
Nita kini sedang menemani anak perempuannya, mereka yang jarang bertemu membuat Nabila begitu berat melepaskan ibunya.
"Mah, tidur disini aja. Nginep Mah..!" Ucap Nabila.
"Gak bisa sayang, kasihan lah ayah kamu di rumah. Nenek juga kan sudah tua, kasihan kalau apa-apa sendiri," jawab Nita.
"Mamah kok gitu, Mamah udah gak sayang ya sama Nabila? Padahal nenek kan orangnya begitu, biarin aja alh Mah!" Ucap Nabila.
"Nabila gak boleh begitu, disini kan ada nenek, ada kak Riki, ada Tante Liana. Banyak yang nemenin kamu sayang. Nanti kalau malam Minggu baru deh Mamah nginep disini, hehe…," jawab Nita.
"Iya Mah," jawab Nabila pasrah. Di rumah Bu Ani memang tidak terlalu banyak kamar. Terlebih Nita juga tidak enak jika ibunya dan ibu mertuanya tinggal satu rumah karena Nita tahu karakter mereka yang bertolak belakang.
Nita pun pulang setelah berhasil membujuk Nabila, dia juga tidak enak hidup terpisah begini meski jarak rumah dekat. Tapi apalah daya, rumahnya telah hilang digadaikan kakak iparnya. Nita merasa menjadi ibu yang tidak baik karena tidak bisa memberikan tempat tinggal yang layak untuk anak-anaknya sehingga dengan terpaksa mereka harus ikut numpang di rumah Liana.
***
Liana pun tidak keberatan akan hal itu, "gapapa Teh, mereka kan keponakan aku juga. Lagi pula ada hak Teteh di dalam rumah ini, mungkin setelah menikah dengan mas Daffa, dia mau memberikan tempat tinggal untuk Teteh memang hak kita kan? Hanya saja perjanjian itu mengharuskan aku menikahi dia dulu," ucap Liana kala itu.
"Apa kamu cinta sama Daffa?" Tanya Nita penasaran.
"Entahlah Teh, untuk saa ini sih belum. Berharap nanti tumbuh seiring berjalannya waktu, aku berharap dia yang bucin sama aku Teh, hehe…," jawab Liana sambil tersenyum.
"Aamiin, semoga saja. Biar kamu terjamin kebahagiaannya, gak cuma harta aja," jawab Nita.
***
Kini Nita sudah berada didalam kamarnya, melihat sang suami sudah tertidur pulas. Dia yang elleah ingin rasanya langsung memasuki alam mimpi, untung saja makanan yang dibawanya tadi telah dihangatkan terlebih dahulu oleh Titin.
__ADS_1
Baru saja Nita tidur sepuluh menit, terdengar suara ketukan pintu yang mengganggu telinganya. Sementara Arman masih tertidur pulas, lelaki itu telinganya begitu kebal dengan suara saat tertidur.
"Sebentar Bu," ucap Nita.
Ceklek
"Iya, ada apa Bu?" Tanya Nita.
"Kamu keterlaluan, dari tadi ibu nungguin kamu sampai ketiduran. Kamu gak tahu kalau ibu kelaparan disini," protes Maryati.
"Maaf Bu. Nita pikir ada mas Arman disini, jadi ibu bisa minta belikan makanan dulu," jawab Nita.
"Kamu ini, apa kamu nyalahin Arman atau nyalahin Ibu?" Ucap Maryati sambil melotot.
"Gak Bu, bukan begitu maksud Nita. Makanannya ada kok Bu di dapur dan masih hangat," jawab Nita.
"Yaudah kamu ambilin, sekalian teh hangatnya! Emm… temenin ibu juga saat makan, ibu gak mau malam-malam sendirian. Kalau kamu kenyang, kamu temenin aja sambil nonton televisi!" ucap Maryati.
Setelah siap, Nita memilih menonton televisi sambil tiduran. Maryati seeprtinya takut kalau ditinggal sendirian. Nita yang mengantuk mulai tertidur, tapi tak lama dibangunkan lagiboleh ibu mertuanya.
"Nita bangun! Kamu niat gak sih nemenin ibu?" Protes Maryati.
Nita memaksa matanya agar terbuka, "iya Bu, Nita temenin," jawab Nita kemudian duduk. Nita sebenarnya pernah merasa muak, tapi saat dia mendengar jawaban Liana tentang manusia yang bermanfaat bagi sesama. Nita malu dengan cara berpikir adiknya itu, dia harus bersikap lebih sabar dan ikhlas kali ini. Biarlah Tuhan yang membalas setiap perbuatan manusia, dia merasa tidak berhak menghakimi seseorang.
Nita berpikir, jika ini semua adalah takdirnya. ini jalan hidupnya yang harus dilaluinya tentu dengan lapang dada. Pasti ada hikmah dibalik semua ini.
***
__ADS_1
Arman bangun lebih dulu, dia mendapati tempat tidur yang kosong sementara ponsel Nita berbunyi karena istrinya memasang alarm. "Loh, Nita kemana?" Gumam Arman.
Arman pun berniat mencari Nita ke kamar mandi. Tapi saat dia baru saja keluar kamar, dia melihat istrinya itu tidur di sofa tanpa selimut. Membuat Arman segera menghampiri istrinya itu.
"Dek, ini udah subuh. Bangun Dek..! Kamu kok tidur disini?" Tanya Arman.
"Emm, udah subuh Mas?" Tanya Nita sambil mengucek kedua matanya. Dia baru sadar kalau dia ketiduran. Kenapa ibu tidak membangunkan aku? Batin Nita.
"Kamu kenapa tidur disini Dek?" Tanya Arman lagi.
"Aku ketiduran Mas, yaudah kita sholat dulu Mas..!" Ajak Nita, dia berdiri. Tapi malah sempoyongan karena pusing.
"Dek, kamu kenapa? Ya ampun badan kamu panas Dek." Arman tampak panik, dia kemudian memapah istrinya masuk ke dalam kamar.
Nita pun membaringkan tubuhnya diranjang, selimut tebal bahkan tidak bisa membuatnya hangat.
***
Pagi itu Arman mengantar Nita ke klinik. Setelah diperiksa, Nita kelelahan dan masuk angin. "Aku gapapa kan Mas, aku hanya perlu istirahat saja. Kamu gak usah khawatir..! Besok kamu masuk kerja saja Mas, aku gak mau kalau nanti ada masalah dipabrik," ucap Nita.
"Tapi Dek–," ucap Arman yang tidak setuju.
"Gapapa Mas, aku yakin akan baik-baik saja. Aku bisa tinggal dirumah ibu dulu, disana ada Titin yang bisa menjagaku," jawab Nita.
"Sama ibu saja Dek, dikontrakan. Aku gak enak kalau kita sering merepotkan, aku memang gak berguna Dek," ucap Arman.
Nita sebenarnya memang lebih nyaman berada dekat dengan ibunya, dia pasti dirawat dengan baik jika tinggal di rumah Liana. Tapi dia tidak bisa menolak permintaan suaminya, dia tahu kalau Arman malu jika terus merepotkan keluarganya.
__ADS_1
"Iya Mas, aku dikontrakan aja," jawab Nita pelan. Meski sebenarnya aku tidak tahu apakah ibumu akan merawatku saat aku sakit begini? Batin Nita.
Bersambung…