
"Maaf Bu, bukannya pertanyaan Ibu itu terdengar tidak sopan juga. Memang ada beberapa pertanyaan yang sifatnya pribadi dan tidak perlu saya menjawabnya bukan?" ucap Daffa pada Maryati.
Bu Nina pun mengangguk, dia juga berpikir jika pertanyaan Bu Maryati terlalu berani. Meskipun Liana masih kerabat dekat, tapi pertanyaan itu memang tidak pantas.
"Benarkah? Padahal Ibu cuma penasaran aja. Ibu hanya belum tahu letak istimewanya Liana, siapa tahu Nak Daffa mau memberitahunya, tapi ibu mau titip pesan supaya Nak Daffa lebih hati-hati dalam memilih pasangan..!" ucap Maryati yang mengelak dan malah mempengaruhi Daffa.
"Iya, terimakasih Bu. Saya lebih berpengalaman soal karakter manusia, saya yang biasa bertemu banyak orang didunia bisnis tentu bisa menilai jika orang itu sungguh baik atau pura-pura baik," jawab Daffa sambil menatap Maryati saat menekankan kata-kata terakhir yang diucapkannya. Berharap wanita yang jauh lebih tua darinya itu sadar kalau Daffa bukanlah orang yang bisa dibodohi.
"Hahaha… Nak Daffa memang terlalu percaya diri ya. Ibu hanya bisa mendoakan supaya Liana memang wanita baik dan bisa menjaga harta Nak Daffa, jangan sampai harta habis karena wanita," ucap Maryati lagi.
Daffa mulai jengah, dia pun berlalu tanpa menjawab sepatah kata pun, dia pamit dengan membungkukkan punggungnya.
"Sudah sombong, gak sopan pula," protes Maryati.
"Sopan kok Bu. Tadi dia pamit sampe membungkukan badannya loh," jawab Nina.
"Ish, kamu memang tidak bisa melihat dengan jelas," ucap Maryati kesal. Nina yang tak mengerti, dia pun tampak bingung, tapi sedetik kemudian dia memilih untuk menikmati makanan disana karena dari tadi dia hanya menjadi pendengar saja dengan perut melilit.
__ADS_1
Karena usia, Maryati merasa mudah lelah. Kakinya kini terasa mulai kram. Dia menghampiri Arman berniat untuk pulang lebih dulu.
"Man, kaki ibu sakit. Ibu pulang duluan ya? Kamu cepet nyusul dan jangan lupa bawa makanan yang banyak untuk dihangatkan besok pagi!" Bisik Maryati ditelinga Arman.
Arman yang tak mau ambil pusing, dia pun mengangguk setuju meski dia malu jika harus meminta makanan pada keluarga istrinya ini. Maryati pulang sambil terus mengomel, dia mengomentari semua barang yang ada disana seolah acara itu sangat tidak layak untuk sebuah pesta. Saat dia sampai di halaman kontrakannya, dia tak sengaja tersandung batu, dia berteriak tapi tak ada yang menolongnya.
Jelas saja, karena semua orang masih ada di pesta itu. Maryati pun harus bersusah payah berdiri dan menyeret kakinya sampai ke dalam rumah. Mencari minyak pijat dan memijatnya sendirian.
Kenapa aku bisa sesial ini, apa salahku? jelas yang salah batu itu, Batin Maryati.
***
"Dek sini..!" Panggil Arman.
"Iya Mas, ada apa? Kalau capek pulang aja Mas, banyak pekerja disini. Aku pulang setelah selesai mendengarkan curhatan anak-anak Mas, kasihan Nabila tadi sudah asyik mengajakku ngobrol," jawab Nita.
"Mas gak capek kok. Gak enak juga kalau gak bantuin. Begini Dek, tadi ibu titip pesan–," ucap Arman memberitahukan semuanya. Arman pun malu, tapi mau bagaimana lagi, Maryati keras kepala dan sering marah-marah kalau tidak diikuti keinginannya. Disisi lain, Arman pun ingin menjadi anak yang berbakti. Jika dia mampu melakukannya maka dia akan mewujudkannya.
__ADS_1
"Iya Mas, nanti aku siapin. Mas pulang duluan aja biar besok gak telat bangunnya..!" Jawab Nita.
Arman mengangguk sambil tersenyum, dia begitu bangga mempunyai istri yang masih bersikap baik pada ibunya meski perlakuan Maryati sering menyakiti hati istrinya.
Nita pun menyuruh Titin menyiapkan makanan untuk dibawa pulang. Nita juga sudah meminta izin sebelumnya pada Liana sebagai orang yang mengadakan pesta.
"Iya Bi, siapin aja semua menu yang ada. Selera orang kan tidak ada yang tahu," ucap Liana pada Titin.
"Siap Neng," jawab Titin.
"Makasih ya Dek," ucap Nita.
"Untuk apa Teh?" Tanya Liana heran.
"Untuk makanannya Dek, sebenarnya yang menyebarkan gosip tentang kamu itu ibu, bu Maryati. Tapi kamu masih bersikap baik," ucap Nita.
"Oh itu, biarin aja lah Teh. Aku sudah tahu kok saat tadi tak sengaja mendengarnya. Tugas kita kan berbuat baik, apa yang kita tanam itu yang kita tuai. Aku cuma ingin menanam kebaikan sepanjang hidupku, aku tidak peduli dengan tanaman orang lain yang terkadang menjadi parasit bagi tanaman kita. Sebaik-baiknya manusia itu kan yang paling bermanfaat bagi sesama, hehe …," jawab Liana.
__ADS_1
Nita tersenyum, dia bangga karena adiknya memiliki sifat seperti itu. Sementara Titin begitu sibuk di dapur, entah apa yang direncanakannya. Dia tersenyum sambil memasukan beberapa menu masakan yang ada ke dalam kotak.
Bersambung …