
Setelah selesai makan, Maryati kembali ke rumah untuk meminum obat gatalnya, dia belum sembuh hanya dengan sekali minum obat. Bahkan bekas garukan di tubuhnya memerah. Maryati berjalan melewati Tikah dengan malas, dia kemudian mengambil air minum dan duduk.
"Meskipun seorang menantu itu kaya, seharusnya bisa menghormati mertuanya. Eh, ini malah dikerjain begini, gak ada sopan-sopannya. Sama persis kaya pembantunya juga, yang so berkuasa," sindir Maryati pada Tikah.
Tikah tak menggapnya sama sekali, dia tahu kalau Maryati tipe wanita yang tak mau kalah. Tikah tidak mau membuang-buang waktunya hanya untuk berdebat, dia memilih mengerjakan pekerjaannya dengan fokus dan menganggap Maryati tidak ada.
"Selain so berkuasa, ternyata kamu tuli juga ya Tikah?" Ucap Maryati. Kini dia bahkan berdiri disamping Tikah.
Tikah tidak menggubrisnya sama sekali, dia kini malah bersenandung sambil mencuci piring. Membuat Maryati memilih pergi karena kesal dengan sikap Tikah yang tak peduli dan tidak terpancing omongannya.
Wanita itu pun berlalu menuju kamarnya, setelah makan dan minum obat, matanya seakan terasa berat. Saat melihat ranjang, dia teringat perbuatan Kinan yang membuatnya tidur bersama sampah-sampah dedaunan dan bunga disana.
Maryati menatap ranjang dengan penuh kekesalan, tapi pada akhirnya dia tidur disana mengingat tempat itu juga sudah bersih sekarang. Firman lah yang membersihkannya kala itu, karena Kinan melarang semua pekerja rumah membantu Maryati.
***
Sore itu suasana rumah cukup ramai karena semua orang sudah pulang termasuk Kinan yang membuat Maryati kesal dari kemarin. Perutnya yang lapar, membuat dia bangun dan bergabung untuk makan. Kinan hanya menatap sinis ke arah ibu mertuanya, dia sedang tidak ingin berdebat dengan Firman, sehingga dia membiarkan ibunya makan.
Maryati tersenyum senang, dia berpikir jika Kinan ternyata takut kehilangan anak lelakinya juga.
"Wah makanannya enak-enak, ibu boleh makan semua ini kan?" Tanya Maryati pada Kinan. Matanya menatap ke arah tuan rumah.
__ADS_1
"Hmm, iya boleh," jawab Kinan singkat. Dia sebenarnya tahu jika mertuanya itu sedang menunjukan kemenangannya. Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka, Kinan mencoba mengalah agar tidak ada keributan.
Maryati pun makan dengan lahapnya. Tak berselang lama Tikah datang dengan membawa kue tart yang lumayan besar, Hana dan Dina juga mengeluarkan kado dari tas mereka.
Maryati hanya memperhatikan dengan bingung, dia mengira jika itu hari ulang tahun Kinan. Tapi saat membaca tulisan yang berada di atas kue tart, dia akhirnya ingat hari penting ini.
Wanita itu melihat sikap Kinan yang berbeda hari ini. Jika biasanya dia akan memperlakukan anak lelakinya seenaknya, tapi hari ini dia begitu lemah lembut dan manja.
Ternyata dia memang begitu mencintai Firman, batin Maryati.
***
"Sendiri? Hmm… disini kan ada Bi Tikah, Lala dan juga mang Ujang, ada juga tukang kebun. Ibu gak usah takut, daripada ibu kecapean dan disana juga panas Bu," jawab Firman.
"Gapapa Man, Ibu bisa pulang juga naik taksi kalau memang gak betah dan lelah," ucap Maryati.
Firman pun pasrah dan mengangguk setuju. Dia sebenarnya khawatir juga kalau ibunya berulah lagi, apalagi Kinan sudah sering mewanti-wanti masalah ini.
Kebetulan hari ini Firman bertugas memantau toko pakaian yang memang hanya baru dua cabang saja. Ibunya semakin senang karena disana berjejer baju baru. "Man, bajunya bagus-bagus ya?"
"Iya Bu, mudah-mudahan banyak yang beli," ucap Firman.
__ADS_1
"Ibu juga suka loh model kaya gini, Ibu ambil dua warna ya?" Ucap Maryati.
Firman memang tidak keberatan jika itu toko miliknya,. Hanya saja, dia malu pada istrinya yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, dia juga sadar diri kalau selama ini dia menumpang hidup.
"Emm, tanya Kinan dulu aja Bu..!" Jawab Arman.
"Kamu kan suaminya, masa apa-apa tanya istri. Gak kebalik tuh?" Ucap Maryati. Firman langsung diam dan tertunduk saat mendengar ucapan yang begitu mengenai hatinya.
Tak hanya itu, Maryati memaksa untuk membawa pulang satu set baju yang sudah dipisahkan pekerja. Baju itu sudah dipesan orang, tapi bukan Maryati namanya jika dia tidak bisa memaksa dan memiliki apa yang diinginkannya.
Bona pun mulai mengirim pesan pada Kinan, dia tidak ingin mendapat masalah karena baju pesanan.
***
Setengah jam berlalu, terlihat Kinan berjalan dari depan toko dengan wajah yang marah. Firman mendadak merasa tidak enak hati melihat kedatangan sang istri.
Brak…
"Aku sudah tidak sanggup ya Mas sama kelakuan ibu kamu. Sampai-sampai Bu RT saja dihasut ibu kamu," ucap Kinan dengan wajah mulai memerah karena emosi.
Bersambung…
__ADS_1