Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Masalah Baru


__ADS_3

Arman berlari menuju sumber teriakan, dia melihat ibunya meringkuk di sudut tembok kamar. "Itu Man, itu ada kecoa, ada dua lagi. Mana terbang-terbang terus," ucap Maryati sambil menunjuk ke arah gorden. 


Disana terdapat kecoa warna hitam, lelaki itu pun bergegas mencari sapu dan menyingkirkan mereka sampai keluar rumah. Meski ada drama dulu karena kecoa itu beterbangan seperti burung. Saat terbang hewan itu memang membuat Nita dan Arman merinding.


"Ada apa sih Mah, berisik malam-malam?" Tanya Riki.


"Gapapa kok, cuma kecoa aja," jawab Nita.


Setelah drama itu, Maryati mengeluh lapar, sementara Nita memang tidak memasak hari ini karena lelah menempuh perjalanan jauh.


"Gapapa Dek, biar Mas yang beli makanan diluar. Kamu gak usah masak segala, udah malam juga. Kamu yang sabar ya menghadapi ibu..!" Ucap Arman.


Nita mengangguk pelan, dia senang karena Arman kini berpihak padanya dan lebih mengerti posisinya.


Berharap suaminya akan terus seperti itu, tidak berat sebelah dan selalu bekerja sama dengannya untuk meraih kebahagiaan dan kedamaian keluarga.


***


Aktivitas mereka mulai berjalan seperti biasanya pagi ini. Arman dan Nita pergi bekerja sementara kedua anaknya pergi sekolah. Bu Maryati sudah disediakan makanan dan minuman juga, seperti biasa Arman akan memantau sang ibu saat istirahat tiba meski ibunya sudah bisa berjalan.


Arman juga menegaskan kepada ibunya agar bisa memilih, pergi buang air sendiri ke kamar mandi sebelum keinginan buang air itu terasa, agar tidak kebablasan atau terpaksa harus memakai diapers.


"Iya, ibu akan usahakan ke kamar mandi beberapa kali untuk buang air meski tidak ingin, daripada ibu pipis dimana saja. Ibu tidak mau pakai popok seperti bayi," jawaban Bu Maryati kala itu dengan wajah ditekuk.


Arman merasa lega, dia perlu memantau saja selama seminggu ini. Apakah ibunya bisa melakukan itu atau tidak. Setelah kesembuhan Maryati, Arman dan Nita lebih ceria seakan beban berat dipundak mereka hilang.


Saat sore hari ketika Nita ingin memasak nasi, dia kaget melihat isi tempat beras yang tersisa sedikit. Biasanya mereka tidak pernah kekurangan beras, pasalnya ada penghasilan panen padi yang selalu dikirim ke rumah setiap hari.


"Mas, beras habis. Mang Dadang belum mengirim beras bulan ini?" Tanya Nita.

__ADS_1


"Sepertinya belum Dek, Mas coba telepon dulu ya..!" Jawab Arman berlalu pergi. Sementara Nita berlalu melanjutkan memasak nasi yang cukup untuk sekali masak itu.


Saat Nita sedang menumis kangkung, dia dikejutkan oleh suara Arman yang sedikit khawatir. Menghampirinya dengan berlari, dengan ponsel yang masih dipegang dan sekarang malah mondar-mandir tidak jelas.


"Mas, kamu kenapa?" Tanya Nita. Dia mematikan kompor terlebih dahulu. Dia penasaran dengan apa yang terjadi pada suaminya. Sepertinya ini hal yang sangat serius, batin Nita.


Arman duduk, Nita pun ikut duduk dan menanyakan masalah apa yang terjadi. "Kamu kenapa Mas?" Tanya Nita.


"Kata mang Dadang sawah itu sudah tidak digarap lagi, sawah itu sudah dijual dan berganti kepemilikan," jawab Arman.


"Kok bisa Mas?" Tanya Nita tak percaya.


"Sebaiknya kita harus mengeceknya langsung, Mas ingin meluruskan ini semua. Padahal dari sana kita dapat penghasilan tambahan untuk mengurus keperluan ibu, ada beras juga yang menjamin makanan kita setiap hari," jawab Arman.


