Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Dua Wanita Satu Sifat


__ADS_3

"Hmm, Mas… ibu ikut juga?" Tanya Kinan berbisik di telinga Firman suaminya.


Firman mengangguk pelan, dia sudah melihat kilatan mata istrinya yang tajam. Kini mata Kinan membulat, suaminya sudah merasa tidak enak hati sekarang, memang dia belum sempat memberitahu lebih dulu karena Maryati yang tiba-tiba naik ke mobilnya pagi tadi.


Maryati berhambur memeluk menantunya, sementara Kinan diam tanpa membalas pelukan itu. Tangannya terkulai lemas karena memikirkan kedatangan mertuanya yang tiba-tiba ini. Kinan memang kurang suka dengan sifat Maryati yang boros dan selalu meminta uang seenaknya padanya.


"Hana dan Dina mana? Pasti mereka sudah besar dan cantik, ibu kangen sekali sama mereka," ucap Maryati setelah melepaskan pelukannya.


"Mereka belum pulang sekolah Bu. Biasanya memang pulang sore karena ada les tambahan," jawab Kinan.


"Oh, yaudah ayo masuk Kinan. Rumah kamu semakin bagus saja, pasti sudah banyak direnovasi ya?" Ucap Maryati sambil melangkah masuk mendahului Kinan.


Saat didalam rumah, wanita itu merasa takjub dengan perabotan rumah menantunya itu. Sepertinya aku akan tinggal lebih lama disini, batin Maryati senang. Dia kini duduk di sofa sambil menunggu minuman datang.


"Silahkan Bu diminum dulu..!" Ucap Bi Kokom pembantu Kinan.


"Hmm, ini kurang manis. Coba kamu ganti!" Ucap Maryati ketus.


Bu Kokom hanya menurut saja karena tamu itu adalah tamu penting menurutnya, dia tidak berani menolak ataupun mengucapkan kata lain selain "baik, Bu" , tapi jauh di lubuk hatinya dia sangat kesal dengan perlakuan Maryati yang baru datang tapi tidak menunjukan sopan santunnya.


Maryati berdiri dan mengelilingi ruang tamu itu, mencoba menyentuh semua barang yang terlihat mewah dan berkilau. Banyak vas bunga yang unik juga, sementara Kinan dan Firman ada dikamar untuk membahas sesuatu.


***


"Mas, kamu apa-apaan sih membawa ibu kesini?" Tanya Kinan.


"Aku juga gak tahu sayang, tiba-tiba ibu naik ke mobil begitu saja, masa aku paksa ibu turun lagi?" Jawab Firman.

__ADS_1


"Kamu harusnya bisa menjelaskan pada ibu kalau dia gak bisa ikut begitu saja! Merepotkan saja," ucap Kinan.


"Kamu jangan begitu dong, beliau itu ibu aku. Aku pastikan beliau tidak akan lama menginap disini, untuk masalah yang menyangkut ibu, biar aku yang urus dan kamu gak usah merasa direpotkan. Kamu bisa mengecek toko seperti biasanya..!" Jawab Firman.


"Oke, aku pegang janjimu ya Mas. Pastikan ibu segera pulang!" Ucap Kinan kemudian berlalu pergi.


Firman kini duduk ditepi ranjang, dia merasa menjadi manusia yang tidak berguna dan selalu direndahkan. Istri dan ibunya selalu menganggapnya remeh, Firman selalu mengalah. Dia ingin berdiri diatas kakinya sendiri, mempunyai usaha sendiri. Tapi apa daya, Kinan selalu melarangnya, mungkin wanita itu ingin selalu menjadi pemimpin rumah tangga, mengaturnya sesuka hati, dan akhirya Firman menjadi suami penurut.


***


"Kinan, kamu mau kemana?" Tanya Maryati saat melihat menantunya yang baru keluar dari kamar dan berjalan menuju pintu.


