
Terlihat Maryati mengeluh sakit, dia sepertinya telah menyerah dengan terapi hari ini. "Man, kaki ibu sakit. Ibu mau pulang aja," keluh Maryati.
"Tapi kan jam terapinya belum selesai Bu, Kalau ibu serius mau sembuh… Ibu harus berusaha..!" Ucap Arman.
Nita yang menunggu di luar, dia sedang asyik bertukar pesan dengan kedua anaknya. Hari ini memang hari libur dan biasanya menjadi hari berkumpul untuk sekedar makan bersama, tapi karena ibu mertuanya bersikeras ingin melakukan terapi… maka Nita mengalah.
Terlihat Arman mendorong kursi roda ibu mertuanya, membuat Nita mengerutkan keningnya. Bukannya ini baru jam 10 siang ya? Batin Nita.
"Dek, ayo kita pulang..! Mas udah pesen taksi online juga. Ayo..!" Ajak Arman.
"Memangnya sudah selesai? Kok sebentar?" Tanya Nita.
"Untuk hari pertama sepertinya Ibu butuh penyesuaian. Minggu depan kita kesini lagi," jawab Arman.
Nita mengangguk paham, mereka pun akhirnya pulang. Selama diperjalanan ibunya Arman sudah beberapa kali menghentikan mobil untuk membeli apa yang dilihatnya di pinggir jalan. Arman ingin menolak karena ini sudah yang ketiga kalinya, tapi Nita menahan suaminya. "Gapapa Mas, mumpung ibu lagi berselera makan dan sehat," bisik Nita ditelinga Arman.
***
__ADS_1
Setelah sampai, Maryati langsung membuka semua yang dibelinya di kamar. Membuat Arman berusaha menahan tawanya, "fftt… ibu ini ada-ada aja, lagian aku gak akan minta kok," gumam Arman.
"Hmm, iya Mas lucu aja sih. Tapi namanya juga orang tua Mas, memang katanya sikap dan sifatnya akan kembali ke masa kanak-kanak," jawab Nita.
Nita izin untuk menemui anak-anaknya sekalian datang menjenguk ibunya yang beberapa hari kemarin tidak enak badan. Sementara Arman menunggu dirumah karena tidak mungkin meninggalkan ibunya sendirian. Nita menawarkan agar Maryati dibawa saja berkunjung kerumah Liana, tapi Arman menolak karena dia tidak ingin ada keributan.
Karena keasyikan, Nita baru kembali saat sore hari. Saat tiba di rumah, Maryati langsung menatap sinis pada menantunya itu. Nita yang menyadarinya, dia langsung meminta maaf pada ibu mertua dan juga suaminya yang sedang sibuk didapur.
Meski ibu dan anak, tapi mereka memiliki jawaban yang berbeda.
"Hmm, jangan dibiasakan. Istri itu harusnya di rumah, masak, beres-beres, ini kok malah Arman uang ngerjain. Jangan jadi istri durhaka kamu Nit!" Ucap Maryati saat itu.
***
Malam itu, Maryati yang memang masih duduk di kursi roda. Dia menggerakkan kursi itu menuju dapur karena disana ada Arman dan Nita. Maryati ingin meminta dibuatkan minuman hangat.
Saat dia sampai dengan susah payah, dia tak sengaja mendengar obrolan anak dan menantunya itu.
__ADS_1
"Dek, apa terapi ibu disudahi saja? Toh ibu juga kemarin mengeluh," ucap Arman.
"Sebaiknya gak usah. Bukannya itu kemauan ibu, lagian kemarin kan baru hari pertama, siapa tahu Minggu besok ada kemajuan," jawab Nita.
"Tapi biayanya kan lumayan Dek, kamu juga mau lahiran," ucap Arman.
"Gapapa Mas, pake tabunganku aja, kita harus percaya pasti ada rezekinya nanti. Berprasangka baiklah pada Allah SWT. Yang terpenting sekarang ibu cepat sembuh," jawab Nita.
"Aku gak enak kalau harus memakai tabungan kamu, itu untuk sekolah anak-anak dan biaya lahiran kamu juga. Dan maaf gaji Mas hanya cukup untuk–," ucap Arman.
"Sudah Mas, gapapa… aku ikhlas. Ibumu juga ibuku juga," jawab Nita sambil tersenyum.
Mereka pun melanjutkan membuat adonan kue, Nita memang memiliki hobi baru semenjak hamil dan tidak bekerja. Dia suka sekali membuat berbagai macam kue dengan bermodalkan resep yang dilihatnya di internet. Semakin hari, wanita itu semakin menikmatinya, apalagi disaat kue itu matang dan ternyata enak.
Riki dan Nabila bahkan memuji masakan ibunya itu, membuat Nita berkeinginan membuat toko kue. Tapi semua tidak semudah itu, dia akan memulai dari hal kecil, menjual kue nya ke tetangga terdekat lebih dulu. Menjual kue dengan open PO melalui medsos, kalau sudah banyak yang pesan, batu dia akan membuatnya.
Deg!
__ADS_1
Maryati membelokkan kursi rodanya dan kembali ke kamarnya, dia berusaha mengunci pintu kamarnya.
Bersambung …