Merekapun pergi, meninggalkan Maryati bersama dua anak mereka. Karena ibunya sudah sembuh, membuat Arman tak khawatir lagi jika meninggalkan ibunya beberapa saat. Arman juga belum membicarakan masalah ini pada ibunya, dia takut kalau ibunya syok karena itu harta satu-satunya yang tertinggal.


"Saya sudah menunggu kalian sejak tadi, duduklah..!" Ucap Dadang.


"Pak, saya tidak mengerti. Saya tidak merasa menjual ladang sawah itu, apalagi ibu yang hanya berbaring berbulan-bulan karena sakit," ucap Arman.


"Sekitar seminggu yang lalu saya sudah dilarang menggarap sawah itu lagi. Sudah ada yang menggantikan saya, dan Pak Rohim bilang kalau itu sekarang sawah miliknya," jawab Dadang.


"Pak Rohim? Sebaiknya kita harus menemui Pak Rohim dan minta penjelasannya deh Mas," usul Nita.


Arman mengangguk dan mereka pergi dengan berjalan kaki, rumah Pak Rohim memang tidak terlalu jauh. Hamparan sawah begitu memanjakan mata Nita , daerah ini memang masih banyak lahan pertanian dan sebagian penduduk bekerja sebagai buruh tani.


Arman begitu tak sabar, dia kini emosi. Nita berusaha menenangkan suaminya agar tidak terjadi keributan. Bagaimanapun masalah ini harus diselesaikan dengan kepala dingin. 


Lagipula jika tidak ada sertifikat tanahnya, Pak Rohim tidak akan berkutik, batin Nita.

__ADS_1


Pintu rumah pak Rohim pun diketuk Arman, karena tidak kunjung dibuka. Arman malah mengetuk pintu itu semakin keras, bahkan kini Arman berteriak.


"Permisi… keluarlah Pak Rohim!" Teriak Arman.


"Mas! Jangan emosi begitu. Tenanglah, biar aku saja yang bicara pada Pak Rohim jika Mas masih seperti ini!" Ucap Nita.


"Tapi Dek, ini sudah keterlaluan," jawab Arman.


"Mas, siapa tahu disini ada kesalahpahaman. Redakanlah dulu emosimu Mas!" Ucap Nita membujuk suaminya.


Ceklek


Pintu pun terbuka, terlihat seorang lelaki berusia sekitar 50 tahun yang membukakan pintu.


"Ada apa kalian datang kemari? Kalau bertamu tentunya harus sopan!" Ucap lelaki bertubuh besar dengan tato di lengan. Dia juga berjenggot dan rambutnya ikal panjang.


Nita kaget, dia merasa sedikit cemas melihat penampilan Pak Rohim itu. Tapi dia berusaha menyelesaikan masalah ini dengan baik, diakui suaminya memang bersikap kasar saat bertamu.


"Ada apa ini Dang?" Tanya pak Rohim pada Dadang yang memang dia kenali.


"Ini Pak, pemilik tanah yang saya tanami padi. Mereka mengatakan jika tidak pernah menjual tanah mereka," ucap Dadang.


"Maaf Pak atas kelancangan kami, maaf atas ketidaknyamanannya. Saya disini hanya ingin mendapatkan penjelasan saja tentang tanah mertua saya yang tiba-tiba beralih kepemilikan," ucap Nita dengan pelan.


Namun Arman sepertinya sudah tidak sabar, dia malah membuat suasana kacau. "Sudahlah Pak, jawab saja dengan cepat. Saya merasa terdzolimi dengan masalah ini, setidaknya bapak berpikir kalau ada keluarga yang bergantung hidup dari lahan tanah itu. Jangan mengambil hak orang lain begini dong Pak!" ucap Arman dengan lantang.


Wajah Pak Rohim berubah, dia kini menampilkan ekspresi dingin dengan tatapan mengintimidasi. Membuat Nita takut, dia juga khawatir tentang keselamatan suaminya yang ceroboh dan tidak mau mendengar kata-katanya tadi.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2