
"Jangan pikir karena Tante lebih tua dari aku, membuat aku takut sama Tante. Aku akan melawan Tante jika Tante tidak bisa menghargai Mamah. Mamah itu banyak berkorban untuk keluarga, juga untuk nenek yang bahkan selama ini sikapnya tidak jauh berbeda dengan Tante," ucap Riki, dia marah bahkan dadanya naik turun.
Arman kaget saat nama ibunya dibawa-bawa. Dia pun ikut berdiri. Ada perasaan tidak terima dalam hatinya, tapi apakah ibu benar-benar masih bersikap seperti itu ketika sakit? Batin Arman.
"Lihat tuh Arman, anakmu benar-benar kurang ajar, ajari mereka yang benar! Percuma saja ibunya seorang guru tapi anaknya begini," ucap Dela.
"Sudah Riki, sebaiknya kamu dan Nabila pergi sekolah. Biar ayah yang bicara sama tantemu ini..!" Ucap Arman.
Riki pun pergi, tak lupa sebelum pergi dia menatap tantenya itu dengan tatapan tajam penuh dendam. Sejak dulu kebahagiaan Nabila pun terenggut oleh anak-anak om dan tantenya, selalu dibanding-bandingkan. Sekarang saat mereka susah, malah numpang dirumah keluarganya. Bagi Riki ini sangat menyebalkan.
Setelah kepergian mereka, Arman meberikan beberapa nasihat. Terutama saat dirinya pergi bekerja, agar Bu Maryati dirawat dengan baik. Dela hanya mengangguk pelan, acuh tak acuh mendengarkan perkataan adiknya itu.
"Iya… Mbak tahu kok. Gak usah kamu ajarin lagi!" Jawab Dela.
"Tahu tapi tidak dilaksanakan. Aku maunya Mbak bertanggung jawab atas ibu selama aku tidak ada dirumah!" Ucap Arman.
"Iya, berisik!" Jawab Dela.
Tak lama suara telepon Dela berbunyi, saat diangkat dia langsung berteriak dan menangis histeris.
"Apa? Jangan bercanda ya!" Ucap Dela.
"Fadli…, hiks…," teriak Dela kemudian menangis. Dia terduduk dilantai saking lemasnya.
"Mbak, ada apa?" Tanya Arman yang khawatir. Meski sempat kesal, tetap saja rasa sayang adik pada kakaknya tak akan hilang.
"Fadli… dia tersandung kasus. Dia ditahan Man, Mbak gak sanggup jika suami dan anak Mbak sama-sama dipenjara, hiks…," jawab Dela.
"Yang sabar mbak, ini ujian. Mbak harus kuat!" Ucap Arman.
Riki yang kembali karena ada yang tertinggal, dia pun tak sengaja mengetahui hal yang dialami tantenya itu. Setelah buku yang dibutuhkannya diambil, dia melewati ayah dan tantenya tanpa simpati.
__ADS_1
"Makanya ajarin anaknya yang bener! Bapak sama anak sama aja," ucap Riki kemudian berjalan cepat.
Arman yang kaget dengan ucapan anak lelakinya itu hanya nggelengkan kepalanya, tapi dibalik ucapan itu. Seakan itu hinaan yang berbalik arah ke Dela. Secepat inikah karma itu? Batin Arman.
Dela malah semakin menangis menjadi-jadi. Karena Arman tidak tega, dia berniat mengantar kakaknya itu untuk menemui Fadli. Tapi setelah mengingat ibunya tidak ada yang menjaga. Akhirnya Arman berniat meberikan uang ongkos pulang pergi untuk Dela menyusul Fadli diluar kota.
"Aku mau ketemu Fadli sekarang Man… hiks…," ucap Dela.
"Mbak pergilah jika itu kemauan Mbak, tapi lebih baik pergi besok pagi saja. Aku juga minta maaf karena gak bisa nemenin. Ada ibu disini, gak ada yang jagain," jawab Arman.
Dila pun memilih pergi besok pagi. Jika dipaksakan hari ini, maka takut terjadi sesuatu pada Dela. Pergi dalam keadaan terguncang tanpa ada yang menemani itu sangat berbahaya.