"Eh ibu, aku mau mengecek toko saja di depan, sambil menunggu anak-anak pulang. Biasanya mereka akan datang ke toko dulu," jawab Kinan.


"Ibu ikut ya?" Tanya Maryati.


"Hmm, ibu disini aja sama mas Firman. Takut ibu masih capek setelah perjalanan jauh tadi. Ibu bisa istirahat saja dirumah..!" Jawab Kinan. Dia tidak mau kalau ibu mertuanya ikut dan membuatnya kerepotan.


"Ibu minta disiapkan makanan aja sama Bi Kokom..! Aku berangkat dulu," ucap Kinan berlalu pergi tanpa mencium tangan ibu mertuanya itu padahal Maryati sudah mengulurkan tangannya.


Sepertinya Kinan sedang terburu-buru, batin Maryati. Dia tidak mempermasalahkan sikap Kinan yang kurang menghormati dirinya. Dia berusaha berpikir positif pada Kinan, berbanding terbalik dengan sikapnya pada Nita. Maryati menilai menantunya dari segi harta dan keturunan.


Firman menyuruh bi Kokom menyiapkan makanan yang diinginkan ibunya. Hari itu Maryati begitu lahap menikmati makanan enak, setelah kenyang dia pun berjalan-jalan sebentar untuk melihat suasana belakang rumah.


"Man, kamar ibu yang mana? Ibu ngantuk," keluh Maryati.


"Sebentar ya Bu, aku tanyain dulu sama Kinan," jawab Firman.

__ADS_1


Namun nomor ponsel Kinan ternyata begitu sulit dihubungi, Maryati pun memilih kamar yang dia inginkan. Dia memilih kamar yang cukup besar, itu memang kamar tamu keluarga, sering ditempati ibunya Kinan jika menginap.


"Yang ini aja Man, enak dan luas. Warna cat nya juga tidak terlalu terang," ucap Maryati.


"Emm, gimana kalau cari yang lain aja Bu..! Kamar ini khusus ibunya Kinan kalau datang," jawab Firman.


"Gapapa lah Man, ibu juga ibunya Kinan kok, jadi sama aja," jawab Maryati dan langsung saja merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Firman menghembuskan nafas perlahan, mencoba menenangkan dirinya yang sudah terbayang Kinan yang marah-marah padanya. Ibu selalu keras kepala dan sifat istrinya pun seperti itu, membuat dirinya semakin pusing menghadapi dua wanita dengan watak yang sama.


Tak berselang lama, Kinan pulang bersama kedua anaknya. Mereka yang lelah, langsung pergi ke kamar masing-masing, sementara Kinan mencari keberadaan ibu mertuanya, dia takut kalau sampai Maryati membuat kekacauan di rumahnya.


"Mana ibumu?" Tanya Kinan.


"Hmm, dia juga ibumu sayang," jawab Firman.


"Dia ibumu, bukan ibuku. Jawab aja Mas, mana dia?" Tanya Kinan.


"Ada lagi tidur," jawab Firman singkat, dia melangkahkan kakinya ingin segera menghindari pertanyaan lain dari sang istri.


"Tunggu Mas, aku belum selesai bicara!" Bentak Kinan.


Firman dengan terpaksa dan berat hati membalikkan badannya. Dia menghampiri istrinya dan kini berada tepat di hadapan Kinan. "Kamu mau nanya apa lagi? Aku mau ke dapur dulu, mau bikin kopi," Tanya Arman.


"Dikamar mana ibu tidur?" Tanya Kinan.


"Di-di kamar yang itu, yang deket tangga itu," Jawab Firman sedikit gugup.

__ADS_1


"Mas, itu kan kamar khusus ibuku. Akan aku buat ibumu paham dan tahu posisinya, biar gak seenaknya di rumah orang," ucap Kinan dengan marah, dia berlalu pergi menuju kamar itu dengan disusul Firman dibelakangnya yang mencoba mencegah istrinya, mencoba meredakan amarah Kinan.


Bersambung …


__ADS_2