada apa sih?" Tanya Firman.


"Masa sih Pah? Biasa aja kok," jawab Kinan.


"Toko lagi rame ya?" Tanya Maryati.


"Hmm… biasanga juga rame kok Bu. Makanya anak, menantu, dan cucu ibu bisa menikmati makanan enak dan hidup layak. Ibu harusnya tahu diri dan jangan menghamburkan uang, karena dengan ibu tinggal disini juga sudah enak loh bu," jawab Kinan.


"Mah…," panggil Firman. Lelaki itu mencoba mengingatkan istrinya agar lebih bersikap sopan pada ibunya.


"Hmm… iya. Aku menjawab apa adanya kok," jawab Kinan.


"Gapapa lah, ibu juga harus menikmatinya. Kamu seharusnya membahagiakan ibu mertuamu biar hidupmu makin berkah dan maju!" Jawab Maryati tak mau kalah.


"Hmm, lihat-lihat dulu lah ibu mertua yang bagaimana," ucap Kinan.


"Maksud kamu apa Kinan?" Tanya Maryati marah.

__ADS_1


"Tuh kan marah, membahagiakan ibu yang Solehah baru bisa berkah," jawab Kinan. Dia tak peduli dengan umpatan Maryati, dia memilih menyudahi acara makannya.


Hana dan Dina pun menyudahi acara makan malamnya tanpa mengeluarkan satu kata pun. Mereka merasa tidak nyaman dengan kehadiran neneknya yang membuat suasana rumah terasa berisik.


Sementara Firman menghembuskan nafas perlahan, mencoba sabar dengan tingkah dua wanita yang sama-sama membuatnya pusing.


"Bu, maafkan Kinan ya? Ibu jangan ambil hati. Kinana memang begitu sedikit cerewet, tapi dia baik kok Bu. Dan untuk ibu, ibu juga jangan marah-marah terus, takut darah tingginya kumat," ucap Firman.


"Belain aja istrimu itu. Apa karena dia kaya makanya kamu nagalh terus? Harusnya nasehati dia biar bisa sopan sama ibu!" Ucap Maryati kemudian berlalu pergi.


Firman menjadi satu-satunya orang yang sering disalahkan meski bukan dia yang salah. Dia ingin memulangkan ibunya karena sudah merasa tidak tahan dengan keadaan rumah yang semakin kacau.


***


"Ternyata gak dikunci Bi," ucap Kinan semakin senang. Dia tidak perlu susah payah mencari kunci mana yang cocok.


Kinan mengangguk, kemudian Bi Tikah mengikuti langkah majikannya dari belakang. Sangat pelan dan hati-hati.


Kinan pun menaburkan kelopak bunga tadi diatas tubuh Maryati yang sedang tidur terlelap. Ditambah dedauan kering juga yang ada ditangan tadi, menaburkannya seperti sedang merayakan sesuatu.


"Bantuin dong bi..!" Ucap Kinan.

__ADS_1


"Takut bangun Non," jawab Tikah.


"Gapapa Bi, majikan bibi kan saya bukan dia," ucap Kinan.


Bi Tikah pun ikut menaburkan bunga dan dedaunan disekeliling tempat tidur Maryati. Tak lupa Kinan mengeluarkan toples yang berisi ulat hijau. Meski tak berbulu, tapi ulat itu bisa membuat badan gatal-gatal.


"Rasain, makanya jangan merusak tanaman orang. Akan aku buat ibu tidak betah tinggal disini dan minta pulang sama mas Firman," gumam Kinan.


Mereka pun pergi meninggalkan kamar itu dalam keadaan gelap. Ya… Kinan sempat mematikan lampu dikamar itu.


***


Sesaat setelah adzan subuh berkumandang. Terdengar teriakan Maryati. Karena Firman sedang sholat membuat lelaki itu lebih dulu menyelesaikan ibadahnya karena ibunya memang terkadang suka berteriak meski itu hal kecil. Dia juga tidak terlalu khawatir karena jam segitu semua pembantu sudah bangun.


"Firman…, Firman…," teriak Maryati.


Kinan yang solat dibelakanh sebagai makmum, dia mencoba khusus dan menghiraukan teriakan ibu mertuanya. Jelas dia tahu alasannya, meski dia ingin tertawa saat itu juga.


Setelah mengucapkan salam, Firman langsung berdiri. "Mah, apa itu suara ibu? Aku cek dulu ya..!" Ucap Firman pada Kinan yang masih membereskan mukenanya.


Kinan mengangguk pelan tanpa rasa khawatir. Wajahnya datar, tapi setelah kepergian suaminya. Dia tertawa lepas di kamarnya sendirian.

__ADS_1


"Pasti sudah gatal-gatal, hahaha… kita lihat, apakah mas Firman lebih membela ibu atau aku," Gumam Kinan.


Bersambung …


__ADS_2