Dela mengurung diri seharian di kamar, Arman terpaksa tidak masuk kerja lagi. Dia memilih memasak dan merawat ibunya, juga memberi dukungan untuk Dela disaat seperti ini. Arman merasa kerepotan sekali, badan dan pikirannya sama-sama lelah.
"Andai Nita ada disini, aku pasti tidak kerepotan begini," batin Arman.
Arman menelpon istrinya, dia ingin meminta maaf dan menyuruh istrinya pulang. Tapi nomor telepon Nita ternyata tidak aktiv, membuat Arman semakin kacau.
Apa kesalahanku tak termaafkan? Lalu aku harus bagaimana? Batin Arman.
***
"Jangan sama dia, dia kan gak bener kerjanya. Lagipula dia pasti gak mau ngambil kerjaan dari aku," gumam Arman.
Lelaki itupun mencari orang yang bisa menjaga ibunya, dia menuju rumah Bu Nuni. Tetangga Arman yang sehari-harinya menjadi buruh cuci atau membuka jasa setrika.
"Bu Nuni pasti mau, jagain ibu cuma sehari tapi aku kasih upah besar," gumam Arman.
Setelah sampai, Arman berbincang-bincang sebentar. Mengutarakan apa yang ingin disampaikan.
"Kenapa gak sama Rini aja Man?" Tanya Bu Nuni.
__ADS_1
"Saya mau sama ibu aja, lebih berpengalaman," jawab Arman.
"Saya lagi banyak baju yang perlu disetrika nih Man, Rini justru lebih gesit," ucap Bu Nuni.
"Tolonglah Bu, kerjanya juga cuma masak, nemenin ibu. Dan memandikannya saat pagi dan sore hari. Kalau masalah rumah kan ada dua anak saya. Saya kasih uang lumayan deh Bu, gimana?" Tanya Arman sambil menyodorkan uang ratusan ribu beberapa lembar.
"Baiklah Man, saya terima ya. Kebetulan sekali saya juga butuh buat beli tas sekolah anak saya, jadi dari kapan saya jagain ibu kamu?" Tanah Bu Nuni.
"Siang ini Bu. Saya sekarang akan pulang dulu untuk menyiapkan pakaian dan berbicara pada anak-anak," jawab Arman.
"Baiklah, setelah shalat Dzuhur ibu kerumah kamu," jawab Bu Nuni menyetujui pekerjaan itu.
Arman pun merasa lega, dia akan berusaha membuat Nita pulang kembali ke rumah mereka. Arman tidak aka membiarkan istrinya itu pergi terlalu lama. Dua hari tanpa Nita saja sudah membuat dia pusing tujuh keliling.
Bu Maryati ternyata membuat waktu tidur Arman terganggu. Terkadang saat malam suka berteriak dan meminta beberapa hal, Arman hanya tidur dua jam sehari. Tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga, kantung matanya sudah terlihat jelas menghitam.
Sejak itu, dia begitu mengerti arti lelah versi istrinya. Dulu memang Arman selalu meremehkan pekerjaan rumah dan urusan ibunya. Ternyata semua tak sesimpel pikirannya, aplagi saat ibunya menginginkan sesuatu tapi sulit mengungkapkannya, membuat Arman bingung sekaligus kesal. Dia harus ekstra sabar sekali.
***
Saat hari mulai gelap akhirnya Arman tiba di rumah ibu Ani. Dari mata Arman, dia melihat rumah yang sama bentuknya, malah tambah terlihat tua termakan usia. Begitu miris, Arman yakin jika rumah itu pasti mengalami beberapa kebocoran.
Tok
Tok
Tok
Beberapa kali ketukan dan berkali-kali memanggil orang didalam tapi tidak ada yang keluar. "Kok sepi?" Ucap Arman. Lelaki itu baru menyadari kalau rumah itu digembok.
Kemana mereka pergi? Atau mereka sebenarnya sudah tidak tinggal disini? Batin Arman bingung. Dia kini duduk lemas dilantai, bersandar ke pintu yang menjadi saksi bisu penyesalannya.
__ADS_1
"Nita…, kamu dimana?" Gumam Arman.
Bersambung….