
Maryati masih terbaring diatas ranjang pasien, disampingnya ada Firman yang menunggu dengan setia. Diluar ada Kinan dan kedua anaknya, mereka datang untuk melihat keadaan Maryati dan berniat pulang.
"Mas, aku pulang duluan ya? Nanti malam aku kesini lagi, ada sesuatu hal yang perlu diurus di toko," tanya Kinan.
"Iya gapapa sayang, aku bisa menjaga ibu sendirian," jawab Firman.
Kinan pun berlalu pergi, dengan hanya melihat sekilas pada ibu mertuanya yang sudah sadarkan diri tapi tidak mau berbicara. Maryati sedang bersedih karena kecelakaan di depan rumah membuatnya terkena stroke, kaki dan tangan kirinya sulit untuk digerakkan.
Kecelakaan itu tidaklah menimbulkan luka parah, Maryati hanya terserempet saja. Tapi karena sebelumnya dia pernah mengalami stroke dan tekanan darahnya selalu tinggi. Terjatuhnya saat itu membuat dia tidak bisa melakukan aktivitas seperti sedia kala.
"Man, ibu gak mau seperti ini. Ibu sudah pernah mengalami sakit seperti ini dan itu rasanya tidak enak. Kinan uangnya kan banyak, ibu mau dia membiayai ibu agar bisa sembuh dengan cepat..!" Ucap Maryati.
"Ibu yang sabar ya..! Aku yakin Kinan akan membiayai semuanya Bu, bukankah yang membayar rumah sakit sekarang juga Kinan? Tapi untuk kesembuhan Ibu memang membutuhkan proses Bu…," jawab Firman.
"Ibu tahu, tapi bukankah uang itu segalanya? Ibu yakin ada pengobatan yang mahal yang bisa mengobati ibu dengan cepat," ucap Maryati.
Aku tidak mau jika harus seperti dulu lagi, mau ke kamar mandi aja susah, dimandiin kaya bayi, batin Maryati.
__ADS_1
***
Seminggu berlalu, Maryati kini sudah ada di rumah. Arman juga menelpon Firman dan mengatakan akan datang menjenguk Minggu depan. Kini Maryati dirawat oleh perawat khusus yang dipekerjakan Kinan. Wanita itu tidak mau jika harus mengurus ibu mertuanya sendiri ditengah kesibukannya.
"Maaf Bu, sepertinya saya tidak sanggup menjaga ibu Maryati. Saya lelah jika harus bekerja berulang kali, selalu salah dan dibentak," keluh Wina.
"Aduh Bi, jangan begitu dong. Bagaimana kalau gajinya saya naikan? Saya sudah cocok dengan bibi, saya tidak mau mencari pekerja pengganti lagi," jawab Kinan.
"Maaf Bu, tapi saya tidak bisa. Saya tidak betah Bu," ucap Wina sambil menunduk.
Kinan pun akhirnya melepaskan Wina, pekerja baru yang menurutnya baik dan rajin. Maunya ibu apa sih? sudah diberikan perawat, masih saja berulah. Mau sembuh atau sakit, sikapnya tetap sama-sama menyebalkan, batin Kinan.
Karena Tikah juga mengerjakan pekerjaan rumah, jadi Sisi yang lebih sering menemani Maryati.
***
"Makanlah Nek, buka mulutnya..!" Ucap Sisi.
__ADS_1
Terlihat Maryati enggan membuka mulut, membuat Sisi kesal. "Yaudah kalau gak mau makan, aku akan membawanya ke dapur. Jangan salahkan aku kalau nanti nenek kelaparan..!" Ucap Sisi hendak berlalu pergi.
"Tunggu dulu, simpan saja di sebelahku. Aku akan memakannya sendiri, tangan kananku masih berfungsi dengan baik," ucap Maryati.
"Oke, gitu dong. Nanti biar ibuku yang menggantikan pampers Nenek, kalau aku sih ogah." Sisi pergi dari kamar itu, tak lupa dia menutup pintu itu rapat-rapat.
Maryati tidak suka dirawat oleh Tikah dan Sisi, dia mengeluh pada Firman. Tapi anak lelakinya itu tidak terlalu menanggapi apa yang dikatakan sang ibu, dia tahu kalau ibunya lah yang menjadi sumber masalah. Sudah beberapa kali perawat diganti, dua hari langsung mengundurkan diri.
"Kamu gak mau mengganti perawat buat ibu? Mending ibu dirawat Nita dan Arman lagi kalau begitu," ucap Maryati.
Dia juga tidak menyangka bisa mengatakan itu semua, dia menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Meski Nita merawatnya dengan baik, tapi dia lebih nyaman dengan fasilitas yang diberikan Kinan.
"Kalau Ibu mau pulang, besok Firman akan antarkan ibu. Kinan dan aku bisa mengirim sedikit uang untuk penyembuhan ibu disana," jawab Firman.
Maryati mencoba berpikir, dia mempertimbangkan semuanya. Dia harus mengambil keputusan uang membuatnya untung.
"Besok antarkan Ibu ke rumah Arman, tapi kamu dan Kinan harus memberi uang setiap bulannya 10 juta untuk pengobatan dan biaya makan ibu, bagaimana?" tanya Maryati.
__ADS_1
"Apa, yang benar aja Bu? Memangnya uangku seperti daun yang tinggal metik di pohon. Jangan aneh-aneh lah bu!" ucap Kinan yang baru saja datang ke kamar itu, dia berniat memanggil suaminya, tapi malah mendengar sesuatu yang membuat emosinya naik.
Bersambung …