
"Iya Man, mbak Dela ternyata memang sedang tersandung kasus itu. Masalah uang aku tidak bisa membantunya, kamu tahu sendiri kalau yang punya usaha itu istriku. Tapi jika mbak Dela terus dibela dan dimaklumi setiap perbuatannya, itu juga gak baik. Dia pasti akan melakukan kesalahan-kesalahan lain," jawab Romi.
"Benar juga sih apa yang dikatakan Mas Romi, aku pun berpikiran sama. Jadi apa aku harus memberitahu ibu tentang masalah ini?" Tanya Arman.
"Ya, tapi sebaiknya jangan sekarang. Kamu coba mengulur waktu saja Man..!" Jawab Romi.
"Hmm…, iya Mas, aku akan merahasiakan ini dulu dari ibu kalau diberita kemarin memang mbak Dela ," jawab Arman.
Tak disangka ternyata Maryati mendengarkan percakapan anaknya di telepon. Dia kini merasa dunianya hancur karena anak kesayangannya sedang menderita sementara dirinya tidak bisa melakukan apapun. Tubuhnya ambruk di lantai.
"Dela…, yang kemarin beneran Dela? Hiks…hiks…," Maryati bertanya pada Arman sambil menangis.
Arman yang tak menyangka jika ibunya kini tahu, dia tampak diam dan bingung. Dia menghampiri ibunya dan mencoba menenangkannya.
***
Keesokan harinya Maryati murung, dia diam dikamar seharian. Suasana hatinya memang sedang tidak baik, dia bahkan tidak bisa tidur dan makan dengan benar karena memikirkan Dela.
"Bu, ini sudah hari ke tiga ibu mengurung diri dikamar. Coba ibu keluar dulu, menjemur badan kan enak Bu, hangat." Arman masuk ke dalam kamar dan mencoba mendekati sang ibu.
Maryati menggelengkan kepalanya, dia merasa sudah tidak punya semangat hidup. Dela adalah anak perempuan satu-satunya. Anak yang paling Maryati sayang dan semua limpahan kasih sayangnya memang tercurah untuk Dela.
Maryati begitu menginginkan anak perempuan, maka disaat Dela lahir, dia begitu antusias mendandani Dela. Membelikannya banyak baju bagus dengan berbagai model dan juga boneka. Tidak seperti anak lelaki yang bajunya itu-itu saja.
__ADS_1
Maryati tersenyum kala mengingat kenangan itu, tanpa dia sadari karena sikap pilih kasihnya ada 3 anak lelaki yang hatinya terluka bahkan sampai saat ini.
"Kalau gak mau, gapapa. Ibu makan aja yu, sarapan bareng-bareng sebelum aku berangkat kerja..!" Ajak Arman.
"Nanti aja Man," jawab Maryati.
Arman menyerah, dia meninggalkan ibunya yang masih berselimut tebal, menutup pintu itu dengan rapat. Melangkah pergi dan menghampiri Nita sang istri.
"Bagaimana?" Tanya Nita.
"Susah Dek. Seperti biasanya, kita tinggalkan saja makanan buat ibu," jawab Arman.
***
"Wah, sudah lama sekali tidak melihat ibu. Kemana aja Bu?" Tanya Bu Leha.
"Ada kok. Baru bisa belanja aja, uang anak saya kan dipegang istrinya semua," jawab Maryati dengan nada sedih.
"Masa sih Bu? Harusnya ibu protes aja, bukannya ibu masih tanggung jawab anak lelaki ibu!" Ucap Bu Nina yang mulai terpancing emosi dengan cerita Maryati.
"Gapapa Bu. Saya takut kalau anak saya malah bertengkar dengan menantu saya, yang penting saya masih bisa makan," jawab Maryati.
"Ibu terlalu baik sih sama menantu, kalau saya sih ya kalau ada hak saya, ya minta aja. Mintanya sama anak laki ibu aja!" Ucap Bu Leha.
__ADS_1
Maryati mengangguk kecil, dia menyudahi belanja pagi itu. Dia hanya membeli ayam potong saja, tentu dia akan meminta Nita untuk memasaknya. Arman memang memberikan sebagian uangnya untuk simpanan ibunya karena takut ibunya perlu uang dadakan saat Arman dan Nita tidak ada di kontrakan.
Setelah menyimpan belanjaan, Maryati membuat minuman kemudian duduk di depan kontrakan. Matanya menatap rumah besar dengan perasaan iri. Bisa-bisanya dia mendapatkan calon menantu yang muda dan kaya, aku berharap keberuntungan itu tidak berpihak padanya. Dari dulu, dia selalu beruntung, mendapatkan apa yang aku inginkan, batin Maryati.
Beberapa ibu-ibu tampak melewati kontrakan Maryati, tapi mereka tak menyapa, hanya saling berbisik yang membuat Maryati kesal.
"Apa , lihat-lihat?" Teriak Maryati.
Ibu-ibu itu terburu-buru pergi, sikap Maryati yang terkadang kasar dan terkadang seperti wanita lansia yang tertindas membuat para tetangga merasa heran. Kepercayaan para ibu-ibu sekitar kontrakan pada wanita itu hilang, apalagi setelah tersebar undangan pertunangan Liana. Disana tercetak dengan jelas kalau foto calon Liana masih muda dan bukan om-om.
***
Titin yang geram saat mendengar majikannya difitnah oleh Maryati, seakan mendapat angin segar ketika menguping pembicaraan Nita.
Wanita itu langsung menyebarkan gosip baru itu agar Maryati merasa malu sendiri. Seakan ditampar oleh tangannya sendiri.
Benar saja, siang itu Titin melihat Maryati marah-marah pada ibu-ibu yang sedang berkumpul di dekat warung. Titin tertawa puas melihat itu semua, tak sampai disitu Titin terus menonton drama yang ada didepannya.
"Pergi kalian! Dasar mulut kalian itu bisanya cuma menyebarkan berita bohong, itu bukan anakku. Yang di berita itu bukan anakku!" teriak Maryati.
Saat Maryati emosi, dia sampai membawa batu besar untuk menakuti para ibu-ibu disana. Namun naas tubuhnya oleng dan terjatuh.
Bersambung ….
__ADS_1